News

Nobar The Hunger Games, Kamisan Majene Soroti Ketimpangan

×

Nobar The Hunger Games, Kamisan Majene Soroti Ketimpangan

Sebarkan artikel ini

Majene, Potretnusantara.co.id – Praktik kekuasaan yang melanggengkan ketimpangan, membungkam kritik, hingga melemahkan gerakan mahasiswa menjadi sorotan dalam diskusi film “The Hunger Games” yang digelar Kamisan Majene di Tomelo Cafe, Lembang, Majene, Kamis (5/11/2026).

Melalui kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi tersebut, Kamisan Majene mengajak mahasiswa dan masyarakat melihat film bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai medium untuk membaca realitas sosial dan politik, terutama relasi kekuasaan serta kondisi demokrasi saat ini.

Salah seorang peserta diskusi, Berlian, mengatakan “The Hunger Games” menghadirkan gambaran tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan melalui sistem yang menciptakan ketimpangan. Dalam sistem tersebut, sebagian kelompok terus menikmati kekuasaan, sementara kelompok lainnya harus menanggung penindasan.

“Bagi kami, negara seperti gambaran dalam film ini. Selalu ada permainan yang pada akhirnya hanya menghasilkan dua hal: mereka yang menang akan terus berkuasa, sementara mereka yang kalah harus hidup dalam penindasan, bahkan kehilangan nyawa,” ujar Berlian.

Menurutnya, praktik permainan kekuasaan saat ini tidak lagi berlangsung di arena seperti yang digambarkan dalam film. Namun, pola serupa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat, penegakan hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, pembungkaman kritik, hingga upaya mengendalikan gerakan mahasiswa.

Selain menyoroti praktik kekuasaan, diskusi tersebut juga mengarah pada persoalan melemahnya sikap kritis di kalangan mahasiswa.

Kamisan Majene mengkritik kecenderungan sebagian mahasiswa yang menjadikan gerakan dan aksi demonstrasi sebagai kepentingan transaksional. Termasuk mereka yang turun ke jalan karena bayaran, serta mahasiswa yang justru memilih mendekat kepada kekuasaan dibandingkan memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Jika kita berhenti peduli, suatu saat kita akan berada di pihak yang kalah. Bukan semata-mata karena kalah dalam permainan, tetapi karena kita memilih diam dan membiarkan ketidakadilan terus berlangsung,” tegasnya.

Dari diskusi tersebut, Kamisan Majene menegaskan tiga sikap yang perlu dipertahankan mahasiswa dalam menghadapi praktik ketidakadilan.

Pertama, menolak menjadi mahasiswa yang dapat dibeli, dimanfaatkan, dan dikendalikan oleh kepentingan kekuasaan.

Kedua, menolak bersikap pasif ketika kekuasaan digunakan untuk menindas rakyat.

Ketiga, terus merawat ingatan, membangun kesadaran, serta mempertahankan sikap kritis sebagai bagian dari perjuangan melawan ketidakadilan.

Kamisan Majene menegaskan, gerakan Kamisan bukan sekadar agenda berkumpul setiap pekan. Lebih dari itu, Kamisan merupakan ruang konsolidasi dan gerakan sosial untuk membangun kesadaran bersama agar masyarakat tidak terbiasa dengan ketidakadilan, tidak melupakan persoalan yang terjadi, serta tidak mudah dibeli oleh kepentingan tertentu.

“Kita mungkin tidak sedang merebut kekuasaan malam ini. Namun, setidaknya kita sedang berusaha merebut kembali kesadaran kita. Sebab, ketika kesadaran sudah tumbuh, kita tidak akan mudah dibungkam,” tutup berlian.

Kamisan Majene menyatakan akan terus menggelar aksi Kamisan selama ketidakadilan masih terjadi dan suara rakyat masih dibungkam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *