Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Tidak ada peradaban besar yang lahir dari tumpukan sampah. Sebaliknya, setiap peradaban yang bertahan selalu dimulai dari kemampuannya menghormati ruang hidupnya sendiri.
Di tengah kabar tentang gunungan sampah yang memenuhi berbagai kota di Indonesia, Desa Gulingan di Kabupaten Badung, Bali, justru menghadirkan kabar yang menenangkan. Bukan karena mereka memiliki teknologi paling mutakhir. Bukan pula karena mereka membangun insinerator bernilai ratusan miliar rupiah. Mereka hanya melakukan sesuatu yang tampak sederhana: mengembalikan tanggung jawab sampah kepada tempat pertama ia dilahirkan rumah tangga.
Hasilnya mengejutkan. Sampah berserakan berkurang hingga 90 persen.
Angka itu sesungguhnya bukan sekadar statistik. Ia adalah ukuran kedewasaan sebuah masyarakat.
Kita terlalu lama memandang sampah sebagai persoalan teknis. Padahal, ia lebih dahulu merupakan persoalan budaya.
Ketika seseorang membuang sampah sembarangan, yang gagal bukan hanya sistem pengangkutan. Yang retak adalah hubungan manusia dengan lingkungan tempat ia hidup. Sebaliknya, ketika seseorang memilah sampah sejak dari dapur, sesungguhnya ia sedang mengakui bahwa setiap benda memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Kulit buah tidak harus berakhir di TPA. Plastik tidak selalu menjadi limbah. Bahkan sisa upacara keagamaan pun masih dapat kembali menjadi tanah yang menyuburkan kehidupan.
Di situlah ekologi bekerja. Ia tidak mengenal istilah “sampah”. Yang dikenal alam hanyalah materi yang belum menemukan siklus berikutnya.
Keistimewaan Desa Gulingan bukan hanya pada keberhasilan TPS 3R Sapuh Jagat mengolah ribuan kilogram sampah setiap hari. Yang lebih menarik adalah cara mereka membangun kepercayaan sosial.
Peraturan desa berjalan berdampingan dengan pararem adat. Negara tidak berdiri sendirian. Adat pun tidak berjalan sendiri. Keduanya saling menguatkan.
Modernitas ternyata tidak harus menghapus tradisi.
Sebaliknya, tradisi justru menjadi fondasi bagi lahirnya sistem modern yang efektif.
Selama ini kita sering mengira bahwa perubahan hanya lahir dari mesin-mesin besar. Gulingan menunjukkan bahwa perubahan justru dimulai dari kesepakatan sosial yang sederhana: setiap orang bertanggung jawab atas sampahnya sendiri.
Ada pelajaran lain yang lebih penting.
Gulingan menolak jalan pintas berupa pembakaran sampah.
Di banyak tempat, insinerator dipromosikan sebagai simbol kemajuan. Padahal, teknologi yang menghilangkan sampah dengan api sering kali hanya memindahkan persoalan dari tanah ke udara.
Asap tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.
Karbon, partikel halus, dan emisi lain akan kembali memasuki paru-paru manusia.
Karena itu, keputusan Desa Gulingan memilih pengelolaan berbasis sumber sesungguhnya adalah pilihan etis. Mereka memilih menyelesaikan masalah tanpa menciptakan masalah baru.
Dalam bahasa ekologi, solusi terbaik bukanlah yang paling canggih, melainkan yang paling sedikit meninggalkan jejak kerusakan.
Namun, keberhasilan itu belum selesai.
Catatan Tim Pengawas PSBS Provinsi Bali mengenai pentingnya pengolahan organik di tingkat rumah tangga adalah kritik yang patut direnungkan.
Selama sampah organik masih harus diangkut menuju TPS 3R, energi, biaya operasional, tenaga kerja, dan bahan bakar tetap dibutuhkan.
Padahal, alam telah menyediakan cara yang jauh lebih murah.
Lubang biopori, komposter, teba modern, ember tumpuk, atau teknologi sederhana lain memungkinkan sisa makanan kembali menjadi tanah hanya beberapa meter dari dapur tempat ia berasal.
Di situlah sesungguhnya revolusi ekologis dimulai.
Rumah bukan lagi sekadar penghasil sampah.
Rumah menjadi pusat produksi kesuburan.
Pengalaman Desa Gulingan juga memberi pelajaran penting bagi kota-kota besar seperti Makassar.
Kita sering sibuk membangun TPS baru, membeli armada baru, memperluas TPA, bahkan merancang pembangkit listrik tenaga sampah. Semua itu penting.
Namun, jika dapur rumah tangga tetap menjadi pabrik sampah yang tidak pernah berubah, maka kota hanya sedang memperbesar biaya untuk mengejar persoalan yang terus tumbuh.
Perang melawan sampah tidak dimenangkan di TPA.
Ia dimenangkan di meja makan.
Di tempat seorang ibu memisahkan sisa sayur.
Di halaman rumah ketika seorang anak memasukkan kulit buah ke dalam komposter.
Di lorong ketika warga saling mengingatkan untuk tidak mencampur sampah.
Ekologi selalu dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara bersama.
Pada akhirnya, Desa Gulingan mengajarkan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bergantung pada besarnya anggaran ataupun megahnya teknologi.
Yang paling menentukan adalah hadirnya kepercayaan.
Kepercayaan bahwa warga mampu berubah.
Kepercayaan bahwa pemerintah hadir sebagai penggerak, bukan sekadar pengangkut.
Kepercayaan bahwa adat dapat menjadi penjaga etika lingkungan.
Dan yang terpenting, kepercayaan bahwa bumi tidak membutuhkan manusia yang sempurna, melainkan manusia yang mau bertanggung jawab.
Barangkali inilah resep hijau yang sesungguhnya.
Bukan tentang bagaimana menghilangkan sampah.
Melainkan bagaimana membangun peradaban yang membuat sampah kehilangan alasan untuk berserakan.














