LifestyleOpini

Generasi Mager Tapi Hedon: Antara Gengsi Dan Kebutuhan Di Era Media Sosial

×

Generasi Mager Tapi Hedon: Antara Gengsi Dan Kebutuhan Di Era Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh: Nuraida

(Mahasiswi Pascasarjana UIN Palopo)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id –

Di sebuah kafe yang sedang ramai di pusat kota, sekelompok anak muda duduk mengelilingi meja dengan minuman kopi kekinian. Harga segelas kopi bisa mencapai puluhan ribu rupiah, bahkan lebih. Namun sebelum diminum, kopi itu lebih dulu difoto dari berbagai sudut, diedit secukupnya, lalu diunggah ke media sosial. Beberapa menit kemudian, foto tersebut sudah mendapat puluhan likes.

Fenomena ini menggambarkan realitas baru gaya hidup generasi muda di era
digital. Nongkrong di tempat estetik, membeli barang bermerek, hingga mencoba kuliner yang sedang viral bukan lagi sekadar aktivitas konsumsi biasa. Semua itu kini menjadi bagian dari pertunjukan identitas di media sosial.

Di tengah tren tersebut muncul label yang cukup populer: “Generasi Mager Tapi Hedon”. Generasi yang sering dianggap malas bergerak, tetapi di saat yang sama gemar mengkonsumsi gaya hidup mahal. Sebuah paradoks yang menarik sekaligus
mengundang perdebatan. Benarkah generasi muda hari ini benar-benar seperti itu?

Budaya Pamer di Era Digital

Media sosial telah mengubah cara manusia membangun citra diri. Jika dulu pengakuan sosial diperoleh melalui interaksi langsung, kini pengakuan itu bisa didapatkan melalui layar ponsel. Jumlah likes, komentar, dan pengikut sering kali menjadi ukuran baru popularitas.

Dalam situasi seperti ini, kehidupan sehari-hari pun berubah menjadi konten. Tidak mengherankan jika muncul fenomena yang sering disebut flexing, yaitu kebiasaan memamerkan gaya hidup tertentu di media sosial. Mulai dari pamer barang bermerek, liburan ke tempat wisata populer, hingga nongkrong di kafe yang sedang viral.

Masalahnya, budaya pamer ini sering kali menciptakan standar gaya hidup yang tidak realistis. Media sosial hanya menampilkan potongan-potongan kehidupan yang terlihat menarik. Orang jarang memamerkan kesulitan hidup, kegagalan finansial, atau tekanan ekonomi yang mereka alami.

Akibatnya, dunia digital terlihat jauh lebih
glamor daripada kenyataan. Di sinilah muncul fenomena yang oleh para sosiolog disebut sebagai “Ilusi Kemakmuran Digital.” Semua orang tampak hidup mewah di media sosial, meskipun realitasnya belum tentu demikian.

Gengsi yang Mengalahkan Kebutuhan

Salah satu dampak dari budaya media sosial adalah semakin kaburnya batas antara kebutuhan dan keinginan. Banyak anak muda merasa perlu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal. Gadget terbaru, pakaian bermerek, atau tempat nongkrong populer menjadi simbol status sosial baru.

Dalam konteks ini, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga alat untuk membangun citra diri.
Ironisnya, citra tersebut sering kali dibangun di atas fondasi ekonomi yang belum stabil. Tidak sedikit anak muda yang rela menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk gaya hidup, bahkan menggunakan fasilitas kredit digital atau layanan “paylater” untuk memenuhi keinginan konsumtif.

Teknologi finansial memang mempermudah transaksi. Namun kemudahan ini juga dapat menjadi jebakan jika tidak disertai kesadaran finansial yang baik. Pada akhirnya, gaya hidup mewah yang dipamerkan di media sosial sering kali lebih banyak didorong oleh gengsi sosial daripada kebutuhan nyata.

Antara Stereotip dan Realitas

Istilah “Generasi Mager” sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya adil. Generasi muda saat ini hidup dalam lanskap ekonomi dan teknologi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Banyak anak muda yang justru memanfaatkan internet untuk bekerja, berbisnis, atau membangun karier di bidang ekonomi kreatif.

Profesi seperti kreator konten, desainer digital, hingga pengusaha startup menunjukkan bahwa teknologi juga
membuka peluang produktivitas yang besar. Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial juga menciptakan budaya konsumsi yang semakin kuat. Sebagian generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai ekonomi. Tetapi sebagian lainnya justru terjebak dalam budaya pencitraan.

Di sinilah muncul paradoks yang menarik: generasi yang sangat terhubung dengan teknologi, tetapi sekaligus sangat rentan terhadap tekanan gaya hidup digital.

Tekanan Sosial yang Tak Terlihat

Salah satu aspek yang sering diabaikan dalam diskusi ini adalah tekanan psikologis yang muncul dari media sosial. Setiap hari, generasi muda disuguhi berbagai gambaran kehidupan yang terlihat sempurna. Teman yang liburan ke luar negeri, influencer yang memamerkan barang mewah, atau selebritas digital yang hidupnya tampak serba glamor.

Tanpa disadari, semua itu menciptakan budaya perbandingan sosial yang terus menerus. Ketika seseorang merasa kehidupannya tidak seindah yang terlihat di media sosial, muncul dorongan untuk mengejar citra yang sama—meskipun harus memaksakan diri. Akibatnya, media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi cerita, tetapi juga arena kompetisi gaya hidup.

Menjadi Generasi yang Lebih Sadar

Menyalahkan generasi muda sepenuhnya tentu bukan solusi. Setiap generasi menghadapi tantangannya sendiri. Jika generasi sebelumnya menghadapi keterbatasan akses informasi, generasi sekarang justru menghadapi ledakan informasi dan tekanan citra digital. Yang lebih penting adalah bagaimana generasi muda mampu membangun kesadaran kritis terhadap realitas media sosial.

Tidak semua yang terlihat di layar adalah kenyataan. Banyak kehidupan yang tampak sempurna di media sosial sebenarnya merupakan hasil kurasi yang sangat selektif. Karena itu, generasi muda perlu belajar membedakan antara gaya hidup yang
dibangun untuk pamer dan kehidupan yang benar-benar berkelanjutan secara
finansial dan emosional. Produktivitas, kreativitas, dan kemandirian finansial jauh lebih penting daripada sekadar citra digital.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh jumlah likes atau jumlah pengikut. Dunia nyata jauh lebih kompleks daripada sekadar unggahan di media sosial. Jika generasi muda mampu menyadari hal ini, maka mereka tidak hanya akan
menjadi generasi digital, tetapi juga generasi yang lebih bijak dalam menghadapi godaan gaya hidup era media sosial.

Editor: S PNs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *