Novol Edisi ke-3
Oleh: Syarif Larampang Parawali
Kisah Inspiratif, Potretnusantara.co.id – Sekitar pukul 07.30 pagi. Taufan datang. Seperti biasa, tempat tinggal Syarif saat di Makassar bukan hanya menjadi tempat untuk beristirahat. Tempat itu juga menjadi ruang kecil tempat aktivitas kantor berlangsung. Sederhana, tetapi penuh cerita.
Kadang meja kerja menjadi meja makan.
Kadang ruang kerja berubah menjadi tempat diskusi.
Dan kadang, masalah hidup ikut masuk tanpa mengetuk pintu.
Pagi itu, sekitar pukul 08.00, Taufan melihat Syarif.
Ia memperhatikan sahabatnya beberapa saat.
“Saudara…”
“Iye?”
“Adamikah uang SPP ta’?”
Syarif tersenyum.
“Belum ada, Saudara”.
Taufan mengerutkan kening.
“Terus?”
Syarif menjawab dengan wajah santai.
“Uang dua ratus ribu yang dikasih Walli Akademis sudah saya kasih ke orang”.
Taufan terdiam.
Matanya membesar.
“HAH?”
Syarif tertawa.
“Iye”.
“Saudara…”
Taufan menggeleng-gelengkan kepala.
“Kita ini sedang cari uang SPP. Kenapa uang yang sudah ada malah dikasi orang?”
Syarif kembali tertawa.
“Saya pikir ada yang lebih membutuhkan”.
Taufan memandang Syarif beberapa detik.
Seolah sedang mencoba memahami cara kerja otak sahabatnya.
Kemudian ia ikut tertawa.
“Memang lain ini otakmu”.
Mereka tertawa bersama.
Namun, di balik tawa itu, ada kesedihan yang tidak mereka ucapkan.
Syarif sedang tidak punya uang.
Taufan pun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Rumah dan mobil kantornya sedang berada dalam incaran bank. Ada persoalan keuangan yang terus berputar di kepalanya.
Namun, anehnya, ketika berada di depan Syarif, Taufan tidak pernah menunjukkan badai yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Ia tetap tersenyum.
Tetap bercanda.
Tetap menjadi Taufan yang dikenal Syarif.
Barangkali begitulah persahabatan.
Kadang dua orang sama-sama sedang terluka, tetapi memilih tertawa agar yang lain tidak merasa sendirian.
Dan mungkin, ada orang-orang yang memang pandai menyembunyikan kesedihan di balik kalimat:
“Tidak apa-apa”.
Padahal di dalam hati, ia sedang berkata:
“Ya Allah, kuatkan saya”.
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286).
Ayat itu seperti menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki batas kemampuan.
Tetapi terkadang, kita baru mengetahui bahwa kita kuat setelah melewati sesuatu yang sebelumnya kita kira tidak mungkin kita lewati.
KITA MENGHADAP SENIOR
Taufan akhirnya berdiri.
Ia seperti sudah mengambil keputusan.
“Kalau begitu, kita menghadap senior.”
Syarif menatapnya.
“Senior siapa?”
“Senior.”
“Bisa bantu?”
Taufan tersenyum.
“Jangan banyak tanya.”
Syarif tertawa.
“Kalau tidak bisa bagaimana?”
Taufan menjawab santai.
“Ya kita pulang.”
“Terus UKT saya?”
“Ya… kita pikirkan lagi.”
Syarif tertawa.
Kadang manusia memang begitu.
Ketika masalah belum punya solusi, ia membuat lelucon agar masalah itu terasa sedikit lebih ringan.
Mereka pun berangkat.
Taufan berjalan seperti orang yang yakin semuanya akan baik-baik saja.
Padahal mungkin, di dalam hatinya sendiri, ia sedang tidak baik-baik saja.
Syarif memperhatikan langkah sahabatnya.
Ada sesuatu yang membuatnya kagum.
Taufan pernah menjadi Presiden Mahasiswa.
Ia pernah memimpin organisasi besar.
Ia tahu bagaimana berbicara.
Ia tahu bagaimana berdiplomasi.
Ia tahu bagaimana mempertemukan dua kepentingan yang berbeda.
Hari itu kemampuan itu kembali digunakan.
Namun bukan untuk memenangkan pemilihan.
Bukan untuk mempertahankan jabatan.
Bukan untuk memperjuangkan kepentingan organisasi.
Melainkan untuk sesuatu yang tampak sederhana, tetapi sangat berarti bagi seorang sahabat:
Mencari jalan agar Syarif bisa membayar UKT.
Mungkin bagi sebagian orang, membantu membayar UKT bukanlah sesuatu yang besar.
Tetapi bagi orang yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan, bantuan kecil bisa terasa seperti tangan yang menariknya dari jurang.
REZEKI YANG DATANG DARI ARAH YANG TIDAK DISANGKA
Mereka akhirnya bertemu seorang senior.
Percakapan dimulai.
Taufan berbicara.
Tidak panjang.
Tidak berlebihan.
Tidak pula dengan wajah memelas.
Ia hanya menjelaskan keadaan.
Ia tahu bagaimana menyampaikan persoalan tanpa membuat orang lain merasa sedang dipaksa.
Syarif hanya duduk.
Diam.
Ia tidak banyak bicara.
Dalam hati ia berkata:
“Ya Allah…”
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ia hanya tahu bahwa dirinya sudah berusaha.
Dan terkadang, setelah manusia melakukan segala yang mampu dilakukan, satu-satunya hal yang tersisa adalah berserah diri.
Beberapa saat kemudian, sesuatu yang tidak disangka terjadi.
Ada jalan.
Ada bantuan.
Ada rezeki.
UKT yang sebelumnya membuat Syarif hampir menyerah akhirnya dapat dibayarkan.
Hari Jumat itu menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah ia lupakan.
Ia pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Bukan karena tiba-tiba menjadi kaya.
Bukan.
Ia justru pulang membawa sebuah pelajaran.
Pertolongan Allah tidak selalu datang melalui pintu yang kita tunggu.
Kadang melalui sahabat.
Kadang melalui senior.
Kadang melalui keluarga.
Kadang melalui orang yang bahkan tidak pernah kita sangka akan membantu.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. (QS. At-Talaq: 2–3).
Syarif mulai memahami bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk uang.
Rezeki bisa berupa seorang sahabat yang datang tepat waktu.
Rezeki bisa berupa seseorang yang berkata:
“Jangan menyerah. Kita cari jalan”.
Rezeki bisa berupa istri yang tetap menunggu.
Rezeki bisa berupa orang tua yang terus mendoakan.
Dan rezeki terbesar mungkin adalah ketika Allah masih memberikan kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
PEREMPUAN YANG SELALU MENUNGGU
Namun perjalanan S2 tidak hanya berisi cerita tentang uang.
Ada hari-hari ketika Syarif pulang dengan kepala penuh.
Ada tesis yang belum selesai.
Ada pekerjaan.
Ada keluarga.
Ada tanggung jawab.
Ada deadline.
Dan ada satu makhluk bernama revisi yang entah mengapa selalu punya cara untuk datang kembali.
Ketika Syarif pulang, istrinya tidak selalu bertanya:
“Sudah selesai?”
Kadang ia hanya bertanya:
“Sudah makan?”
Pertanyaan sederhana itu sering kali lebih menenangkan daripada seribu nasihat.
Syarif tersenyum.
“Belum”.
“Kenapa?”
“Tesis”.
Istrinya menghela napas.
“Lagi-lagi tesis”.
Syarif tertawa.
“Dia itu seperti anggota keluarga baru”.
Istrinya menatapnya.
“Kalau begitu suruh dia bayar listrik”.
Syarif terdiam.
Lalu tertawa.
“Wah, tesis belum selesai, sudah disuruh cari uang.”
Mereka tertawa bersama.
Tetapi setelah tawa itu selesai, istrinya tetap menjadi orang yang menemaninya.
Tidak selalu dengan kata-kata.
Kadang hanya dengan memahami.
Kadang dengan doa.
Kadang dengan secangkir minuman.
Kadang dengan membiarkan Syarif duduk sendiri ketika pikirannya sedang penuh.
Dan mungkin itulah cinta yang sebenarnya.
Bukan selalu tentang kata-kata besar.
Bukan selalu tentang hadiah.
Bukan pula tentang hidup yang selalu sempurna.
Tetapi tentang seseorang yang tetap berada di samping kita ketika hidup sedang tidak mudah.
Sebab ada orang yang datang ketika kita sukses.
Tetapi ada orang yang tetap tinggal ketika kita bahkan tidak tahu apakah besok kita masih sanggup melanjutkan perjuangan.
ORANG-ORANG YANG TIDAK MASUK DALAM FOTO
Dalam perjalanan itu, ada banyak nama.
Ada Bilqis.
Sosok keluarga yang tidak banyak bicara, tetapi banyak membantu.
Ada Walli Akademis.
Seseorang yang suatu hari mengirim dua ratus ribu tanpa banyak bertanya.
Uang yang mungkin bagi sebagian orang tidak seberapa.
Tetapi bagi Syarif, uang itu pernah menjadi harapan.
Walaupun kemudian uang itu justru berpindah ke tangan orang lain yang lebih membutuhkan.
Ada Taufan.
Seorang sahabat yang datang bukan dengan membawa solusi di dalam saku, tetapi membawa keberanian:
“Ayo kita cari jalan”.
Dan ternyata, terkadang manusia tidak membutuhkan seseorang yang langsung membawa solusi.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berjalan bersamanya mencari solusi.
Ada pula banyak orang lain.
Terlalu banyak.
Syarif bahkan pernah berpikir:
“Kalau semua nama mereka saya tulis, mungkin satu halaman ucapan terima kasih tidak cukup”.
Maka kepada para donatur, sahabat, keluarga, senior, dan semua orang yang pernah memberikan bantuan selama perjalanan S2 itu, Syarif hanya mampu berkata:
“Maaf jika namamu tidak sempat kutulis”.
“Bukan karena aku lupa”.
“Justru karena aku tidak ingin mengukur kebaikanmu hanya dengan beberapa baris tulisan”.
Sebab ada kebaikan yang terlalu besar untuk diringkas dalam sebuah nama.
Ada pertolongan yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi dikenang bertahun-tahun.
Ada pesan singkat yang dikirim pada saat yang tepat.
Ada uang yang diberikan ketika dompet sedang kosong.
Ada doa yang tidak pernah terdengar telinga, tetapi mungkin sampai kepada langit.
Dan ada orang-orang yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam foto kelulusan.
Namun tanpa mereka, mungkin foto itu tidak pernah ada.
KEBAIKAN YANG TIDAK PERNAH HILANG
Syarif kemudian memahami satu hal.
Dalam perjalanan hidup, manusia sering menghitung apa yang ia dapatkan.
Berapa uang yang masuk.
Berapa nilai yang diperoleh.
Berapa orang yang datang.
Berapa orang yang pergi.
Tetapi Allah mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Allah berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya”. (QS. Az-Zalzalah: 7).
Mungkin manusia lupa.
Tetapi Allah tidak lupa.
Mungkin nama seseorang tidak tertulis dalam tesis.
Tetapi kebaikannya bisa saja tertulis dalam catatan amal.
Mungkin bantuan itu hanya dua ratus ribu.
Tetapi nilainya di hadapan Allah bukan sekadar angka.
Mungkin seseorang hanya berkata:
“Semangat, jangan menyerah”.
Tetapi kalimat itu bisa menjadi alasan seseorang untuk bangkit.
Dan mungkin Taufan sendiri tidak pernah menyadari betapa besar arti langkahnya pagi itu.
Ia hanya merasa sedang membantu seorang sahabat.
Padahal bagi Syarif, hari itu adalah salah satu titik yang membuatnya kembali percaya:
Perjuangan belum selesai.
KETIKA SEMUA TERASA MUSTAHIL
Malam itu Syarif duduk sendirian.
Ia membuka laptop.
Tesis masih terbuka.
Beberapa halaman belum selesai.
Ada revisi.
Ada pekerjaan.
Ada kewajiban.
Ada banyak hal yang belum beres.
Ia menghela napas.
Kemudian tersenyum kecil.
“Masih hidup ternyata”.
Ia tertawa sendiri.
“Berarti masih bisa lanjut”.
Di situlah ia sadar.
Selama manusia masih diberi kesempatan untuk bangun, sebenarnya cerita belum selesai.
Allah berfirman:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.
(QS. Al-Insyirah: 5–6).
Bukan berarti hidup akan selalu mudah.
Tetapi setiap kesulitan memiliki ruang yang Allah sediakan untuk kemudahan.
Kadang ruang itu berupa seseorang.
Kadang berupa kesempatan.
Kadang berupa rezeki.
Kadang berupa kesabaran.
Dan kadang berupa kekuatan yang tiba-tiba muncul ketika kita merasa sudah tidak memiliki tenaga.
Syarif kembali menatap layar laptop.
Ia mengetik satu kalimat.
Lalu berhenti.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
“Ini tesis apa hubungan kita?”
Ia tertawa sendiri.
Kemudian mengetik kembali.
Kali ini tidak dihapus.
Sebab ia tahu:
Tesis bisa direvisi, tetapi perjuangan tidak boleh dihentikan hanya karena revisi.
KARENA PERJALANAN INI BUKAN HANYA MILIK SYARIF
Semakin jauh perjalanan itu, semakin Syarif memahami bahwa gelar yang kelak ia dapatkan bukan hanya hasil dari kemampuannya sendiri.
Di belakangnya ada doa.
Ada air mata.
Ada pengorbanan.
Ada orang-orang yang meminjamkan waktu.
Ada orang-orang yang meminjamkan tenaga.
Ada orang-orang yang meminjamkan harapan.
Dan ada Allah yang membuka pintu ketika semua pintu manusia terasa tertutup.
Karena itu, jika suatu hari Syarif berdiri dengan toga di kepalanya, mungkin ia tidak akan merasa sedang berdiri sendirian.
Ia akan merasa ada banyak orang yang berdiri bersamanya.
Orang-orang yang mungkin tidak terlihat.
Orang-orang yang namanya tidak tertulis.
Orang-orang yang fotonya tidak pernah ada.
Tetapi kebaikannya menjadi bagian dari perjalanan itu.
Dan mungkin, inilah pelajaran paling penting dari perjalanan panjang tersebut:
Jangan pernah merasa perjuanganmu hanya milikmu sendiri.
Bisa jadi, ada doa seseorang yang sedang mengantarmu menuju keberhasilan.
Bisa jadi, ada tangan yang diam-diam membantumu ketika kamu hampir jatuh.
Dan bisa jadi, suatu hari nanti, Allah akan membuatmu menjadi tangan yang menolong orang lain sebagaimana dahulu kamu pernah ditolong.
Sebab hidup bukan hanya tentang bagaimana kita berhasil sampai di tujuan.
Tetapi juga tentang:
Siapa yang kita bantu sepanjang perjalanan.
Bersambung…







