Makassar, Potretnusantara.co.id – Sejumlah anak tampak duduk di meja belajar sederhana di sebuah lorong di Jalan Sungai Cerekang, Kota Makassar. Di tengah keterbatasan ruang, mereka membaca, berdiskusi, dan bermain sambil belajar dalam program “Ruang Pintar” yang diinisiasi melalui kolaborasi berbagai pihak.
Di dinding ruangan, lukisan warna-warni menggambarkan cita-cita dan dunia yang lebih luas. Sementara itu, beberapa orang dewasa terlihat mengamati dan mendokumentasikan aktivitas tersebut. Ruang kecil itu menjadi simbol hadirnya akses belajar di tengah lingkungan yang sebelumnya minim fasilitas pendidikan.
Pengamat menyebut, inisiatif seperti Ruang Pintar memiliki kaitan dengan konsep Flynn Effect, yakni peningkatan kecerdasan manusia dari generasi ke generasi yang dipengaruhi oleh lingkungan.
“Jika Flynn Effect berbicara tentang meningkatnya kecerdasan manusia dari generasi ke generasi, maka Ruang Pintar seperti ini adalah salah satu “mesin sunyi” yang membuat peningkatan itu menjadi mungkin,” ujar Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Sabtu (25/4/2026).
Ia menegaskan bahwa peningkatan kecerdasan tidak terjadi secara alami tanpa intervensi. Faktor seperti pendidikan, gizi, dan lingkungan yang mendukung menjadi penentu utama.
“Flynn Effect tidak tumbuh di ruang hampa. Ia lahir dari intervensi dari kebijakan pendidikan, dari perbaikan gizi, dari lingkungan yang memberi rangsangan berpikir,” katanya.
Program Ruang Pintar Sungai Cerekang sendiri merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang digagas oleh PNM bersama komunitas dan pemangku kepentingan lainnya. Program ini bertujuan menghadirkan ekosistem belajar di lingkungan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
Menurut Mashud, anak-anak yang terlibat dalam program tersebut mungkin tidak memahami istilah akademik seperti Flynn Effect, tetapi aktivitas yang mereka lakukan memiliki dampak nyata terhadap perkembangan kognitif.
“Mereka tidak berbicara tentang skor IQ atau kemampuan abstraksi. Tetapi setiap aktivitas membaca, berdiskusi, bermain sambil belajar secara perlahan melatih otak mereka untuk berpikir lebih kompleks,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya kesenjangan akses pendidikan yang masih terjadi, bahkan dalam wilayah yang sama. Perbedaan lingkungan belajar dinilai berkontribusi pada ketimpangan perkembangan kecerdasan anak.
“Di kota yang sama, bahkan di kecamatan yang sama, bisa ada jurang yang lebar antara anak yang terpapar lingkungan belajar yang kaya dan anak yang tumbuh tanpa stimulasi yang cukup,” katanya.
Ruang Pintar, lanjutnya, diharapkan mampu menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan kemampuan kognitif, program ini juga dinilai penting dalam membangun kecerdasan sosial anak, terutama di tengah tantangan era digital.
“Anak-anak tidak hanya belajar mengenali pola di atas kertas atau layar. Mereka juga belajar berinteraksi, membaca emosi, dan memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya.
Meski demikian, Mashud mengingatkan agar program seperti Ruang Pintar tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik semata. Keberlanjutan program menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Ruang Pintar tidak boleh menjadi sekadar proyek simbolik hadir saat peresmian, lalu redup dalam keseharian,” tegasnya.
Ia menambahkan, konsistensi program, kualitas pendamping, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan inisiatif tersebut.
Jika dikelola secara serius, Ruang Pintar dinilai dapat menjadi model pengembangan pendidikan berbasis komunitas.
“Ruang Pintar bisa menjadi laboratorium kecil bagi masa depan, tempat di mana kecerdasan tidak hanya diukur dari seberapa cepat anak menjawab soal, tetapi dari bagaimana mereka memahami dunia di sekitarnya,” pungkasnya.














