Cerita

“S2 yang Terlihat Biasa di Mata Orang”, tetapi Menyimpan Perjuangan Panjang yang Tidak Semua Orang Tahu

×

“S2 yang Terlihat Biasa di Mata Orang”, tetapi Menyimpan Perjuangan Panjang yang Tidak Semua Orang Tahu

Sebarkan artikel ini

Oleh: Syarif Larampang Parawali

Kisah Inspiratif, Potretnusantara.co.id – Ada perjuangan yang ketika selesai hanya terlihat sebagai sebuah gelar.

Orang mungkin hanya melihat toga, senyum, foto wisuda, lalu membaca beberapa huruf di belakang nama: S.Pd., M.Pd.

Bagi sebagian orang, mungkin itu biasa saja.

Namun bagi orang yang menjalaninya, perjalanan menuju gelar tersebut bisa menjadi bagian paling berharga dari perjalanan hidupnya.

Begitulah kisah Syarif.

Lahir di Desa Tumpiling, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada 27 Desember 1988, Syarif merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara. Ia tumbuh melalui perjalanan pendidikan yang panjang, dimulai dari SDK Wonorjo, kemudian menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Syekh Hasan Yamani hingga jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Pada 2007, ia melanjutkan pendidikan Strata Satu (S1) di UIN Alauddin Makassar, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Enam tahun kemudian, pada 2013, pendidikan sarjananya diselesaikan dengan predikat Memuaskan.

Tetapi perjalanan itu ternyata belum berakhir.

Pada 2024, Syarif kembali menjadi mahasiswa. Kali ini ia memilih Program Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Di tengah perjalanan hidup sebagai seorang suami, ayah, pekerja, aktivis, dan bagian dari masyarakat, ia kembali duduk di bangku kuliah.

Di situlah perjuangan sebenarnya kembali dimulai.


Sebelum Menjadi Magister, Ada Proses Panjang Menjadi Manusia yang Belajar

Perjalanan Syarif tidak hanya dibentuk oleh ruang kuliah.

Sejak 2007, ia telah memasuki dunia perkaderan melalui Basic Training LK I HMI Komisariat Tarbiyah UIN Alauddin Makassar.

Setahun kemudian, ia mengikuti Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Gowa Raya.

Perjalanan perkaderan itu kemudian berlanjut pada Advanced Training (LK III) BADKO HMI Sulselbar pada 2014.

Ia juga mengikuti perkaderan Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (PP-KPMP).

Dari proses tersebut, ia tidak hanya belajar mengenai organisasi, tetapi juga tentang kepemimpinan, tanggung jawab, perbedaan pendapat, kerja sama, pengabdian, dan bagaimana berdiri di tengah masyarakat.

Pengalaman itu kemudian membawanya dipercaya mengemban sejumlah amanah organisasi.

Ia pernah menjadi Ketua HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar periode 2009–2010.

Setelah itu, ia dipercaya sebagai Ketua Umum BEM Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar periode 2010–2011.

Pada 2012–2014, ia kembali mengemban amanah sebagai Ketua I dan Sekretaris Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (PP-KPMP).

Tidak berhenti di sana, pada 2014–2015 ia dipercaya menjadi Ketua Umum Pospera Kabupaten Mamuju.

Bagi sebagian orang, daftar tersebut mungkin hanya terlihat sebagai barisan jabatan dalam sebuah riwayat hidup.

Tetapi sebenarnya, di balik setiap jabatan ada proses.

Ada rapat.

Ada perdebatan.

Ada tanggung jawab.

Ada kritik.

Ada keputusan yang harus diambil.

Ada kepentingan banyak orang yang harus dipikirkan.

Dan ada masa ketika seorang pemimpin harus belajar mengalah demi kepentingan yang lebih besar.


Dari Organisasi, Masuk ke Dunia Kerja dan Pengabdian

Perjalanan hidup tidak berhenti di dunia organisasi.

Syarif juga menjalani perjalanan profesional yang cukup panjang.

Pada 2015–2019, ia dipercaya sebagai Direktur PT Media Potret SULBAR.

Di tengah perjalanan tersebut, pada 2016–2019 ia juga menjadi Direktur CV Berlian.

Dunia media, organisasi, dan usaha tentu memiliki tantangannya masing-masing.

Ada target yang harus dicapai.

Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Ada orang lain yang menggantungkan harapan.

Kemudian pada 2019–2024, Syarif memilih memasuki dunia pendidikan dengan mengajar di MTsS Pergis Ganra.

Menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran.

Ada karakter anak yang harus dibentuk.

Ada peserta didik yang harus dipahami.

Ada orang tua yang harus dihadapi.

Ada tanggung jawab moral untuk memastikan ilmu yang diberikan tidak berhenti di ruang kelas.

Dan menariknya, pengalaman mengajar itulah yang kemudian memiliki hubungan erat dengan tesis magister yang disusunnya.

Ia mengangkat penelitian berjudul:

“Pengaruh Kompetensi Guru Sejarah Kebudayaan Islam terhadap Pembentukan Karakter Peserta Didik di Madrasah Tsanawiyah Swasta Perguruan Islam Ganra Kecamatan Ganra Kabupaten Soppeng.”

Dengan kata lain, tesis tersebut bukan lahir dari ruang kosong.

Ada pengalaman sebagai pendidik yang ikut mewarnai proses akademiknya.


Dari Ruang Kelas ke Ruang Pemerintahan

Sejak 2019 hingga sekarang, Syarif juga menjalani pekerjaan sebagai staf di Kantor Sekretariat DPRD Kabupaten Soppeng.

Jika perjalanan tersebut dilihat secara utuh, ada sesuatu yang menarik.

Syarif pernah menjadi mahasiswa.

Pernah menjadi aktivis.

Pernah menjadi pemimpin organisasi mahasiswa.

Pernah memimpin organisasi kepemudaan.

Pernah bergelut dalam dunia media.

Pernah menjalankan usaha.

Pernah menjadi guru.

Dan kini menjalani tugas sebagai staf di lingkungan Sekretariat DPRD Kabupaten Soppeng.

Semua pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak mungkin dibeli hanya dengan sebuah gelar.


Lalu, Mengapa Masih Harus S2?

Mungkin ada orang yang bertanya:

“Bukankah sudah S1? Mengapa harus kuliah lagi?”

Pertanyaan itu mudah diucapkan oleh orang yang tidak menjalani perjalanan tersebut.

Tetapi manusia memiliki alasan masing-masing untuk terus belajar.

Bagi sebagian orang, pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan.

Bukan hanya tentang mengejar jabatan.

Bukan pula sekadar menambah huruf di belakang nama.

Pendidikan adalah cara seseorang memperbaiki dirinya.

Memperluas cara berpikir.

Memahami kehidupan.

Dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, ketika pada 2024 Syarif kembali memilih menjadi mahasiswa S2, keputusan tersebut sebenarnya bukan langkah kecil.

Ia kembali memasuki dunia akademik setelah memiliki keluarga, pekerjaan, pengalaman organisasi, dan tanggung jawab sosial.

Ia harus membagi waktu antara kehidupan, pekerjaan, keluarga, dan tesis.

Itulah yang sering tidak terlihat.


Yang Terlihat Hanya Hasil, Bukan Perjuangannya

Dokumen resmi Pascasarjana UIN Alauddin Makassar mencatat bahwa Syarif menjalani Ujian Akhir Tesis pada 6 Agustus 2026 dengan tesis yang sama tentang kompetensi guru Sejarah Kebudayaan Islam dan pembentukan karakter peserta didik.

Keputusan Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar juga menyatakan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah memenuhi syarat untuk menempuh Ujian Akhir Tesis Magister.

Secara administratif, semua itu mungkin hanya beberapa baris dalam dokumen.

Namun di balik dokumen itu ada hampir dua tahun perjalanan.

Ada kuliah.

Ada tugas.

Ada penelitian.

Ada pengumpulan data.

Ada bimbingan.

Ada revisi.

Ada ujian.

Ada penantian.

Dan ada doa.

Dokumen yudisium yang dibagikan menunjukkan hasil akhir nilai 4,00 dengan predikat Cum Laude, dengan masa studi yang tercatat sekitar 1 tahun 11 bulan 5 hari.

Angka-angka itu mungkin hanya angka.

Tetapi bagi Syarif, angka tersebut merupakan jejak dari sebuah perjuangan.


Ada Istri dan Anak yang Ikut Menjadi Bagian dari Perjuangan

Di dalam riwayat hidupnya, Syarif menyebut istrinya, Hamsina Nursam, serta putrinya, Alifah Azzahra, sebagai bagian penting yang memberikan doa, dukungan, semangat, dan motivasi.

Kalimat itu mungkin terlihat sederhana.

Namun keluarga sering kali menjadi orang yang paling banyak merasakan dampak dari sebuah perjuangan yang panjang.

Ketika seorang mahasiswa harus belajar, keluarga ikut menunggu.

