Opini

Mencintai Diri, Tanpa Menutup Mata pada Sesama

×

Mencintai Diri, Tanpa Menutup Mata pada Sesama

Sebarkan artikel ini

Oleh: Astika Cahyani  (Peserta Latihan Khusus Kohati Cabang Wajo Tahun 2026)

Opini Publik, Potretnusanatara.co.id – Seringkali kita salah mengartikan “mencintai diri sendiri” sebagai sikap egois, mementingkan diri sendiri, atau membebaskan diri dari kewajiban terhadap orang lain. Padahal, memuliakan diri bukan berarti melalaikan kewajiban, dan menjaga kesejahteraan jiwa bukan berarti menutup pintu bagi sesama. Justru, mencintai diri dengan benar adalah fondasi agar kita mampu bertanggung jawab secara maksimal bagi lingkungan dan masyarakat.

Mencintai diri sendiri berarti mengenal, menerima, dan berusaha menyempurnakan apa yang Allah titipkan pada kita: potensi, waktu, kesehatan, serta hati nurani. Ia adalah sikap menjaga diri dari kelelahan yang sia-sia, merawat pikiran agar tetap jernih, dan menegakkan harga diri agar tidak mudah diinjak atau merendahkan orang lain.

Namun, perjalanan ini sering kali disalahartikan sebagai alasan untuk berhenti peduli, menutup telinga dari panggilan kebaikan, atau menempatkan kenyamanan pribadi di atas kepentingan bersama. Padahal, diri yang sehat, tenang, dan utuhlah yang paling siap berbagi tenaga, pikiran, dan kasih sayang.

Saya berpendapat, tidak ada pertentangan antara menghargai diri sendiri dan menjalankan tanggung jawab sosial. Keduanya justru saling melengkapi. Sama seperti kita tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong: jika kita tidak merawat diri, kita tidak akan memiliki apa-apa yang bisa diberikan kepada orang lain.

Mencintai diri berarti kita tidak membiarkan diri hancur demi menyenangkan orang lain, sekaligus tidak membiarkan orang lain menderita demi kenyamanan diri sendiri. Ia adalah keseimbangan: kita berhak beristirahat, namun tidak boleh berhenti bergerak; kita berhak memprioritaskan pertumbuhan diri, namun tidak boleh lupa bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan umat dan bangsa.

Bagi kita yang bergerak di organisasi, beragama, dan bermasyarakat, pemahaman ini sangat penting. Allah menciptakan kita sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Memuliakan diri adalah ibadah, karena tubuh dan akal adalah amanah. Mengabdi pada sesama juga kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Maka, bentuk cinta diri yang paling mulia adalah ketika kita menjadikan diri kita sebagai alat kebaikan; kita merawat diri agar kuat berjuang, kita mengembangkan diri agar bermanfaat bagi banyak orang, dan kita menghargai diri sendiri agar mampu menghargai orang lain dengan setara.

Pada akhirnya, mencintai diri yang benar bukanlah jalan lari dari kenyataan melainkan jalan menuju tanggung jawab yang lebih besar. Ia mengajarkan kita untuk berkata “cukup” pada hal yang merusak diri, sekaligus berkata “siap” pada panggilan kebaikan. Karena diri yang dicintai dengan tepat, adalah diri yang paling siap melayani, paling berani memperjuangkan keadilan, dan paling layak menjadi teladan bagi sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *