LingkunganOpini

Sampah, TPA, dan Kita yang Kadang Lebih Bau dari Masalahnya

×

Sampah, TPA, dan Kita yang Kadang Lebih Bau dari Masalahnya

Sebarkan artikel ini

(Catatan Seorang Komika yang Terlalu Sering Lewat Antang)

Oleh: Muhammad Mastricht (Thio)
Komika

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Kalau ada yang bilang Makassar itu kota yang tidak pernah tidur, mungkin dia belum pernah lewat TPA Antang jam dua siang. Di sana, bukan cuma kota yang bangun sampahnya juga. Lengkap dengan aromanya yang… ya, katakanlah lebih jujur dari janji politik.

Sebagai stand up comedian, saya ini sering ditanya: “Bang, materi apa yang paling gampang dibikin lucu?”
Saya jawab: “Sampah.”

Karena dia ada di mana-mana. Bahkan kadang lebih konsisten dari mantan.
Masalahnya, sampah ini bukan cuma bahan becandaan. Dia juga bahan perenungan. Dan di Makassar, perenungan itu kadang datang lebih cepat dari bau. Belum sempat mikir dalam, hidung sudah duluan menyerah.

Antara Rumah, Jalanan, dan TPA: Rantai yang Kita Pura-Pura Putus

Kita ini lucu sebenarnya. Di rumah, kita rajin bersih-bersih. Sapu tiap pagi, pel tiap sore. Sampah dibungkus rapi, diikat, bahkan kadang disemprot pewangi.
Pokoknya, kita perlakukan sampah seperti tamu penting yang harus segera diantar keluar.
Begitu keluar dari pagar rumah?
“Bukan urusan saya lagi, bro.”

Padahal, itu bukan “keluar dari hidup kita”. Itu cuma pindah alamat dari rumah ke jalan, dari jalan ke TPS, dari TPS ke TPA Antang. Dan di sanalah semua dosa kecil kita berkumpul, bikin reuni akbar tiap hari.
Kalau sampah bisa bicara, mungkin dia akan bilang: “Terima kasih sudah membuang saya. Tapi jangan lupa, saya tidak hilang. Saya cuma ganti lokasi, bukan ganti nasib.”

TPA Antang: Tempat Sampah yang Jadi Tempat Harapan

Banyak orang lihat TPA itu sebagai tempat akhir. Padahal, bagi sebagian orang, itu justru tempat awal tempat mereka mencari hidup.

Ada pemulung yang lebih hafal isi kantong kita daripada kita sendiri. Kita saja kadang lupa buang apa kemarin, mereka tahu:
“Oh ini, plastik Indomie tiga bungkus, sama galon bocor satu.”

Dan ironisnya, di tengah gunungan sampah itu, mereka menemukan nilai. Sementara kita? Di tengah kehidupan yang katanya modern, kita justru makin jago menghasilkan sampah, tapi makin malas mengelola.

Kita ini seperti komika yang cuma bisa setup, tapi lupa punchline.

PSEL dan Ketakutan yang Kadang Lebih Besar dari Bau

Sekarang Makassar mulai bicara soal PSEL—Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik. Kedengarannya keren. Sampah jadi listrik. Dari bau jadi terang.
Tapi seperti biasa, setiap ada rencana besar, ada juga ketakutan besar.
“Bagaimana dampaknya?”
“Aman tidak?”
“Jangan-jangan ini cuma proyek lagi?”
Wajar. Kita ini bangsa yang sudah terlalu sering dijanjikan solusi, tapi yang datang malah spanduk peresmian.

Namun di sisi lain, kalau kita terus menolak tanpa mau tahu, kita juga seperti penonton stand up yang belum dengar punchline sudah teriak, “Garing!”
Padahal mungkin lucunya ada di akhir.

Kita Ini Bagian dari Masalah… yang Suka Cari Kambing Hitam

Jujur saja, kita ini kadang lebih cepat menyalahkan pemerintah daripada menyalahkan kebiasaan sendiri.
Padahal, kalau dihitung-hitung, satu rumah bisa menghasilkan beberapa kilo sampah per hari. Kali sekian ribu rumah. Kali sekian tahun.

Itu bukan lagi masalah. Itu sudah jadi “warisan budaya tak benda”.
Bayangkan kalau UNESCO tahu: “Selamat! Sampah Makassar resmi jadi warisan dunia. Karena tidak pernah habis.”
Lucu? Iya. Tapi juga agak menyedihkan.

Eco Enzyme, Bank Sampah, dan Harapan yang Sering Dianggap Receh

Di tengah semua itu, ada orang-orang yang mulai bergerak. Bikin eco enzyme, bank sampah, edukasi dari rumah ke rumah.
Masalahnya, gerakan seperti ini sering dianggap kecil.
“Ah, begitu saja?”
“Ih, ribet.”
“Tidak ngaruh besar.”
Padahal, semua perubahan besar itu awalnya memang kelihatan kecil. Sama seperti komika awalnya open mic di depan 10 orang, diketawain 2 orang saja sudah syukur. Lama-lama bisa satu gedung.

Sampah juga begitu. Kalau semua orang mulai dari rumah, mungkin TPA tidak perlu sebesar sekarang. Atau minimal, baunya tidak sampai jadi bahan stand up tiap minggu.

Penutup: Jangan Sampai Kita Lebih Bau dari Sampah Itu Sendiri

Akhirnya, saya sadar satu hal:
Masalah sampah ini bukan soal teknologi saja. Bukan cuma soal TPA atau PSEL. Ini soal kebiasaan. Soal cara kita memandang sesuatu yang kita anggap “tidak penting”.

Karena yang kita buang setiap hari itu bukan cuma plastik atau sisa makanan. Kadang kita juga buang tanggung jawab.
Dan kalau itu terus terjadi, jangan heran kalau suatu hari nanti, yang paling bau di kota ini bukan lagi TPA Antang… tapi cara berpikir kita sendiri.

Tenang, ini bukan ceramah. Saya tetap komika.
Cuma ya… kadang hidup ini memang lucu.
Kita takut sama bau sampah,
tapi tidak takut jadi bagian dari sumbernya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Oleh: Mustamin Raga Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada…