Oleh: Dr. Ahmad Nouruzzaman, SE.,ME
(Akademisi UIN Palopo)
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Digitalisasi ekonomi hari ini dirayakan seperti fajar baru peradaban. Kita memujinya sebagai kemajuan, efisiensi, keterhubungan, dan kemudahan. Transaksi menjadi lebih cepat, pasar menjadi lebih luas, uang bergerak tanpa suara, dan manusia seolah-olah menggenggam dunia melalui layar kecil di tangannya. Namun, di balik pesta kemajuan itu, ada pertanyaan yang gelap dan menusuk: “Apakah digitalisasi benar-benar membebaskan manusia, atau justru sedang membangun penjara baru yang dindingnya tidak lagi terbuat dari batu, melainkan dari data, algoritma, dan hasrat yang tak pernah selesai” ?
Hari ini, manusia lebih percaya layar daripada langit. Ia lebih mudah percaya pada angka, grafik, notifikasi, rekomendasi, dan tren yang muncul di layar daripada pada suara batin yang memintanya berhenti. Layar memberi arah belanja, arah selera, arah gaya hidup, bahkan arah kebahagiaan. Langit, yang dahulu menjadi simbol nilai, batas, iman, dan makna, perlahan menjauh dari kesadaran manusia modern. Bukan karena langit tidak lagi ada, tetapi karena mata manusia terlalu lama tertunduk pada layar.
Digitalisasi ekonomi bukan sekadar perubahan alat transaksi. Ia bukan hanya soal QRIS, dompet digital, lokapasar, aplikasi perbankan, atau layanan keuangan berbasis teknologi. Digitalisasi adalah perubahan cara manusia memahami hidupnya sendiri. Ia mengubah cara manusia membeli, menjual, bekerja, memilih, menginginkan, bahkan membayangkan masa depan. Siapa pun yang menganggap digitalisasi hanya sebagai urusan teknis sesungguhnya sedang gagal membaca gempa besar yang mengguncang dasar peradaban manusia.
Dulu, ekonomi bergerak dari pintu ke pintu. Manusia datang ke pasar, mengetuk rumah, membuka toko, menunggu pembeli, menyapa penjual, dan membangun kepercayaan melalui wajah, suara, dan perjumpaan. Ada jarak yang harus ditempuh. Ada waktu yang harus dihormati. Ada batas antara mencari dan menemukan, antara membutuhkan dan menginginkan, antara bekerja dan berhenti. Dalam dunia lama itu, pintu bukan sekadar benda fisik; pintu adalah simbol batas, kesadaran, dan pilihan.
Kini, digitalisasi menghancurkan pintu-pintu itu. Manusia tidak lagi berjalan menuju pasar; pasar menyerbu masuk ke ruang tidurnya. Ia tidak lagi mengetuk toko; toko mengetuk pikirannya melalui notifikasi. Ia tidak lagi menunggu jam transaksi; transaksi memburunya selama dua puluh empat jam. Semua menjadi dekat, cepat, dan tersedia. Tetapi justru karena semuanya terlalu dekat, manusia mulai kehilangan jarak untuk berpikir. Justru karena semuanya terlalu cepat, manusia kehilangan waktu untuk bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah aku benar-benar membutuhkan ini, atau aku hanya sedang diarahkan untuk menginginkannya” ?
Di sinilah digitalisasi ekonomi berubah menjadi paradoks paling tajam zaman ini. Ia membuka akses, tetapi juga membuka jurang. Ia memperluas pilihan, tetapi juga memperlemah kemampuan memilih. Ia memberi manusia rasa bebas, tetapi secara diam-diam membentuk arah kebebasan itu melalui algoritma. Manusia merasa sedang menentukan keputusan, padahal sering kali keputusannya telah disusun sebelumnya oleh sistem yang lebih mengenal pola perilakunya daripada ia mengenal dirinya sendiri.
Digitalisasi ekonomi hari ini seperti gua Plato yang berubah menjadi layar tak bertepi. Manusia mengira sedang keluar dari bayang-bayang keterbatasan, padahal ia justru memasuki bayangan yang lebih terang, lebih halus, dan lebih sulit dilawan. Dalam alegori Plato, manusia terkurung oleh bayangan di dinding gua. Dalam ekonomi digital, manusia terkurung oleh bayangan yang ia genggam sendiri: citra, iklan, diskon, tren, promosi, simulasi kebahagiaan, dan ilusi kebutuhan. Ia tidak lagi dirantai oleh besi, tetapi oleh layar yang ia buka dengan sukarela.
Jika Plato dapat dibayangkan sebagai seorang pemikir yang tersesat di lorong pikirannya sendiri saat mencari bentuk paling murni dari kebenaran, maka manusia digital hari ini tersesat di dalam pikirannya yang telah diperbanyak oleh algoritma. Keinginan tampak seperti kebutuhan. Pilihan tampak seperti kebebasan. Kecepatan tampak seperti kemajuan. Popularitas tampak seperti nilai. Konsumsi tampak seperti identitas. Di ruang ini, manusia bukan hanya kehilangan arah ekonomi; ia kehilangan kemampuan metafisik untuk membedakan mana dirinya yang sejati dan mana bayangan dirinya yang diproduksi oleh sistem.
Ekonomi digital tidak lagi hanya menjual barang dan jasa. Ia menjual suasana batin. Ia menjual rasa kurang, rasa tertinggal, rasa ingin terlihat, rasa takut kehilangan kesempatan, rasa ingin menjadi bagian dari sesuatu yang sedang viral. Pasar tidak lagi menunggu kebutuhan manusia; pasar menciptakan kebutuhan itu, merawatnya, memperbesarnya, lalu menjual obat atas luka yang ia tanamkan sendiri. Inilah bentuk baru kekuasaan ekonomi: bukan lagi hanya menguasai produksi, tetapi menguasai perhatian dan hasrat manusia.
Maka manusia digital tidak lagi sekadar menjadi konsumen. Ia menjadi data. Ia menjadi pola. Ia menjadi target. Ia menjadi angka yang bergerak dalam dashboard kekuasaan ekonomi baru. Setiap klik, pencarian, tontonan, pembelian, lokasi, komentar, dan jeda perhatian dicatat sebagai serpihan identitas. Dari serpihan itu, sistem membangun bayangan tentang manusia: apa yang ia sukai, apa yang ia takutkan, apa yang mungkin ia beli, kapan ia lemah, kapan ia lapar, kapan ia bosan, kapan ia mudah tergoda. Pertanyaannya menjadi brutal: “saat manusia semakin mudah dibaca sebagai data, apakah ia masih utuh sebagai manusia” ?
Inilah bahaya yang sering disembunyikan di balik bahasa kemajuan. Digitalisasi memang memberi kemudahan, tetapi kemudahan bukan selalu pembebasan. Kemudahan dapat berubah menjadi ketergantungan. Kecepatan dapat berubah menjadi kehilangan kendali. Keterhubungan dapat berubah menjadi kelelahan jiwa. Kelimpahan informasi dapat berubah menjadi kebingungan. Banyaknya pilihan dapat berubah menjadi kelumpuhan. Manusia modern tidak selalu miskin akses; sering kali ia justru hancur karena terlalu banyak akses.
Dalam ekonomi lama, manusia tersesat karena kekurangan jalan. Dalam ekonomi digital, manusia tersesat karena terlalu banyak jalan. Dulu, manusia kehilangan peluang karena pintu tertutup. Kini, manusia kehilangan dirinya karena terlalu banyak pintu terbuka sekaligus. Digitalisasi mengantarkan manusia bukan lagi dari pintu ke pintu, melainkan ke ruang tak terhingga yang tidak selalu memiliki arah pulang. Di sana, manusia mengapung di antara transaksi, hiburan, utang, promosi, citra, dan informasi yang terus datang tanpa belas kasihan.
Itulah sebabnya judul ini menjadi tuduhan moral terhadap zaman kita: “Manusia lebih percaya layar daripada Langit”. Layar menawarkan kecepatan, tetapi langit menawarkan arah. Layar menawarkan rangsangan, tetapi langit menawarkan makna. Layar menawarkan kemudahan, tetapi langit mengingatkan batas. Layar menuntun manusia untuk terus bergerak, membeli, memilih, dan menginginkan; langit memanggil manusia untuk berhenti, merenung, menimbang, dan kembali menjadi manusia.
Peradaban berikutnya tampaknya bukan lagi peradaban tanah, mesin, atau bahkan modal semata. Ia adalah peradaban perhatian. Siapa yang menguasai perhatian manusia, dialah yang menguasai ekonomi. Siapa yang mampu mengatur apa yang dilihat, dipikirkan, diinginkan, dan dibeli manusia, dialah penguasa baru. Dalam peradaban ini, kerajaan tidak selalu memiliki istana, kekuasaan tidak selalu memakai mahkota, dan penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Ia datang melalui notifikasi, rekomendasi, promosi personal, dan algoritma yang bekerja sunyi di balik layar.
Karena itu, digitalisasi ekonomi tidak boleh terus dipuja dengan mata tertutup. Kita harus berani mengatakan bahwa tidak semua yang cepat berarti maju. Tidak semua yang praktis berarti baik. Tidak semua yang viral berarti bernilai. Tidak semua yang digital berarti manusiawi. Kemajuan yang tidak disertai kesadaran hanya akan melahirkan peradaban yang terang di permukaan, tetapi gelap di kedalaman. Layar menyala, tetapi jiwa meredup. Transaksi meningkat, tetapi makna menyusut. Koneksi bertambah, tetapi manusia semakin kesepian di tengah keramaian digital.
UMKM mungkin masuk ke platform, tetapi belum tentu berdaulat di dalamnya. Masyarakat mungkin memakai pembayaran digital, tetapi belum tentu memahami risiko ekonominya. Konsumen mungkin merasa dimudahkan, tetapi belum tentu terlindungi dari manipulasi hasrat. Pelaku usaha kecil mungkin hadir di ruang digital, tetapi belum tentu mampu melawan logika algoritma yang lebih menguntungkan mereka yang kuat secara modal, data, dan jaringan. Jika ini dibiarkan, digitalisasi bukan menjadi jalan pemerataan, melainkan mesin baru yang mempercepat ketimpangan dengan wajah yang lebih modern.
Persoalan digitalisasi ekonomi, dengan demikian, bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada orientasi peradaban yang menggunakannya. Teknologi dapat menjadi jembatan, tetapi juga dapat menjadi jurang. Ia dapat memperluas keadilan, tetapi juga dapat memperdalam eksploitasi. Ia dapat memperkuat martabat manusia, tetapi juga dapat mereduksinya menjadi sekadar pengguna, konsumen, objek iklan, dan sumber data. Teknologi tidak punya nurani; manusialah yang harus menentukan arah moralnya.
Maka masa depan ekonomi digital harus ditarik kembali ke pertanyaan yang paling mendasar: “untuk siapa seluruh kemajuan ini dibangun” ? Untuk manusia, atau untuk pasar? Untuk kesejahteraan, atau untuk akumulasi? Untuk kebebasan, atau untuk ketergantungan baru? Untuk memperkuat kehidupan, atau sekadar mempercepat konsumsi? Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena peradaban tidak runtuh hanya karena kekurangan teknologi. Peradaban juga dapat runtuh karena terlalu canggih, tetapi kehilangan kebijaksanaan.
Digitalisasi ekonomi hanya akan bermakna jika manusia tetap ditempatkan sebagai tujuan, bukan sebagai bahan bakar sistem. Data harus melayani manusia, bukan memangsa manusia. Algoritma harus membantu kehidupan, bukan mengurung kesadaran. Pasar digital harus memperluas kesempatan, bukan menciptakan kasta baru antara mereka yang menguasai teknologi dan mereka yang hanya menjadi korban arusnya. Ekonomi yang maju bukan hanya ekonomi yang cepat, tetapi ekonomi yang tahu batas, tahu arah, dan tahu tanggung jawab.
Digitalisasi telah membuka banyak pintu baru bagi manusia. Tetapi setelah pintu-pintu itu terbuka, manusia justru berhadapan dengan ruang yang tidak berujung. Di ruang itu, ia dapat menemukan peluang besar, tetapi juga dapat kehilangan arah. Ia dapat menjadi lebih produktif, tetapi juga lebih mudah dikendalikan. Ia dapat merasa lebih bebas, tetapi diam-diam semakin terikat oleh sistem yang tidak terlihat. Inilah tragedi paling halus dari ekonomi digital: manusia tidak merasa sedang hilang, karena kehilangan itu terjadi di tengah kelimpahan.
Maka ironi terbesar hari ini bukanlah digitalisasi yang bergerak terlalu jauh, melainkan sebagian pemikiran Islam yang berjalan terlalu lambat. Islam tidak kekurangan nilai, tetapi sering kekurangan keberanian konseptual untuk mengubah nilai itu menjadi solusi peradaban. Jika ekonomi digital sedang membentuk manusia baru melalui data, algoritma, dan hasrat tanpa batas, maka Islam tidak cukup hanya memperingatkan bahayanya. Ia tidak cukup hanya didengungkan di mimbar khutbah. Khutbah yang hanya mengulang kecemasan tanpa menawarkan arsitektur solusi akan terdengar seperti gema yang tertinggal di belakang sejarah.
Di sinilah cendekiawan Muslim ditantang. Mereka tidak cukup hanya mengutuk layar, sementara manusia telah menggantungkan hidup, kerja, transaksi, identitas, bahkan kebahagiaannya pada layar. Mereka tidak cukup hanya menunjuk langit, sementara bahasa langit tidak diterjemahkan menjadi sistem ekonomi digital yang adil, amanah, dan melindungi martabat manusia. Nilai harus turun menjadi desain. Iman harus hadir sebagai arah peradaban. Etika harus menjadi arsitektur, bukan sekadar nasihat.
Sebab apabila langit hanya disebut dalam khutbah, tetapi layar mengatur kehidupan manusia setiap detik, maka manusia akan semakin percaya kepada layar daripada langit. Dan apabila ruang kosong itu terus dibiarkan, pasar akan mengambil alih mimbar peradaban. Algoritma akan menjadi imam baru. Data akan menjadi kitab perilaku. Hasrat akan menjadi doa yang diulang tanpa sadar. Manusia akan berjalan semakin cepat, semakin terkoneksi, semakin produktif, tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak sedang menghadapi sekadar perubahan teknologi. Kita sedang menghadapi pertaruhan peradaban. Digitalisasi dapat menjadi jalan menuju ekonomi yang lebih adil, cerdas, dan manusiawi. Tetapi tanpa kesadaran kritis dan arah transenden, ia dapat berubah menjadi lorong panjang tanpa ujung: terang oleh layar, cepat oleh transaksi, ramai oleh data, tetapi sunyi dari makna. Dan di ujung lorong itu, pertanyaan paling menakutkan bukan lagi apakah manusia mampu menguasai teknologi, melainkan apakah manusia masih mampu mengangkat wajahnya dari layar, menatap langit, dan mengingat kembali siapa dirinya.
Editor: S PNs












