News

Pemuda Dari Polewali Mandar Terbitkan Buku Terbarunya, Kala Mahesa: Catatan Maba Pemberani 

×

Pemuda Dari Polewali Mandar Terbitkan Buku Terbarunya, Kala Mahesa: Catatan Maba Pemberani 

Sebarkan artikel ini

Potretnusanatara.co.id, Polewali Mandar  – Menjadi mahasiswa bukan sekadar duduk di ruang kuliah, membaca teori, dan mengejar nilai. Bagi penulis asal Polewali Mandar, Irfan, mahasiswa juga dituntut peka terhadap persoalan yang berlangsung di sekitarnya.

Gagasan itu dituangkan Irfan dalam buku keduanya berjudul KALA MAHESA: Catatan Maba Pemberani. Buku tersebut terbit pada 2026, setahun setelah buku pertamanya, Jalan Sunyi, diterbitkan pada 2025.





KALA MAHESA: Catatan Maba Pemberani masih bergerak dalam genre sosial-politik. Irfan mengangkat sejumlah persoalan yang bersinggungan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti konflik agraria, kemiskinan struktural, penggusuran, angka putus sekolah, hingga berbagai bentuk ketimpangan sosial.

Menurut Irfan, buku tersebut berangkat dari kegelisahannya melihat persoalan yang terus dihadapi masyarakat kecil.

“Buku ini saya tulis sebagai bentuk perenungan melihat kondisi-situasi yang dialami oleh orang kecil. Di luar sana masih sering terjadi perampasan tanah, konflik agraria, bahkan banyak yang harus kehilangan tempat tinggal,” ujar Irfan, Senin (17/8/2026).

Melalui buku itu, Irfan juga mengajak pembaca melihat kehidupan mahasiswa dari sisi yang berbeda. Kesibukan perkuliahan, aktivitas kampus, hingga rutinitas akademik, menurut dia, tidak semestinya membuat mahasiswa berjarak dengan persoalan masyarakat.

Mahasiswa, kata Irfan, tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas. Mereka perlu membaca keadaan di luar kampus dan memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama kelompok yang berada dalam posisi rentan.

“Menjadi Terpelajar Berarti Menjadi Manusia, Menjadi Manusia Berarti Menjadi Terpelajar,” kata Irfan.

Ia mengatakan gagasan dalam KALA MAHESA berkembang dari ruang-ruang diskusi dan pengamatan terhadap kondisi masyarakat. Sejumlah persoalan yang dibahas dalam buku itu, menurut dia, berangkat dari keadaan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.

Karena itu, Irfan tidak ingin bukunya berhenti sebagai bacaan. Ia berharap buku tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran, terutama di kalangan mahasiswa.

Ia secara khusus menyarankan KALA MAHESA: Catatan Maba Pemberani* dibaca mahasiswa baru. Menurut dia, masa awal menjadi mahasiswa merupakan momentum untuk memahami bahwa kehidupan kampus tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.

“Mahasiswa harus menyadari bahwa mahasiswa tetap bagian dari masyarakat. Mahasiswa mesti menyadari satu hal, bahwa ia tidak berarti apa-apa jika tidak peduli dengan ketimpangan yang terjadi,” katanya.

Irfan berencana membawa buku tersebut ke sejumlah kampus di Sulawesi Barat. Peluncuran dan diskusi KALA MAHESA direncanakan berlangsung di empat kampus, di antaranya di Polewali Mandar dan Majene.

Selain kampus, rangkaian kegiatan itu juga akan menyasar ruang-ruang diskusi yang dibangun penggiat literasi, komunitas mahasiswa, dan komunitas lainnya.

Melalui peluncuran dan diskusi tersebut, Irfan berharap KALA MAHESA tidak hanya menjadi buku tentang mahasiswa, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk membicarakan kembali hubungan mahasiswa dengan persoalan masyarakat.

Bagi Irfan, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang keluar dari ruang kelas. Ia harus berlanjut menjadi keberanian untuk melihat, memahami, dan merespons ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat.(*/Ifn)















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *