Opini

Hijrah Kebangsaan di Tengah Gejolak Dunia: Saatnya Mendukung Langkah Strategis Presiden Prabowo

×

Hijrah Kebangsaan di Tengah Gejolak Dunia: Saatnya Mendukung Langkah Strategis Presiden Prabowo

Sebarkan artikel ini

Oleh: Rudi Sahabuddin
Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah tidak hanya menjadi pengingat akan peristiwa hijrah Rasulullah SAW, tetapi juga mengajarkan pentingnya perubahan besar yang dilakukan dengan visi, keberanian, dan pengorbanan demi masa depan yang lebih baik. Nilai-nilai itulah yang saat ini perlu kita refleksikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sedang berupaya melakukan berbagai langkah strategis untuk memperkuat fondasi negara. Berbagai kebijakan yang lahir hari ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan untuk menjawab kebutuhan jangka pendek masyarakat, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi tantangan besar yang mungkin terjadi di masa depan.

Kita harus jujur mengakui bahwa tidak semua kebijakan pemerintah akan selalu diterima dengan mudah. Dalam negara demokrasi, kritik adalah hal yang wajar. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah ketika sebagian pihak memanfaatkan kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo sebagai dalih untuk membangun narasi negatif dan menjatuhkan kepercayaan publik, tanpa melihat substansi dan tujuan besar yang sedang diperjuangkan.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh hanya melihat sebuah kebijakan dari sudut pandang sesaat. Kita harus melihat gambaran yang lebih luas. Dunia saat ini sedang menghadapi berbagai ancaman global, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, krisis energi, hingga potensi eskalasi konflik yang oleh banyak pengamat disebut dapat mengarah pada Perang Dunia Ketiga apabila tidak terkendali.

Pertanyaan yang harus kita ajukan bukanlah apakah ancaman itu akan terjadi atau tidak, tetapi apakah Indonesia sudah siap menghadapi dampaknya jika benar-benar terjadi?

Dalam konteks itulah berbagai program strategis pemerintah harus dipahami. Ketahanan pangan misalnya, bukan sekadar program pertanian biasa. Ketahanan pangan adalah benteng pertahanan bangsa. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan lebih kuat menghadapi krisis global dibandingkan negara yang bergantung pada impor.

Karena itu, perhatian Presiden Prabowo terhadap sektor pertanian patut diapresiasi. Upaya meningkatkan produksi pangan nasional, memperkuat peran petani, memperbaiki irigasi, serta membuka akses permodalan merupakan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

Langkah tersebut kemudian diperkuat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini bukan hanya soal menyediakan makanan bagi anak-anak Indonesia. Lebih dari itu, MBG menciptakan rantai ekonomi baru yang melibatkan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga koperasi di daerah. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi rakyat dari bawah.

Di sisi lain, kehadiran Koperasi Merah Putih menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis masyarakat. Koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapi instrumen untuk memastikan bahwa keuntungan pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh rakyat.

Begitu pula dengan Program Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu terobosan penting pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas bangsa di masa depan. Negara yang ingin maju harus memastikan tidak ada anak bangsa yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi.

Sebagai Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo, saya melihat bahwa berbagai program tersebut saling terhubung dalam satu visi besar, yaitu menciptakan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan siap menghadapi berbagai tantangan global. Inilah bentuk perjuangan nyata pemerintah untuk kepentingan rakyat.

Tentu kita tidak mengatakan bahwa semua kebijakan pemerintah sempurna. Masih banyak yang perlu diperbaiki dan dievaluasi. Namun kritik yang membangun harus dibedakan dengan upaya sistematis yang bertujuan menciptakan ketidakpercayaan publik terhadap agenda-agenda strategis bangsa.

Momentum 1 Muharram mengajarkan kita bahwa perubahan besar membutuhkan kesabaran, kebersamaan, dan keyakinan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW menjadi titik awal lahirnya peradaban yang kuat, maka Indonesia hari ini juga sedang menempuh proses hijrah menuju bangsa yang lebih mandiri dan tangguh.

Sudah saatnya kita melihat berbagai kebijakan pemerintah secara lebih objektif dan proporsional. Bukan hanya dari apa yang terlihat hari ini, tetapi juga dari manfaat besar yang sedang dipersiapkan untuk masa depan bangsa.

Di tengah ketidakpastian dunia, Indonesia membutuhkan persatuan, optimisme, dan dukungan terhadap langkah-langkah strategis yang berpihak kepada rakyat. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya keberhasilan pemerintah, tetapi keberhasilan seluruh bangsa Indonesia.

“Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi keberanian untuk berubah menuju keadaan yang lebih baik. Begitu pula bangsa ini, yang sedang berhijrah menuju Indonesia yang kuat, mandiri, dan sejahtera“.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *