Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Setelah kita melewati malam Jumat ganjil yang penuh dengan resonansi Lailatul Qadar, perjalanan spiritual kita belum berakhir. Hari Jumat di bulan Ramadan bukan sekadar hari libur atau hari kerja biasa; ia adalah “hari raya mingguan” yang menyimpan sebuah rahasia waktu. Ada satu titik di hari ini di mana doa tidak akan tertolak sebuah momen singkat yang oleh para ulama disebut sebagai Sa’atul Ijabah (Waktu Mustajab).
Protokol Komunikasi Tanpa Hijab
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa pada hari Jumat terdapat suatu waktu, yang jika seorang Muslim berdiri shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Beliau memberikan isyarat dengan tangannya betapa singkatnya waktu tersebut (HR. Bukhari & Muslim).
Secara Religiolinguistik, ini adalah “Linguistic Shortcut” (jalan pintas bahasa). Jika biasanya kita membutuhkan rangkaian ibadah panjang untuk membangun koneksi, di waktu ini, setiap kata yang kita langitkan memiliki “jalur ekspres”. Diksi yang sederhana seperti “Ya Allah, ampunilah aku” di detik-detik ini, memiliki bobot resonansi yang setara dengan doa berjam-jam di waktu lainnya.
Mencari Titik Fokus: Antara Khutbah dan Asar
Di mana titik emas itu berada? Para ulama memiliki dua pendapat kuat yang bisa kita dekati dengan rasa syukur:
Pertama, Duduknya Imam di Antara Dua Khutbah: Inilah momen keheningan di tengah keramaian. Saat jamaah terdiam dan khatib duduk sejenak, itulah waktu untuk membasahi hati dengan doa.
Kedua, Setelah Ashar hingga Terbenam Matahari: Inilah pendapat yang banyak dipegang. Di penghujung hari Jumat, saat perut kita sedang dalam puncak rasa lapar puasa, kondisi psikolinguistik manusia berada pada titik paling pasrah dan rendah hati (khusyu’).
Harmonisasi Lapar-Dahaga dan Doa
Ramadan memberikan nilai tambah pada hari Jumat. Saat kita berada dalam kondisi puasa, lisan kita terjaga dari “polusi bahasa”. Perut yang kosong membantu menjernihkan frekuensi hati. Ketika kondisi puasa ini bertemu dengan waktu mustajab di penghujung hari Jumat, terjadi sebuah Sinergi Transendental.
Inilah saat di mana kita harus mempraktikkan Qaulan Karima kepada Allah berbicara dengan penuh pemuliaan, pengakuan akan kelemahan diri, dan keyakinan mutlak pada kemurahan-Nya. Pribadi yang bertaqwa tidak akan menyia-nyiakan waktu ini hanya dengan bersantai menunggu buka puasa, melainkan menjadikannya sebagai momentum untuk “mengetuk pintu langit” dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya.
Infaq: “Actional Language” yang Memvalidasi Doa
Kedahsyatan Golden Hour ini akan mencapai puncaknya jika kita menyertainya dengan Infaq. Jika doa adalah permohonan secara lisan, maka infaq adalah “Actional Language” (bahasa tindakan) yang memvalidasi doa tersebut. Secara religiolinguistik, infaq berfungsi sebagai amplifier (penguat sinyal) bagi permohonan kita.
Di detik-detik menjelang berbuka, saat kita melepaskan sebagian harta (infaq) di tengah perjuangan menahan nafsu (puasa), kita sebenarnya sedang mengirimkan pesan yang sangat kuat kepada Allah: “Ya Allah, aku melepaskan dunia demi mengejar cinta-Mu.” Infaq di waktu mustajab ini menjadi bukti otentik dari ketulusan Himmah (tekad) kita. Ia adalah “tanda tangan” yang mengesahkan permohonan lisan kita menjadi sebuah kesungguhan yang nyata.
Penutup
Jika malam Jumat adalah tentang keheningan I’tikaf, maka siang hari Jumat Ramadan adalah tentang kesigapan menangkap peluang. Jangan biarkan detik-detik berharga di penghujung asar ini berlalu begitu saja. Mari kita siapkan “proposal doa” terbaik kita. Sebab, di antara miliaran kata yang diucapkan manusia hari ini, bisa jadi satu kalimat tulus di sore Jumat inilah yang akan mengubah garis takdir kita selamanya.
ربّ اغفرلي…












