Pendidikan

HARDIKNAS: Problematika Pendidikan Kita Hari Ini

×

HARDIKNAS: Problematika Pendidikan Kita Hari Ini

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Aldi, Komunitas Mahasiswa Kritis Polman

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Namun hari ini, senjata itu seolah berbalik arah. Di tengah gegap gempita perayaan Hari Pendidikan Nasional, kita dipaksa menelan kenyataan pahit yang mencoreng wajah edukasi kita. Sekolah dan kampus yang seharusnya menjadi “ruang aman” untuk bertumbuh, justru kerap kali berubah menjadi tempat terjadinya kekerasan dan pelecehan yang membungkam suara-suara tak berdosa.Pelecehan seksual di dunia pendidikan bukan sekadar angka dalam laporan; ia adalah luka pada masa depan. Ironisnya, seringkali dinding birokrasi dan “nama baik” lembaga justru lebih diprioritaskan daripada perlindungan terhadap korban. Di situlah letak tragedi pendidikan kita: saat etika dikalahkan oleh gengsi, dan integritas dikorbankan demi citra.

Tak berhenti di situ, luka pendidikan kita semakin menganga saat menoleh pada kesenjangan yang timpang. Di kota-kota besar, anak-anak berdiskusi dengan kecerdasan buatan dan fasilitas mutakhir. Namun di pelosok negeri, di pedalaman yang jauh dari jangkauan sinyal, masih banyak kawan-kawan kita yang harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi duduk di kelas yang atapnya hampir rubuh.

Hari ini, makna pendidikan diuji oleh kenyataan pahit. Di tengah upaya mencerdaskan bangsa, kita justru dihantui maraknya kasus pelecehan yang mencoreng institusi pendidikan, ruang yang seharusnya menjadi tempat paling aman kini justru menjadi ancaman bagi masa depan. Pendidikan kita sedang sakit saat integritas dikorbankan demi nama baik lembaga, membiarkan korban bungkam dalam bayang-bayang ketidakadilan.

Luka itu kian menganga jika kita melihat ketimpangan yang nyata antara gemerlap kota dan sunyinya pedalaman. Di saat teknologi semakin melesat, kawan-kawan kita di pelosok Polewali Mandar hingga ujung nusantara masih harus bergelut dengan keterbatasan akses dan fasilitas yang tertinggal. Pendidikan seolah menjadi hak istimewa bagi mereka di pusat, sementara mereka di garis depan geografis dipaksa berjuang dua kali lebih keras untuk hak yang sama.

Dari bumi Polewali Mandar, kami menyerukan bahwa pendidikan bukan sekadar angka di ijazah, melainkan tentang keamanan raga dan pemerataan rasa. Sudah saatnya kita bergerak melampaui seremoni, memastikan tak ada lagi ruang bagi kekerasan dan tak ada lagi anak bangsa yang tertinggal di balik bukit hanya karena perbedaan jarak. Pendidikan harus memerdekakan semua, tanpa kecuali.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026

“Bergerak Bersama, Wujudkan Ruang Belajar yang Aman dan Merata”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *