News

Translokusi Arafah: Menemukan Diri di Padang Pengakuan​

×

Translokusi Arafah: Menemukan Diri di Padang Pengakuan​

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Saleh *Dosen Bahasa dan Sastra UNM*

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kita sedang berada di hari-hari istimewa, hari-hari 10 awal Zulhijjah. ​Hari ini 8 Zulhijjah, saat fajar berganti dan langkah-langkah para duyufurrahman mulai bergerak meninggalkan Mina, kita yang berada jauh dari tanah suci seolah ikut menangkap getaran frekuensi yang sama. Dan besok, 9 Zulhijjah, semesta akan menyaksikan sebuah puncak drama spiritual terbesar umat manusia: Wukuf di Padang Arafah.

Bagi kita yang hari ini tidak mengenakan selembar kain ihram putih di sana, apakah Arafah hanya akan menjadi tontonan di layar kaca? Ataukah kita bisa ikut melakukan sebuah Translokusi Batin sebuah perpindahan kesadaran dari ruang fisik kita saat ini, menuju hakikat spiritual Arafah yang sesungguhnya?

Secara religiolinguistik, Arafah tidak pernah sebatas nama sebuah tempat gersang. Ia adalah sebuah kata kerja yang hidup di dalam dada. Ia bermakna mengenal, menyadari, dan mengakui. Arafah adalah panggung kosmik yang didesain Allah agar manusia melakukan satu hal yang paling ditakuti di dunia: jujur melihat dirinya sendiri. Di padang yang luas tanpa sekat itu, status manusia dilucuti hingga nol. Kita berpindah dari pelabuhan “kesombongan diri” menuju samudra “ampunan dan rida-Nya”.

Agar kita yang di tanah air tidak kehilangan momentum agung ini, mari kita ciptakan “Arafah batin” kita sendiri di atas sajadah melalui amalan-amalan utama besok.

Puasa Arafah: Penghapusan Dosa setahun yang lalu dan setahun mendatang

​Besok adalah hari di mana kita disunnahkan untuk menahan lapar dan haus. Namun, mari kita lakukan Translokusi makna pada puasa kita. Ini bukan sekadar ritual menahan lapar pasca-Ramadan, melainkan sebuah ikhtiar jemputan atas janji Rasulullah SAW bahwa puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Saat kerongkongan kita mengering besok siang, bayangkan itu sebagai proses pembakaran noda-noda hitam di hati kita. Kita berpuasa untuk mengistirahatkan jasad dan menghidupkan ruhani, agar batin kita jernih saat menghadap-Nya di waktu sore.

Perbanyak Istighfar: Meruntuhkan Tirai Ego

​Rahasia terbesar dari Arafah adalah: kita tidak akan pernah bisa “mengenal” (‘Arafa) Kemahabesaran Allah, sebelum kita berani “mengakui” (‘Arafa) betapa kerdil dan berdosanya diri kita. Di hari Arafah, lisan kita harus bermutasi. Jika biasanya energi kita habis untuk menilai dan menghakimi orang lain, besok adalah harinya kita menghakimi diri sendiri.

Mari kita ​perbanyak istighfar. Sebut dan akui satu per satu dosa dan kesalahan kita, kegagalan kita menjadi hamba yang taat, dan pengkhianatan-pengkhianatan tersembunyi yang kita lakukan terhadap aturan-Nya. Air mata pengakuan (‘I’tiraf) yang jatuh besok adalah penghancur tirai ego yang selama ini menghalangi pancaran cahaya hidayah ke dalam kalbu.

Menggempur Langit dengan Doa (Khairu Ad-Du’a)

​Nabi SAW bersabda bahwa sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah. Ini adalah waktu di mana langit mendekat ke bumi dan Allah turun ke langit dunia untuk membanggakan hamba-Nya. Khususnya di waktu sore menjelang maghrib saat jutaan jamaah haji sedang menangis di bawah langit Saudi mari kita bersimpuh di ruang sunyi rumah kita.

Mari kita siapkan doa-doa terbaik untuk berjuang habis-habisan di detik-detik terakhir sore besok. Basahi lidah kita dengan kalimat tauhid terbaik: Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai’in qadiir … lalu mintalah dengan rintihan yang paling dalam. Jangan hanya meminta dunia, tapi mintalah agar nama kita dicatat sebagai hamba yang dibebaskan dari api neraka (‘Itqun minan Naar).
Rabbana ‘aatina fiddun’ya hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqina azabannar

​Penutup: Pulang Sebagai Pemenang
​Saudaraku, besok sore langit akan dipenuhi oleh gelombang ampunan-Nya. Jangan biarkan diri kita menjadi penonton yang hampa. Meski raga kita berada ribuan mil dari bukit Jabal Rahmah, biarkan jiwa kita melakukan wukufnya sendiri di hadapan keagungan Allah.
​Ketika matahari 9 Zulhijjah terbenam besok, semoga kita semua keluar sebagai hamba yang telah “mengenal” siapa Tuhannya dan tahu di mana posisi dirinya. Selamat menyongsong hari terbaik, hari Arafah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *