Makassar, Potretnusantara.co.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Makassar Government Centre (MGC) Kota Makassar, Senin (8/6/2028).
Kegiatan ini bertema “Peningkatan Kapasitas dan Rencana Tindak Lanjut Pengelolaan Persampahan” sebagai upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi persoalan sampah yang kian kompleks di Kota Makassar.
Kegiatan tersebut dihadiri Hj. Melinda Aksa (Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar), Helmy Budiman (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar), Ferdy Mochtar (Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup) Ferdy Mochtar, Anggota Dewan Lingkungan Hidup, Tim Pusat Pengendalian Lingkungan (Pusdal) KLH Sulawesi Maluku, 15 Camat se-Kota Makassar, para lurah, serta sejumlah Ketua RT/RW yang dikenal aktif menggerakkan program kebersihan dan lingkungan di wilayah masing-masing.
FGD ini menjadi forum strategis untuk menyatukan persepsi sekaligus menyusun langkah konkret dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, terintegrasi, dan berorientasi pada ekonomi sirkular.
Berbeda dengan forum koordinasi pada umumnya, setiap camat diberikan kesempatan memaparkan kondisi persampahan di wilayahnya masing-masing, termasuk potensi pengelolaan, titik-titik kerawanan timbulan sampah, serta rencana tindak lanjut yang akan diterapkan di tingkat kecamatan.
Ketua Dewan Lingkungan dalam pengantarnya menegaskan bahwa keberhasilan penanganan sampah sangat bergantung pada keterlibatan aktif pemerintah wilayah, terutama camat dan lurah sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat.
“Persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu instansi saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan, terutama camat dan lurah yang memahami kondisi riil di lapangan,” ujarnya.
Dalam sesi pemaparan, sejumlah kecamatan menampilkan berbagai inovasi yang telah dan akan dikembangkan, di antaranya penguatan Bank Sampah Unit, Bank Sampah Sektoral, optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R), hingga pemanfaatan Kontainer Covid sebagai Sentra Tukar Sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar yang bertindak sebagai pembicara kunci dalam forum tersebut menyoroti pentingnya pengurangan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa yang saat ini menghadapi tantangan kapasitas.
Salah satu solusi yang menjadi fokus pembahasan adalah penguatan gerakan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Para Ketua RT/RW yang hadir juga didorong untuk mengambil peran lebih besar sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Mereka diharapkan mampu mengedukasi warga agar menerapkan pola hidup yang lebih peduli lingkungan dan mendukung berbagai program pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Dari hasil diskusi, forum berhasil menyepakati sejumlah rekomendasi sebagai rencana tindak lanjut yang akan menjadi pedoman pelaksanaan program di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Beberapa rekomendasi tersebut meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bagi kader lingkungan, penguatan penegakan regulasi terkait pembatasan penggunaan plastik sekali pakai melalui mekanisme insentif dan disinsentif, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala.
Monitoring tersebut akan melibatkan jajaran kecamatan untuk memastikan seluruh komitmen yang telah disampaikan dalam forum dapat direalisasikan secara bertahap dan terukur.
Melalui FGD ini, diharapkan seluruh rencana tindak lanjut yang telah disusun bersama 15 kecamatan dapat diwujudkan dalam program nyata di lapangan. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi pengelolaan sampah Kota Makassar menuju sistem yang lebih bersih, berkelanjutan, serta memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, Dewan Lingkungan, aparat wilayah, dan masyarakat, Makassar diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai kota yang semakin tangguh dalam menghadapi tantangan lingkungan perkotaan.













