Opini

Hompimpa di Taman Sari Ekologi

×

Hompimpa di Taman Sari Ekologi

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Sebelum anak-anak menentukan siapa yang bermain lebih dulu, mereka mengangkat tangan dan mengucapkan satu kalimat sederhana: hompimpa alaihom gambreng.

Di dalam permainan kecil itu, tidak ada gelar, jabatan, kekayaan, atau asal-usul. Semua berdiri dalam satu lingkaran, menunggu hasil yang diterima bersama.

Malam itu, di Taman Sari Ekologi, saya merasa kami sedang melakukan hal yang sama.

Obrolan ini berlangsung di Sekretariat Yayasan Butta Porea Indonesia, lembaga yang menaungi gerakan Tanami Tanata’. Tempat itu menjadi ruang perjumpaan bagi para pemerhati lingkungan yang datang dengan latar belakang berbeda. Tidak ada agenda resmi. Tidak ada daftar pertanyaan. Tidak ada topik yang dipatok sejak awal. Percakapan bergerak seperti roller coaster: naik, turun, berbelok tajam, lalu tiba-tiba kembali ke persoalan yang sejak awal sebenarnya sedang kami bicarakan—bumi dan manusia.

Denny datang dengan cerita tentang sampah spesifik dari Jakarta. Ia adalah inisiator sekaligus CEO Jalatera, sebuah platform pengolahan sampah spesifik. Harisah membawa pengalaman dari Bulukumba melalui praktik permaculture dan inisiatif kebun bersama. Fadly Padi membawa cerita tentang urban farming melalui gerakan Tanami Tanata’, yang belakangan tumbuh di berbagai lorong Kota Makassar.

Saya sendiri datang membawa cerita tentang eco-enzyme, sampah, masyarakat, dan kegelisahan yang tak kunjung selesai.

Kami berbeda wilayah, berbeda pendekatan, berbeda pengalaman. Tetapi ada satu kesamaan sederhana: kami tidak ingin alam hanya menjadi cerita yang diwariskan kepada anak cucu. Kami ingin mereka masih memiliki alam yang layak diwarisi.

Sejak awal, percakapan itu terasa seperti hompimpa: setiap orang membawa telapak tangannya sendiri, tetapi hasilnya hanya bermakna ketika dibaca bersama. Dari situlah percakapan mengalir: dari benda-benda yang kita buang, menuju tanah yang menumbuhkan kehidupan, lalu ke kesadaran, kebudayaan, dan cara kita berbagi ruang di bumi.

Sampah yang Tidak Lagi Boleh Dipandang Sebagai Sampah

Denny memulai dari sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatian: sampah spesifik.

Kita terlalu sering memperlakukan sampah sebagai satu benda yang seragam. Begitu masuk kantong plastik, semuanya disebut sampah. Begitu diangkut truk, persoalan dianggap selesai.

Padahal sampah memiliki karakter, risiko, nilai ekonomi dan jalur pengolahan yang berbeda.

Ada sampah yang bisa dikomposkan. Ada yang dapat didaur ulang. Ada yang bisa menjadi bahan baku industri. Ada yang membutuhkan penanganan khusus karena mengandung bahan berbahaya atau memiliki karakteristik tertentu.

Di titik ini, ekonomi sirkular menjadi lebih dari sekadar jargon konferensi.

Ia menuntut perubahan cara berpikir: bahwa benda yang kita sebut “limbah” mungkin sebenarnya adalah sumber daya yang salah tempat.

Dari sini pembicaraan semakin liar.

Kami mulai membedah apa yang disebut red ocean dan blue ocean dalam pengelolaan lingkungan.

Red ocean adalah ruang yang sudah penuh sesak oleh pemain, kompetisi, dan model bisnis yang relatif mapan. Sementara blue ocean menawarkan ruang baru yang belum banyak digarap—menciptakan nilai dari persoalan yang sebelumnya dianggap tidak menarik.

Lingkungan memiliki keduanya.

Sampah plastik bernilai ekonomi tertentu sudah lama menjadi arena bisnis. Kertas, logam, kardus, bahkan minyak jelantah telah memiliki rantai pengumpulan dan pasar.

Tetapi bagaimana dengan sampah yang terlalu kecil nilainya untuk dipungut?

Bagaimana dengan material yang secara ekonomi dianggap tidak menarik tetapi secara ekologis menimbulkan persoalan?

Di situlah laut biru ekonomi sirkular mungkin berada: bukan sekadar mencari apa yang mahal dijual, tetapi menemukan cara agar sesuatu yang dianggap tidak bernilai dapat kembali memiliki fungsi.

Pertanyaan itu kemudian membawa kami pada persoalan yang lebih mendasar: ke mana sebenarnya sampah harus kembali? Jika sebagian sampah dapat menjadi sumber daya, maka kita perlu melihat bukan hanya nilai ekonominya, melainkan juga hubungan material itu dengan tanah, air, dan kehidupan.

Dari Sampah ke Tanah

Harisah membawa percakapan ke tempat yang berbeda: tanah.

Permaculture bukan semata teknik bercocok tanam. Ia menawarkan cara memandang ekosistem sebagai jaringan yang saling bergantung.

Tanah tidak berdiri sendiri. Air berhubungan dengan tanaman. Tanaman berhubungan dengan mikroorganisme. Mikroorganisme berhubungan dengan bahan organik. Manusia masuk ke dalam jaringan itu bukan sebagai penguasa tunggal, melainkan sebagai salah satu bagian.

Dengan cara pandang ini, sampah organik tidak lagi berhenti sebagai benda yang harus disingkirkan. Ia dapat kembali menjadi bagian dari siklus kehidupan.

Konsep kebun bersama kemudian menjadi menarik.

Di tengah kota yang semakin padat, kebun bukan hanya tempat menanam cabai, tomat atau sayuran. Ia dapat menjadi ruang sosial. Orang bertemu. Anak-anak belajar mengenal tanah. Sampah organik mendapatkan jalan pulang. Pangan tumbuh di sekitar rumah.

Fadly membawa percakapan itu ke Makassar melalui Tanami Tanata’.

Namanya sendiri terasa seperti sebuah ajakan: menanami tanah kita.

Gerakan urban farming pada akhirnya bukan hanya tentang ketahanan pangan. Ia juga menyentuh ketahanan sosial.

Sebuah lorong yang mampu menghasilkan sebagian pangannya sendiri, mengolah sampah organiknya sendiri, dan membangun kebersamaan warganya sendiri, sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada kebun.

Ia sedang membangun kemandirian.

Namun kemandirian itu tidak hanya lahir dari kebun dan sistem pengelolaan. Ia juga tumbuh dari kebiasaan sehari-hari—dari kesediaan untuk melihat kembali apa yang kita anggap sisa.

Eco-Enzyme dan Politik Kesadaran

Lalu percakapan kembali ke sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian saya: eco-enzyme.

Bagi sebagian orang, eco-enzyme mungkin hanya cairan hasil fermentasi bahan organik. Tetapi dalam gerakan akar rumput, ia dapat menjadi pintu masuk untuk mengubah cara manusia memandang sisa makanan.

Kulit buah yang biasanya masuk tempat sampah tiba-tiba memiliki cerita lain.

Ia difermentasi. Ia dipelihara. Ia ditunggu.

Ada proses kesabaran di sana.

Eco-enzyme karena itu menarik bukan hanya sebagai produk, melainkan sebagai medium pendidikan ekologis. Ia mengajarkan satu hal sederhana: sesuatu yang kita anggap selesai belum tentu benar-benar selesai.

Yang kita sebut sampah mungkin sedang menunggu kesempatan kedua.

Namun eco-enzyme juga tidak boleh ditempatkan sebagai obat segala persoalan lingkungan. Ia memiliki fungsi dan keterbatasan. Ia bukan pengganti sistem persampahan, bukan substitusi teknologi pengolahan limbah yang memang membutuhkan teknologi tertentu, dan bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban pemerintah membangun sistem dari hulu hingga hilir.

Justru di situlah letak maknanya.

Eco-enzyme dapat menjadi katalisator kesadaran, sementara sistem pengelolaan sampah tetap membutuhkan kebijakan, infrastruktur, pasar, teknologi, penegakan aturan dan perubahan perilaku.

Gerakan ekologis tidak akan selesai dengan satu botol cairan.

Ia harus berujung pada perubahan cara berpikir: bahwa keberlanjutan bukan hanya soal mengolah sisa, melainkan juga soal membangun hubungan baru antara manusia, benda, tanah, dan sesama.

Dari kesadaran itulah percakapan kemudian bergerak ke bahasa lain—bahasa yang tidak selalu menjelaskan, tetapi mampu membuat orang merasakan.

Kemudian Musik Masuk ke Meja Percakapan

Entah bagaimana, pembicaraan malam itu kemudian berbelok ke musik.

Fadly Padi, yang selama ini dikenal sebagai musisi, mulai membicarakan Taman Sari Indonesia, karya Franky Sahilatua yang kemudian dinyanyikan kembali oleh Musikimia.

Tiba-tiba sampah, ekonomi sirkular, permaculture, kebun bersama, urban farming, dan eco-enzyme seperti menemukan bahasa yang sama: taman.

Indonesia sebagai taman.

Taman tidak pernah indah karena hanya memiliki satu jenis bunga.

Ia indah karena ada banyak warna.

Ada bunga yang tinggi. Ada yang rendah. Ada yang harum. Ada yang tidak terlalu mencolok. Semuanya tumbuh di tanah yang sama.

Begitu pula Indonesia.

Keindahan kebhinekaan bukan karena semua orang harus menjadi sama, melainkan karena perbedaan dapat hidup dalam satu ruang tanpa saling mematikan.

Dan mungkin ekologi juga bekerja dengan prinsip yang sama.

Hutan tidak pernah bertahan karena hanya memiliki satu spesies. Sungai tidak hidup hanya karena air. Tanah tidak subur hanya karena tanah. Kehidupan berlangsung karena hubungan.

Ekosistem pada dasarnya adalah seni hidup bersama.

Manusia terlalu sering lupa bahwa dirinya juga bagian dari ekosistem itu.

Musik mengingatkan kami bahwa hubungan tersebut tidak hanya dapat dipahami melalui data dan teori. Ia juga dapat dirasakan melalui imajinasi, ingatan, dan simbol. Dari taman, percakapan pun sampai pada sebuah permainan masa kecil yang sederhana, tetapi menyimpan pelajaran tentang kesetaraan.

Lalu Muncul Satu Kata: Hompimpa

Pembicaraan kemudian sampai pada sebuah ungkapan yang mungkin lebih tua daripada banyak teori tentang demokrasi, kebhinekaan dan kesetaraan yang kita kenal hari ini:

Hompimpa alaihom gambreng.

Hampir semua anak Indonesia pernah mengenalnya.

Sebelum bermain, tangan diangkat. Telapak dibuka atau dibalik. Tidak ada yang membawa gelar. Tidak ada jabatan. Tidak ada kekayaan. Tidak ada latar belakang keluarga.

Yang ada hanya permainan.

Hompimpa.

Satu ritual kecil sebelum anak-anak menentukan siapa yang bermain lebih dulu, siapa yang menjadi pengejar, siapa yang mendapat giliran.

Ada berbagai penjelasan mengenai asal-usul dan makna ungkapan tersebut, sehingga tafsir spiritual seperti “dari Tuhan kembali kepada Tuhan” lebih tepat ditempatkan sebagai pemaknaan budaya yang berkembang, bukan sebagai satu-satunya etimologi yang sudah pasti.

Tetapi sebagai simbol, ia tetap menarik.

Anak-anak Indonesia lintas generasi pernah bertemu pada satu bahasa yang tidak membutuhkan penerjemah.

Mereka bermain bersama.

Tidak peduli Jawa, Bugis, Makassar, Sunda, Batak, Papua atau Melayu.

Tidak peduli kaya atau miskin.

Tidak peduli anak pejabat atau anak pedagang.

Sebelum permainan dimulai, semua berada dalam satu lingkaran.

Mungkin di situlah spiritualitas hompimpa menjadi relevan bagi ekologi.

Kita terlalu sering memulai pembangunan dengan menanyakan siapa yang paling berhak mendapatkan sesuatu.

Hompimpa mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih sederhana: sebelum menjadi pemilik, kita adalah sesama pemain dalam satu bumi.

Jika sampah mengajarkan kita untuk mengembalikan sesuatu ke dalam siklus, permaculture mengajarkan kita untuk melihat keterhubungan, eco-enzyme mengajarkan kesabaran, dan musik mengajarkan rasa, maka hompimpa mengajarkan cara berbagi ruang secara setara.

Keempatnya bertemu pada satu gagasan: bumi bukan kumpulan benda yang dapat dikuasai sendiri-sendiri, melainkan ruang bersama yang hanya dapat bertahan jika dirawat bersama.

Taman Itu Bukan Milik Satu Bunga

Saya kemudian membayangkan percakapan malam itu sebagai sebuah taman.

Denny adalah salah satu bunga yang tumbuh di Jakarta, membawa persoalan sampah spesifik.

Harisah tumbuh di Bulukumba dengan cerita tanah, permaculture, dan kebun bersama.

Fadly membawa benih Tanami Tanata’ ke lorong-lorong Makassar.

Eco-enzyme tumbuh dari kesadaran bahwa sisa organik tidak harus berakhir sebagai beban.

Musik memberi taman itu suara, sementara hompimpa mengingatkan bahwa tidak ada satu bunga pun yang berhak menguasai seluruh tanah.

Barangkali inilah yang sering hilang dalam diskursus lingkungan kita.

Kita terlalu sibuk menghitung sampah sampai lupa menghitung hubungan.

Kita menghitung tonase, tetapi lupa menghitung kepercayaan.

Kita menghitung luas lahan, tetapi lupa menghitung rasa memiliki.

Kita menghitung nilai ekonomi, tetapi lupa menghitung nilai kehidupan.

Padahal keberlanjutan tidak pernah lahir dari satu sektor.

Ia lahir dari perjumpaan.

Dari aktivis sampah yang bertemu petani kota. Dari musisi yang bertemu pegiat lingkungan. Dari pemerintah yang bertemu warga. Dari anak-anak yang belajar bahwa kulit buah pun dapat memiliki kehidupan kedua. Dari semua orang yang bersedia mengakui bahwa taman ini tidak dibangun oleh satu tangan.

Dan mungkin, pada akhirnya, kita semua hanya sedang mencari cara untuk kembali bermain di taman yang sama.

Taman itu bernama Indonesia.

Tanahnya sama.

Airnya sama.

Udara yang kita hirup juga sama.

Yang berbeda hanyalah bunga-bunga yang tumbuh di atasnya.

Maka jangan buru-buru mencabut bunga yang tidak sama dengan kita.

Rawat tanahnya.

Jaga airnya.

Biarkan setiap bunga tumbuh dengan warnanya.

Sebab ketika satu bunga mati, mungkin taman masih terlihat indah.

Tetapi ketika terlalu banyak bunga kehilangan tempat tumbuh, yang sebenarnya sedang mati bukan bunga.

Taman itu sendiri.

Pada akhirnya, bumi tidak meminta kita menjadi sama. Bumi hanya meminta kita berhenti merasa paling berhak atasnya.

Kita semua berdiri di lingkaran yang sama, menghirup udara yang sama, bergantung pada tanah dan air yang sama.

Maka mari berbagi ruang. Mari merawat yang tersisa. Mari menjaga taman ini—bukan karena ia milik kita, melainkan karena kehidupan setelah kita bergantung padanya.

Bumi bukan warisan untuk dihabiskan.

Ia adalah titipan yang harus kita kembalikan dalam keadaan tetap hidup.

Dan sebelum kita memutuskan siapa yang menang atau kalah, mari mengangkat tangan bersama:

Hompimpa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *