Jakarta, Potretnusantara.co.id – Binus University melalui Binus Business School bersama PERMATA Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menggelar ASEAN Symposium on Higher Education di Kampus Binus University @JWC, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi forum pertukaran gagasan akademik antara mahasiswa dan kalangan pendidikan tinggi dari Indonesia dan Malaysia. Simposium juga diisi dengan pembahasan studi kasus serta diskusi mahasiswa mengenai berbagai tantangan pendidikan dan perkembangan sosial-ekonomi di kawasan ASEAN.
Salah satu agenda utama ialah Case Study Competition. Dalam sesi tersebut, mahasiswa ditantang menganalisis sejumlah studi kasus dan merumuskan solusi strategis yang relevan dengan perkembangan pendidikan tinggi serta ekosistem bisnis di kawasan ASEAN.
Selain itu, kegiatan dilanjutkan dengan Student Symposium yang menghadirkan delegasi mahasiswa PERMATA UKM dan Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP). Forum tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk bertukar perspektif mengenai berbagai persoalan kontemporer dan peran generasi muda dalam membangun kolaborasi kawasan.
Komite Saintifik ASEAN Symposium on Higher Education, Ismail Suardi Wekke, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang untuk mengembangkan gagasan mengenai masa depan pendidikan tinggi di kawasan ASEAN.
“Simposium ini bukan sekadar panggung akademik biasa, melainkan laboratorium gagasan bagi masa depan integrasi ASEAN,” kata Ismail Suardi Wekke di sela-sela kegiatan.
Menurut Ismail, perkembangan global yang berlangsung cepat membutuhkan penguatan kerja sama pendidikan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.
“Kita tidak bisa lagi sekadar membangun tembok di kampus masing-masing. Pertukaran epistemologis antara Binus University dan PERMATA UKM ini adalah prototipe dari integrasi pemikiran kawasan yang sesungguhnya,” tuturnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan mahasiswa dalam Case Study Competition dan Student Symposium. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan analisis sekaligus merespons persoalan nyata.
“Melalui pelibatan langsung delegasi mahasiswa dan Ruang Kolaborasi Pemuda (RKP), kita melihat keberanian generasi muda dalam membedah problem nyata,” ucap Ismail.
“Mereka tidak lagi meraba-raba teori di dalam ruang kelas yang kedap suara, tetapi langsung turun tangan berhadapan dengan kompleksitas ekosistem bisnis dan sosial di Asia Tenggara,” lanjutnya.
Ismail berharap pertukaran gagasan yang berlangsung dalam simposium tersebut dapat dilanjutkan melalui kegiatan akademik dan kolaborasi konkret setelah acara berakhir.
“Gagasan-gagasan progresif yang lahir di kampus Senayan hari ini harus direplikasi dan dikawal terus. Inilah modal sosial terpenting kita untuk membangun identitas pendidikan ASEAN yang tangguh, adaptif, dan berakar kuat pada kearifan serumpun,” ujarnya.
ASEAN Symposium on Higher Education merupakan inisiatif bersama FDCHT Binus University dan SEAAM. Kegiatan tersebut juga melibatkan mitra perguruan tinggi UCYP University dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan.
Forum tersebut, kolaborasi akademik antara perguruan tinggi dan organisasi mahasiswa dari negara-negara ASEAN diarahkan untuk memperluas pertukaran pengetahuan, gagasan, serta jejaring generasi muda di kawasan Asia Tenggara.














