Lingkungan

Maggot Masuk Lapas Makassar, Solusi Olah Sampah Organik dari Hulu

×

Maggot Masuk Lapas Makassar, Solusi Olah Sampah Organik dari Hulu

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Upaya penanganan sampah dari sumber (hulu) terus digencarkan di Kota Makassar. Sejalan dengan program Pemerintah Kota yang dipimpin Wali Kota Munafri Arifuddin, pendekatan zero waste diperkuat dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk lembaga pemasyarakatan.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui kolaborasi antara Yayasan Butta Porea Indonesia dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar dalam program Integrated Urban Farming, khususnya budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik.

Program ini bertujuan mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang dengan menyelesaikan persoalan sampah langsung dari sumbernya. Pendekatan zero waste yang diterapkan tidak lagi berfokus pada pembuangan, melainkan pengolahan sejak dari hulu, termasuk di lingkungan lapas.

Saat ini, volume sampah organik di Lapas Kelas I Makassar diperkirakan mencapai sekitar 500 kilogram per hari. Kondisi tersebut sebelumnya menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan di dalam lapas.

Budidaya maggot sebenarnya telah berjalan, namun kehadiran Yayasan Butta Porea Indonesia menghadirkan penyempurnaan sistem, baik dari sisi teknis maupun kapasitas produksi.

Pakar maggot dari Yayasan Butta Porea Indonesia, Rahmat Hidayat, mengatakan sistem yang diterapkan menggunakan dua pola strategi zero waste, yakni desentralisasi dan sentralisasi.

“Pada pola desentralisasi, fase awal kehidupan maggot, dari bayi hingga usia sekitar 12 hari, ditempatkan langsung di blok hunian warga binaan. Dengan pendekatan ini, warga binaan dapat secara langsung memberikan sisa makanan dan sampah organik kepada maggot,” ujar Rahmat, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, setelah memasuki fase berikutnya, maggot akan dipindahkan ke sistem sentralisasi di area Kebun Asimilasi dan Edukasi.

“Pada tahap ini, maggot memasuki fase prepupa, pupa, hingga menjadi serangga Black Soldier Fly (BSF), kemudian bertelur dan menghasilkan kembali baby maggot sebagai bagian dari siklus berkelanjutan,” jelasnya.

Rahmat menambahkan, sistem dua pola tersebut memiliki sejumlah keunggulan, antara lain aman diterapkan di dalam lapas karena minim bau dan tidak menimbulkan lalat, efisien karena sampah diolah langsung dari sumbernya, serta terukur dan berkelanjutan.

Selain itu, program ini juga bersifat edukatif karena melibatkan warga binaan dalam kegiatan produktif.

Setelah pemaparan konsep, Rahmat Hidayat menyampaikan rencana implementasi kepada Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, didampingi Kepala Bidang Bimbingan Kerja, Hendrik.

Dalam pertemuan tersebut, diajukan usulan untuk memulai uji coba pada satu blok hunian sebagai tahap awal sebelum diterapkan secara menyeluruh.

Melalui pendekatan ini, sampah khususnya sampah organik diharapkan dapat diselesaikan langsung dari sumbernya sekaligus menjadi bagian dari solusi berkelanjutan bagi Kota Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *