Cerita

GURUTTA DAN CAHAYA ILMU

×

GURUTTA DAN CAHAYA ILMU

Sebarkan artikel ini

Sebuah Catatan Perjalanan tentang Ilmu, Dunia dan Akhirat

Penulis: Syarif Larampang Parawali

Kisah Inspiratif, Potretnusantara.co.id – Ada orang yang kita temui dalam hidup hanya sebatas perkenalan. Ada pula orang yang kehadirannya meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sebuah pertemuan. Ia meninggalkan kalimat yang terus terngiang, nasihat yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian, atau bahkan sebuah cara pandang yang perlahan mengubah cara kita melihat kehidupan.





Bagi saya, Gurutta dr. Mukhtar Halim, Sp.B, adalah salah satu di antaranya.

Saya tidak serta-merta mengatakan bahwa beliau adalah salah satu putra terbaik yang dimiliki Soppeng hanya karena rasa kagum. Ada proses perjalanan, percakapan, pengamatan, dan pelajaran yang membuat saya sampai pada kesimpulan itu.

Saya memanggil beliau dengan sebutan Gurutta.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa seorang dokter spesialis bedah dipanggil Gurutta?

Bukankah gurutta adalah sebutan bagi guru, ulama, atau orang yang memiliki kedalaman ilmu dalam tradisi masyarakat Bugis?

Justru di situlah letak penghormatan saya.

Bagi saya, gelar akademik tidak pernah cukup untuk menggambarkan luasnya seseorang. Seorang dokter bisa saja hanya dikenal karena keahliannya mengobati tubuh. Tetapi seseorang yang memiliki ilmu, pengalaman, kebijaksanaan, dan kemauan membagikan pengetahuannya kepada orang lain dapat menyentuh sesuatu yang lebih dalam, cara manusia memahami kehidupan.

Dan itulah yang saya rasakan ketika berbincang dengan Gurutta.

Ia bukan hanya berbicara tentang bagaimana manusia menjalani dunia.

Ia mengingatkan saya tentang bagaimana manusia harus mempersiapkan akhirat.


Dunia Penting, Tetapi Akhirat Jangan Dilupakan

Suatu ketika, Gurutta berbicara kepada saya tentang kehidupan.

Kalimatnya sederhana, tetapi bagi saya memiliki kedalaman yang panjang:

“Dunia itu penting, tetapi akhirat jauh lebih penting”.

Saya kemudian teringat kepada sebuah doa yang hampir setiap Muslim mengenalnya. Doa yang sering disebut sebagai doa sapu jagat:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka”.
(QS. Al-Baqarah: 201) (Quran.com)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia. Kita tetap diperintahkan bekerja, belajar, membangun keluarga, menjadi profesional, menjadi dokter, guru, pengusaha, birokrat, akademisi, maupun profesi lainnya.

Tetapi dunia bukan tujuan terakhir.

Dunia adalah perjalanan.

Akhirat adalah tempat kembali.

Karena itu, doa tersebut tidak hanya meminta kebaikan dunia, tetapi juga kebaikan akhirat dan perlindungan dari api neraka. Dalam penjelasan tafsir, hasanah dunia dapat mencakup kesehatan, rezeki, ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, sedangkan kebaikan akhirat mencakup keselamatan dan kenikmatan akhirat. (Quran.com)

Dari sini saya belajar sesuatu dari Gurutta:

Kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di dunia, tetapi juga ke mana ia akan mempertanggungjawabkan semua yang telah diperolehnya.


Ketika Ilmu Menjadi Jalan Pulang

Gurutta juga pernah berbicara tentang ilmu.

Bagi saya, bagian ini justru terasa paling dalam.

Ia menceritakan bahwa perjalanan hidupnya tidak selalu berada di jalan yang mudah. Latar belakang keluarga yang sederhana bukan alasan untuk berhenti mengejar ilmu.

Ada sesuatu yang saya tangkap dari kisah tersebut:

Kesederhanaan bukan alasan untuk menyerah kepada keadaan.

Justru dari keterbatasan seseorang dapat belajar tentang perjuangan.

Ilmu tidak selalu datang kepada orang yang hidupnya serba mudah.

Kadang-kadang ilmu justru tumbuh dari kesulitan.

Dari perjalanan panjang.

Dari malam-malam yang dipenuhi kegelisahan.

Dari buku-buku yang dibaca ketika orang lain sedang tidur.

Dari keinginan untuk menjadi lebih baik daripada keadaan hari ini.

Dan ketika ilmu itu telah diperoleh, ukurannya bukan hanya gelar yang tertulis setelah nama.

Ilmu yang sejati semestinya membuat seseorang semakin rendah hati.

Semakin bermanfaat.

Semakin dekat kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat“.
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini memberikan perspektif yang berbeda tentang ilmu.

Ilmu bukan sekadar alat memperoleh pekerjaan.

Ilmu adalah amanah.

Ilmu adalah jalan kemuliaan ketika ia disertai iman dan amal.


Sabda Nabi tentang Orang yang Diberi Kebaikan

Saya semakin memahami mengapa Gurutta begitu menekankan pentingnya ilmu ketika teringat sebuah hadis Nabi Muhammad SAW:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama“.

Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari No. 71, dan juga diriwayatkan dalam Sahih Muslim. (Sunnah)

Kalimatnya pendek.

Tetapi maknanya panjang.

Rasulullah SAW menghubungkan kebaikan yang Allah berikan kepada seorang hamba dengan pemahaman terhadap agama.

Artinya, ilmu bukan sekadar kemampuan menjawab pertanyaan.

Ilmu adalah kemampuan memahami.

Memahami siapa diri kita.

Memahami untuk apa kita hidup.

Memahami batas antara yang benar dan yang salah.

Dan yang paling penting, memahami bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab moralnya.


Kisah Penggali Kubur dan Cahaya yang Tak Terduga

Ada satu kisah yang pernah disampaikan kepada saya.

Saya menuliskannya bukan sebagai riwayat hadis, melainkan sebagai kisah hikmah yang perlu dibaca sebagai pelajaran moral, karena saya tidak menemukan dasar primer yang cukup untuk memastikan kisah tersebut sebagai peristiwa historis yang sahih.

Konon, pada suatu hari seorang ibu meminta seorang penggali kubur untuk menggali makam anaknya yang telah meninggal dunia.

Penggali kubur itu pun menjalankan pekerjaannya.

Tanah digali.

Cangkul diayunkan.

Sedikit demi sedikit tanah makam terbuka.

Namun kemudian, sesuatu yang tidak biasa terjadi.

Penggali kubur itu melihat sesuatu yang membuatnya terdiam.

Ada cahaya yang tampak dari dalam makam.

Ia tertegun.

Apa yang terjadi?

Ia tidak segera mendapatkan jawabannya.

Waktu berjalan.

Pada suatu hari, ibu tersebut kembali dan meminta penggali kubur itu membuatkan makam untuk seorang anggota keluarganya yang lain.

Kali ini, rasa penasaran penggali kubur tersebut tidak dapat lagi dibendung.

Ia bertanya:

“Siapakah orang-orang yang berada di makam itu?”

Sang ibu menjawab bahwa mereka adalah anak-anaknya.

Kemudian ia menceritakan kehidupan mereka.

Mereka bukan orang-orang yang memiliki kemewahan luar biasa.

Tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga:

Mereka mencintai ilmu dan menuntut ilmu di jalan Allah.

Cerita itu membuat penggali kubur tersebut berpikir panjang.

Ia kemudian meninggalkan pekerjaannya.

Ia memilih berjalan mencari ilmu.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Sampai akhirnya, dalam kisah yang diceritakan kepada saya, orang tersebut menjadi seorang alim.

Benarkah kisah itu secara historis?

Saya memilih tidak memastikan sesuatu yang belum memiliki sumber primer yang kuat.

Tetapi sebagai ibrah, pesan moralnya sangat kuat:

Ada manusia yang meninggalkan dunia dengan harta, ada yang meninggalkan jabatan, tetapi ada pula yang meninggalkan ilmu yang terus menerangi kehidupan orang lain.


Jalan yang Tidak Pernah Sia-Sia

Kisah tersebut mengingatkan saya kepada hadis Nabi Muhammad SAW:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga“.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim No. 2699a. (Sunnah)

Kalimat ini terasa sangat dekat dengan kisah Gurutta.

Sebab ilmu yang ia perjuangkan bukan hanya menjadikannya seorang dokter.

Ilmu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Di satu sisi, ia mempelajari tubuh manusia.

Di sisi lain, ia mengingatkan manusia tentang jiwa.