Ketika harus menyelesaikan tesis, ada waktu bersama keluarga yang mungkin harus dikurangi.

Ketika pikiran penuh dengan penelitian dan revisi, keluarga menjadi tempat kembali.

Maka ketika perjuangan itu akhirnya selesai, sesungguhnya bukan hanya seorang mahasiswa yang berhasil.

Ada keluarga yang ikut berhasil melewati perjalanan tersebut.


Tidak Semua Orang Harus Tahu Betapa Beratnya Perjuangan Kita

Mungkin setelah semua selesai, tidak semua orang akan memahami apa yang telah dilalui.

Mungkin ada yang berkata:

“S2 saja.”

Mungkin ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang biasa.

Mungkin ada yang hanya melihat foto wisuda.

Tidak masalah.

Sebab kita tidak harus menjelaskan seluruh perjuangan kita kepada semua orang.

Ada perjuangan yang cukup kita dan Allah yang tahu.

Ada malam-malam yang tidak perlu diceritakan.

Ada air mata yang tidak perlu diperlihatkan.

Ada rasa lelah yang tidak perlu diumumkan.

Dan ada doa yang hanya terdengar di dalam hati.

Karena pada akhirnya, nilai sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang mengetahuinya.


S2 Bukan Akhir, tetapi Bukti Bahwa Tidak Menyerah

Perjalanan Syarif menunjukkan bahwa pendidikan adalah perjalanan panjang.

Dari anak kedua dari sembilan bersaudara di Desa Tumpiling.

Dari pesantren.

Menjadi mahasiswa S1.

Menjadi aktivis.

Menjadi pemimpin organisasi mahasiswa.

Menjadi pengurus organisasi daerah.

Menjadi pimpinan organisasi sosial.

Menjadi direktur media.

Menjadi direktur perusahaan.

Menjadi guru.

Menjadi staf di Sekretariat DPRD.

Dan kemudian kembali menjadi mahasiswa S2.

Semua itu bukan perjalanan yang sebentar.

Semua itu adalah rangkaian kehidupan.

Dan mungkin, jika suatu saat gelar M.Pd. tertulis di belakang nama Syarif, tidak banyak orang yang akan tahu cerita lengkap di baliknya.

Tidak apa-apa.

Sebab pemilik perjuangan tahu.

Keluarga tahu.

Dan yang paling penting, Allah tahu.


Untuk Mereka yang Sedang Berjuang

Tulisan ini bukan hanya tentang Syarif.

Ini tentang siapa saja yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan.

Tentang mahasiswa yang mungkin hari ini sedang membuka laptop dengan mata lelah.

Tentang orang tua yang masih berusaha membiayai anaknya.

Tentang suami atau istri yang harus membagi waktu antara keluarga dan pendidikan.

Tentang pekerja yang kuliah setelah menyelesaikan pekerjaan.

Tentang guru yang masih ingin belajar.

Tentang mereka yang pernah hampir menyerah tetapi kembali membuka lembaran tesisnya.

Jangan berkecil hati jika perjuanganmu tidak dipuji.

Jangan merasa gagal hanya karena orang lain tidak memahami perjalananmu.

Jangan merasa perjuanganmu sia-sia hanya karena orang lain menganggap hasilnya biasa.

Karena sesuatu yang sangat berharga memang sering kali tidak terlihat mahal dari luar.

Orang hanya melihat gelarnya.
Kita yang tahu perjuangannya.

Orang hanya melihat hari kelulusan.

Kita yang tahu berapa banyak hari yang harus dilewati sebelum sampai ke sana.

Dan jika akhirnya nanti toga dikenakan, gelar disematkan, dan nama dipanggil sebagai seorang Magister, mungkin tidak perlu terlalu banyak berkata-kata.

Cukup menundukkan kepala dan bersyukur.

Sebab perjalanan panjang itu telah selesai.

Dan kepada diri sendiri, mungkin hanya perlu berkata:

“Terima kasih sudah bertahan. Terima kasih sudah tidak menyerah. Mungkin di mata orang lain ini biasa saja, tetapi bagiku, ini adalah salah satu perjuangan paling berharga dalam hidup.”

Sebab gelar M.Pd. bukan hanya tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan.

Ia adalah tanda bahwa di tengah kesibukan, tanggung jawab, usia, pekerjaan, keluarga, organisasi, dan berbagai persoalan kehidupan ia masih memilih untuk belajar dan tidak menyerah.

Dan mungkin, itulah makna S2 yang sebenarnya.

Bersambung…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *