Oleh: Asriaty Alda Zain
Opini Publik, Potretnusanatara.co.id – Bencana alam yang terjadi di bumi, mengingatkan kita bahwa di balik ketenangan bumi, terdapat kekuatan besar yang bergerak sesuai ketetapan Allah.
Dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW pernah terjadi gerhana matahari bersamaan dengan wafatnya putra Beliau, Ibrahim. Masyarakat mengaitkan keduanya, namun Nabi mengingatkan bahwa fenomena alam gerhana, gempa, atau lainnya, tidak terhubung dengan kematian atau urusan duniawi.
Alam bergerak sesuai sunnatullah, hukum yang telah Allah tetapkan sejak penciptaan.
Al-Qur’an juga menggambarkan peristiwa besar pada masa Nabi Nuh banjir besar terjadi di Mesopotamia wilayah cekungan sungai yang serong mengalami banjir besar secara alami.
Nabi Luth terjadi di daerah Sodom yang berada di jalur patahan geologi Laut Merah, salah satu yang paling aktif di Timur Tengah. Dan Nabi Syuaib terjadi di Yordania wilayah yang berada pada sistem patahan besar.
Semuanya terjadi di wilayah yang secara geologi rawan banjir, patahan bumi, atau gempa. Artinya, bencana bukan hanya kejadian fisik, tetapi juga pelajaran spiritual. Alam bergerak mengikuti hukum-Nya, tetapi di balik setiap kejadian ada pesan untuk manusia.
Indonesia sendiri berada pada posisi yang sangat unik dalam ilmu geologi. Negeri ini terletak di pertemuan tiga lempeng besar dunia: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Pertemuan lempeng inilah yang menyebabkan Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung api aktif serta rentan gempa dan tsunami, termasuk wilayah Aceh yang berada tepat di zona subduksi.
Beda daerah, beda potensi bencana. Sumatera dan Jawa rawan gempa dan tsunami karena berada di atas zona subduksi. Sulawesi rawan patahan geser seperti Palu. Kalimantan relatif aman karena berada di tengah lempeng jauh dari zona tumbukan yang memiliki resiko bencana alam jauh lebih rendah. Kondisi ini sudah melekat sejak ribuan tahun.
Kondisi serupa di wilayah Mandar Sulawesi Barat. Secara geologis, Mandar berada pada kawasan yang kompleks. Wilayah ini memiliki bentang alam pegunungan terbentuk dari proses tektonik yang panjang, serta garis pantai yang panjang menghadap Selat Makassar. Daerah pesisirnya menyimpan potensi dinamika laut yang kuat. Curah hujan tinggi, struktur tanah yang labil serta aktivitas patahan menjadikan sebagian wilayah Mandar rawan banjir bandang, longsor, gempa bumi dan potensi tsunami.
Semua ini telah menjadi bagian dari sunnatullah yang melekat sejak bumi diciptakan.
Kearifan lokal masyarakat Mandar yang menghormati laut, gunung, dan tanah sejatinya adalah bentuk kesadaran bahwa kita harus memahami dua sisi kehidupan; kebesaran hukum alam dan kasih sayang Tuhan.
Ajaran agama memerintahkan manusia untuk tidak merusak bumi. Dan memahami geologi merupakan ikhtiar dan tanggung jawab spiritual.
Semoga Allah memberikan keselamatan dalm hidup. Setiap musibah yang terjadi adalah jalan untuk kembali mengingat kebesaran-Nya.















