Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Polewali Mandar menyoroti kesiapan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Pemerintah daerah dinilai belum memiliki langkah antisipatif yang memadai untuk melindungi lahan pertanian dan petani dari dampak perubahan iklim.
Ketua PMII Polewali Mandar, Jihad, mengatakan ancaman kekeringan semestinya telah diantisipasi pemerintah. Menurut dia, El Nino bukan fenomena yang muncul tanpa peringatan sehingga pemerintah daerah seharusnya menyiapkan mitigasi sebelum dampaknya meluas.
Data Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan Polewali Mandar menunjukkan 1.084,18 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan. Sebanyak 719 hektare di antaranya masuk kategori terdampak berat.
Di Kecamatan Binuang, misalnya, dari 816,25 hektare areal tanam padi pada musim tanam kedua 2026, sebanyak 512,96 hektare telah terdampak kekeringan.
“Fenomena El Nino bukan kejadian yang datang tiba-tiba. Pemerintah seharusnya sudah memiliki langkah mitigasi jauh sebelum dampaknya dirasakan petani. Ketika ratusan hektare sawah mengalami kekeringan, itu menunjukkan lemahnya kesiapsiagaan pemerintah daerah,” kata Jihad, Minggu (26/7/2026).
Menurut Jihad, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab memastikan ketersediaan air bagi petani, terutama ketika pemerintah pusat menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu program prioritas nasional. Upaya itu, kata dia, dapat dilakukan melalui optimalisasi jaringan irigasi, pembangunan embung, penyediaan pompa air, hingga penyusunan sistem mitigasi kekeringan.
“Ketahanan pangan tidak akan terwujud jika pemerintah daerah hanya bergerak setelah sawah mengering. Yang dibutuhkan adalah perencanaan dan kesiapan menghadapi El Nino, bukan sekadar penanganan setelah kerugian terjadi,” ujarnya.
PMII Polewali Mandar mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk menyelamatkan lahan pertanian yang masih dapat dipertahankan. Pemerintah juga diminta menyusun strategi jangka panjang untuk menghadapi ancaman kekeringan yang berulang akibat perubahan iklim.
“Petani tidak boleh terus menjadi korban karena lemahnya antisipasi pemerintah. Jika ancaman El Nino sudah diketahui, pemerintah juga harus siap dengan solusi. Itulah wujud nyata komitmen terhadap ketahanan pangan nasional,” kata Jihad.














