Oleh: Rudi Sahabuddin (Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Terkait wacana menuju Indonesia Emas kerap dipenuhi indikator makroekonomi seperti pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP), stabilitas nilai tukar rupiah, hingga arus investasi asing. Namun di tengah dominasi angka-angka tersebut, muncul sebuah pesan yang mengingatkan kembali pada fondasi utama ekonomi nasional yaitu kekuatan Indonesia sejatinya bertumpu pada sektor riil dan kerja nyata rakyat.
Melalui narasi yang menampilkan petani, nelayan, pedagang pasar, serta aktivitas ekonomi domestik lainnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa denyut ekonomi bangsa tidak semata ditentukan oleh pergerakan pasar uang atau saham, melainkan oleh produktivitas masyarakat di akar rumput.
Pesan tersebut dipandang sebagai upaya mengembalikan orientasi pembangunan pada semangat ekonomi Pancasila ekonomi yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama.
Menanggapi berkembangnya diskursus mengenai ekonomi kerakyatan, Ketua Umum Relawan Muda Pro Prabowo, Rudi Sahabuddin, menilai bahwa pernyataan Prabowo bukan sekadar retorika politik, melainkan refleksi dari realitas sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Menurut hemat kami, arah pembangunan nasional selama ini cenderung terlalu berorientasi pada sektor finansial dibanding penguatan sektor produktif masyarakat.
1. Dekonstruksi Paradigma Ekonomi
Dalam pandangan kami bahwa adanya ketimpangan antara financial economy dan real economy. Kebijakan ekonomi kerap terlalu berpusat pada kepentingan modal dan sektor keuangan, sementara sektor riil yang menopang kehidupan mayoritas masyarakat justru kurang mendapat perhatian.
Selama ini kebijakan ekonomi sering terlalu capital-centric. Padahal, ketahanan Indonesia menghadapi berbagai krisis global justru ditopang oleh kekuatan ekonomi domestik dan masyarakat desa.
Menurut hemat kami bahwa pesan yang dibawa Prabowo merupakan dorongan untuk menggeser paradigma pembangunan menjadi lebih human-centric, dengan menempatkan manusia, produksi, dan distribusi kebutuhan dasar sebagai prioritas utama.
2. Sektor Riil sebagai Pilar Kedaulatan Nasional
Dalam pandangan kami bahwa visual petani, nelayan, dan pedagang bukan sekadar simbol populis, melainkan representasi dari fondasi kedaulatan ekonomi Indonesia.
a. Petani dan Produksi Pangan
Ketahanan pangan menjadi syarat utama kemandirian bangsa. Indonesia, menurutnya, tidak boleh bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat.
b. Nelayan dan Pedagang Lokal
Aktivitas ekonomi masyarakat bawah menjadi penggerak utama konsumsi domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam perspektif tersebut, penguatan sektor riil tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga memperkuat stabilitas sosial dan daya tahan nasional.
3. Peran Strategis Generasi Muda
Sebagai representasi kelompok relawan muda, kami menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah mentransformasikan sektor riil tradisional agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan ekonomi digital.
Tugas generasi muda bukan hanya mengawal narasi, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat. Teknologi, smart farming, digitalisasi UMKM, hingga akses permodalan harus masuk ke desa-desa agar kerja nyata petani dan nelayan memiliki nilai tambah yang lebih besar.
Kami juga berpandangan bahwa hilirisasi sektor domestik dan modernisasi usaha rakyat menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional di masa depan.
Kesimpulan: Membangun Indonesia dari Akar Rumput
Pesan utama yang ingin ditegaskan adalah bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada pencapaian statistik semata. Kekuatan bangsa lahir dari kemampuan negara menjaga sektor riil, memperkuat ekonomi rakyat, dan memastikan hasil pembangunan dirasakan secara merata.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa kedaulatan ekonomi hanya dapat tercapai apabila pemerintah, masyarakat, dan generasi muda bergerak bersama memperkuat fondasi ekonomi domestik. Penguatan sektor riil bukan hanya soal pertumbuhan, tetapi juga tentang pemerataan, penciptaan lapangan kerja, dan keberlanjutan kesejahteraan rakyat Indonesia.













