Oleh: Dr. Muhammad Alwi, S.Sy.,M.E.I
(Akademisi UIN Palopo)
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Pergantian Tahun Baru Hijriyah sering kali dipahami hanya sebagai perubahan penanggalan dalam kalender Islam. Padahal, lebih dari sekadar pergantian waktu, momentum ini menyimpan pesan besar tentang perubahan kehidupan manusia. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah menuju Madinah bukan hanya perjalanan sejarah, tetapi juga menggambarkan proses membangun peradaban baru yang berlandaskan nilai keimanan, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama.
Hijrah mengandung makna perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak akan tercapai tanpa keberanian meninggalkan kebiasaan lama yang tidak membawa manfaat. Pesan inilah yang menjadikan hijrah tetap relevan untuk direnungkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam aktivitas ekonomi yang menjadi bagian penting dari kehidupan manusia.
Saat ini, dunia ekonomi berkembang sangat cepat. Perdagangan semakin terbuka, teknologi digital semakin maju, dan persaingan bisnis semakin kuat. Berbagai inovasi telah memberikan kemudahan bagi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika aktivitas ekonomi hanya diarahkan untuk mengejar keuntungan tanpa mempertimbangkan nilai moral.
Kita masih menemukan berbagai persoalan ekonomi yang menunjukkan lemahnya kesadaran etika. Praktik kecurangan dalam transaksi, manipulasi informasi, penyalahgunaan kekuasaan, eksploitasi pekerja, serta persaingan usaha yang tidak sehat masih menjadi masalah yang harus dihadapi. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi semata tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan sebuah masyarakat.
Dalam perspektif Islam, kegiatan ekonomi memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mencari keuntungan. Ekonomi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam mengelola kehidupan. Karena itu, aktivitas ekonomi harus berjalan bersama nilai-nilai moral seperti kejujuran, amanah, keadilan, dan kepedulian sosial.
Inilah salah satu pesan penting dari spirit hijrah. Hijrah dalam konteks ekonomi dapat dimaknai sebagai perubahan orientasi, yaitu meninggalkan cara-cara bisnis yang hanya berpusat pada kepentingan pribadi menuju praktik ekonomi yang memberikan manfaat bagi banyak pihak. Keuntungan bukan sesuatu yang dilarang, tetapi proses memperolehnya harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain.
Rasulullah Muhammad saw. telah memberikan contoh nyata mengenai hubungan antara perdagangan dan moralitas. Sebelum menerima risalah kenabian, beliau dikenal sebagai seorang pedagang yang memiliki kejujuran tinggi. Kepercayaan masyarakat terhadap beliau lahir bukan karena kekayaan atau kekuasaan, tetapi karena karakter dan integritas yang selalu beliau tunjukkan. Gelar Al-Amin menjadi bukti bahwa kepercayaan merupakan kekuatan utama dalam membangun hubungan ekonomi.
Pelajaran tersebut sangat penting bagi dunia bisnis saat ini. Keberhasilan sebuah usaha tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran, kemampuan membaca peluang, atau besarnya modal. Faktor yang sering menjadi penentu keberlanjutan sebuah usaha adalah kepercayaan. Bisnis yang kehilangan integritas mungkin dapat berkembang sementara waktu, tetapi sulit bertahan dalam jangka panjang.
Sayangnya, sebagian praktik ekonomi modern masih menempatkan keuntungan sebagai tujuan utama dengan mengabaikan nilai kemanusiaan. Ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari jumlah pendapatan, pertumbuhan aset, atau kemampuan menguasai pasar. Akibatnya, hubungan ekonomi terkadang kehilangan nilai sosialnya dan manusia dipandang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan bisnis.
Spirit hijrah menawarkan cara pandang yang berbeda. Aktivitas ekonomi seharusnya tidak berhenti pada penciptaan keuntungan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat. Bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang menghasilkan pendapatan, tetapi juga bisnis yang memberi kontribusi positif bagi masyarakat.
Penerapan nilai hijrah dalam ekonomi dapat dimulai dari komitmen sederhana. Pelaku usaha dapat membangun kebiasaan berdagang secara jujur, memberikan informasi yang sesuai kepada konsumen, menjaga kualitas produk, serta memperhatikan hak pekerja. Selain itu, keberhasilan usaha juga harus diiringi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Nilai moral dalam ekonomi juga berperan dalam menciptakan kepercayaan. Dalam hubungan ekonomi, kepercayaan adalah modal yang sangat penting. Ketika produsen, konsumen, pekerja, dan pemerintah memiliki rasa saling percaya, maka kegiatan ekonomi dapat berjalan lebih stabil. Sebaliknya, hilangnya kepercayaan akan menyebabkan hubungan ekonomi menjadi penuh kecurigaan dan tidak efisien.
Hijrah juga mengingatkan manusia agar tidak melupakan kelompok yang memiliki keterbatasan ekonomi. Ketika Nabi Muhammad saw. membangun masyarakat Madinah, pembangunan tidak hanya diarahkan pada kekuatan ekonomi, tetapi juga pada terciptanya keseimbangan sosial. Nilai berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian dan mengurangi kesenjangan.
Pesan tersebut sangat sesuai dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama pemerataan. Keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka statistik, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat dan kesempatan yang sama untuk meningkatkan kualitas hidup.
Di tengah perkembangan ekonomi digital, tantangan moral juga semakin besar. Teknologi telah memudahkan transaksi dan membuka peluang usaha baru. Namun, kemajuan tersebut juga dapat disalahgunakan melalui penipuan digital, penyebaran informasi yang tidak benar, maupun praktik bisnis yang mengabaikan hak konsumen. Karena itu, inovasi ekonomi harus selalu dibarengi dengan tanggung jawab moral.
Momentum Tahun Baru Hijriyah menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi terhadap cara kita menjalankan aktivitas ekonomi. Hijrah bukan hanya perubahan keadaan, tetapi perubahan kesadaran. Dalam ekonomi, hijrah berarti membangun kebiasaan baru yang lebih jujur, adil, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak hanya bergantung pada modal, teknologi, atau sumber daya yang dimiliki. Faktor yang sangat menentukan adalah kualitas manusia yang menjalankan sistem tersebut. Ekonomi yang kehilangan nilai moral dapat menghasilkan pertumbuhan, tetapi belum tentu menghadirkan kesejahteraan.
Sebaliknya, ekonomi yang dibangun dengan prinsip kejujuran, amanah, dan kepedulian akan menciptakan kehidupan yang lebih seimbang. Karena itu, spirit hijrah perlu terus dihidupkan sebagai inspirasi untuk membangun ekonomi yang bukan hanya kuat secara materi, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan dan keberkahan.
Tahun Baru Hijriyah bukan hanya tentang mengingat perjalanan masa lalu, tetapi juga tentang menentukan arah masa depan. Sebuah masa depan ekonomi yang lebih adil, beretika, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.
“Penulis adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Palopo”.
Editor: S PNs














