Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Sejumlah tokoh masyarakat dari Desa Luyo dan Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, mempertanyakan pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit yang dinilai tidak merata, Rabu (15/4/2026).
Nurdin, salah satu tokoh masyarakat, menilai alokasi DBH sawit justru lebih banyak diberikan kepada desa lain yang memiliki areal perkebunan lebih kecil. Sementara itu, Desa Luyo dan Tenggelang yang disebut memiliki areal perkebunan sawit terbesar di Kabupaten Polewali Mandar dinilai belum mendapatkan porsi yang sebanding, terutama untuk perbaikan jalan aspal.
“Kalau berbicara soal sawit, Desa Tenggelang dan Luyo bisa dikatakan sebagai wilayah dengan jumlah kebun sawit terbesar di Polman. Namun justru pembagian DBH lebih banyak mengalir ke desa lain,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan warga. Mereka berharap adanya transparansi dan kejelasan dari pemerintah daerah terkait mekanisme perhitungan dan distribusi DBH sawit.
Tokoh masyarakat juga meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan pembagian DBH agar penyalurannya lebih adil dan proporsional, sesuai dengan potensi dan kontribusi masing-masing desa.
“Harapan kami, pembagian ini bisa dikaji ulang agar desa yang memiliki kontribusi besar terhadap sektor sawit juga merasakan manfaat yang setimpal,” tambahnya.
Masyarakat menilai keadilan dalam distribusi DBH sangat penting untuk mendorong pembangunan desa serta meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya di wilayah penghasil komoditas sawit di Kecamatan Luyo.