Ia berdiri di antara ilmu kedokteran dan kesadaran spiritual.

Di ruang praktik, manusia datang membawa penyakit.

Dalam kehidupan, manusia datang membawa kegelisahan.

Dan seorang yang berilmu semestinya mampu memberikan lebih dari sekadar jawaban teknis.

Ia memberi arah.

Ia memberi ketenangan.

Ia memberi teladan.


Gurutta dalam Perspektif Bugis

Dalam tradisi Bugis, sebutan Gurutta tidak semata-mata soal profesi.

Ada penghormatan terhadap orang yang dituakan karena ilmu, akhlak, kebijaksanaan, dan kemampuannya memberi petunjuk.

Karena itu, bagi saya, menyebut dr. Mukhtar Halim sebagai Gurutta bukanlah upaya menambahkan gelar baru di depan namanya.

Ini adalah bentuk penghormatan pribadi.

Saya melihat ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar gelar Sp.B.

Ada perjalanan.

Ada ilmu.

Ada pengalaman.

Ada ketekunan.

Ada pesan moral.

Dan ada kesediaan untuk membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Buku-buku pendidikan Islam kontemporer juga menegaskan bahwa pendidikan dalam perspektif Islam tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi berkaitan dengan pembentukan karakter, akhlak, kepribadian, dan tanggung jawab manusia. (Google Books)

Kajian akademik terbaru pun menunjukkan bahwa pendidikan Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter, moral, dan spiritual di tengah perubahan sosial dan digital. (Jurnal UINSU)

Dengan demikian, pesan Gurutta tentang ilmu bukanlah sesuatu yang kehilangan relevansi.

Justru semakin relevan.


Di Zaman Ketika Semua Orang Ingin Terlihat Pintar

Hari ini kita hidup di zaman yang aneh.

Informasi begitu mudah ditemukan.

Satu sentuhan jari dapat membawa kita kepada ribuan artikel.

Satu video dapat membuat seseorang merasa menjadi ahli.

Satu unggahan media sosial dapat membuat orang merasa paling benar.

Tetapi informasi tidak selalu sama dengan ilmu.

Dan ilmu tidak selalu sama dengan kebijaksanaan.

Kita dapat memiliki banyak informasi tetapi miskin pemahaman.

Kita dapat memiliki banyak gelar tetapi miskin keteladanan.

Kita dapat berbicara tentang agama tetapi lupa menghadirkan akhlak.

Karena itu, pesan Gurutta terasa semakin penting:

belajarlah.

Bukan sekadar untuk mendapatkan gelar.

Belajarlah agar menjadi manusia yang bermanfaat.

Belajarlah agar ilmu yang kita miliki tidak hanya mengangkat nama kita, tetapi juga mengangkat kehidupan orang lain.

Sebuah penelitian tahun 2025 tentang kewajiban menuntut ilmu dalam perspektif Al-Qur’an dan hadis juga menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian penting dari pembentukan kehidupan keislaman. (E-Journal YPD Quran)

Penelitian lain pada 2025 bahkan menyoroti perlunya revitalisasi pemahaman hadis tentang ilmu untuk menjawab persoalan pendidikan Islam kontemporer. (jurnal.stiq-amuntai.ac.id)

Maka, pesan tentang ilmu bukan nostalgia masa lalu.

Ia adalah kebutuhan masa depan.


Ketika Gelar Tidak Lagi Menjadi Ukuran

Saya semakin yakin bahwa manusia pada akhirnya tidak dikenang karena berapa banyak gelar yang ia miliki.

Manusia dikenang karena manfaatnya.

Seorang dokter dikenang karena berapa banyak orang yang pernah ia bantu.

Seorang guru dikenang karena berapa banyak murid yang hidupnya berubah setelah bertemu dengannya.

Seorang ulama dikenang karena ilmu yang terus diamalkan setelah ia tiada.

Dan seorang manusia dikenang karena kebaikan yang pernah ia tinggalkan.

Barangkali inilah makna terdalam dari ilmu.

Ia membuat kita sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi yang paling tinggi.

Tetapi tentang menjadi yang paling bermanfaat.


Catatan yang Belum Selesai

Saya kembali kepada Gurutta.

Kembali kepada percakapan-percakapan yang pernah terjadi.

Kembali kepada pesan tentang dunia dan akhirat.

Kembali kepada cerita tentang kesederhanaan keluarga, perjuangan menuntut ilmu, dan bagaimana ilmu dapat mengubah perjalanan seseorang.

Barangkali saya belum memahami semua yang beliau sampaikan.

Barangkali beberapa nasihat baru akan saya pahami bertahun-tahun kemudian.

Sebab begitulah seorang guru.

Ia tidak selalu memberikan jawaban untuk hari ini.

Kadang-kadang ia memberikan kalimat yang baru kita mengerti ketika hidup telah membawa kita melewati banyak perjalanan.

Dan mungkin, itulah alasan saya memanggilnya Gurutta.

Bukan karena beliau harus disebut guru.

Tetapi karena dari beliau saya belajar.

Belajar bahwa dunia memang penting.

Namun akhirat lebih panjang.

Belajar bahwa ilmu adalah jalan yang tidak boleh berhenti.

Belajar bahwa kesederhanaan bukan alasan untuk menyerah.

Belajar bahwa gelar tidak berarti apa-apa tanpa manfaat.

Dan belajar bahwa manusia yang paling berharga bukan selalu mereka yang paling banyak memiliki sesuatu.

Tetapi mereka yang paling banyak memberikan sesuatu.

Mungkin suatu hari nanti, ketika kita semua telah meninggalkan dunia ini, yang tersisa bukanlah rumah yang pernah kita bangun, kendaraan yang pernah kita gunakan, jabatan yang pernah kita duduki, atau gelar yang pernah kita sandang.

Yang tersisa adalah amal.

Ilmu yang bermanfaat.

Doa dari orang-orang yang pernah kita bantu.

Dan kebaikan yang terus hidup setelah kita tidak lagi berada di dunia.

Sebagaimana doa yang selalu mengingatkan kita:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ وَفِى ٱلْـَٔاخِرَةِ حَسَنَةًۭ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia. Berikanlah kami kebaikan di akhirat. Dan lindungilah kami dari azab neraka”.

Sebab pada akhirnya, mungkin itulah perjalanan ilmu yang sesungguhnya:

Dari dunia menuju akhirat, dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dan dari menjadi seseorang menuju menjadi manusia yang bermanfaat.

Bersambung…

Referensi

  1. Fahrurrosi, Lingga, dkk. (2025). “Analisis Kewajiban Menuntut Ilmu Dalam Islam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis.” IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 3(1), 348–357. DOI tersedia pada laman jurnal. (E-Journal YPD Quran)
  2. Sunarsi, La Ode Ismail Ahmad, & Abdul Rahman Sakka (2025). “Revitalisasi Hadis Tentang Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Merespons Krisis Pendidikan Islam Kontemporer di Indonesia.” Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur’an dan Hadits, 4(2). (jurnal.stiq-amuntai.ac.id)
  3. Hakim, Arif Rahman, Aan Hasanah, & Bambang Samsul Arifin (2025). “Urgensi Pendidikan Karakter Perspektif Pendidikan Islam.” Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam, 8(1). (Jurnal Unissula)
  4. Sukmawati, Nur Ika (2025). “Analisis Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Budiman Siswa.” EDU-RILIGIA, 9(2). (Jurnal UINSU)
  5. Sopiah & Aan Fadia Annur (2024). Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Penerbit NEM. Buku ini membahas tujuan, filosofi, teori pembelajaran, serta pendidikan dalam perspektif Islam. (Google Books)
  6. Sukarji & Munardji (2024). Ilmu Pendidikan Islam: Menyibak Intisari Pendidikan Islam dan Relevansinya Terhadap Kemajuan Bangsa Indonesia. Garudhawaca. (Google Books)
  7. Sari Rahayu, dkk. (2024). Ilmu Pendidikan Islam. CV. Intake Pustaka. (Google Books)
  8. Muhaimin (2024). Wawasan Pendidikan Islam. Marja. Buku ini membahas pengembangan pendidikan Islam, pembelajaran, kurikulum, dan perguruan tinggi Islam. (Google Books)
  9. Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 201, tentang permohonan kebaikan dunia dan akhirat. (Quran.com)
  10. Sahih al-Bukhari No. 71, tentang keutamaan pemahaman agama sebagai tanda kebaikan dari Allah. (Sunnah)
  11. Sahih Muslim No. 2699a, tentang orang yang menempuh jalan mencari ilmu akan dimudahkan jalan menuju surga. (Sunnah)















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *