Makassar, Potretnusantara.co.id – Healing ke pulau biasanya diisi dengan menikmati laut, berfoto, atau sekadar bersantai. Namun, Komunitas Historia Bone bersama mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM) memilih cara berbeda mengisi waktu di Pulau Samalona, Minggu (5/9/2026).
Di tengah suasana pantai, mereka menggelar diskusi terbuka tentang sejarah lokal. Suasananya dibuat santai agar sejarah tidak selalu identik dengan ruang kelas dan pembahasan yang kaku.
Ketua Komunitas Historia Bone, Andi Aso Tenritatta, mengatakan kegiatan tersebut ingin menunjukkan bahwa belajar sejarah bisa dilakukan di mana saja, termasuk saat sedang berlibur.
Menurut Andi Aso, membawa diskusi ke tempat wisata juga menjadi cara untuk membuat sejarah terasa lebih dekat dengan generasi muda.
“Kami ingin mengubah cara orang melihat sejarah. Sejarah tidak harus selalu serius dan berlangsung di ruang kelas. Sambil menikmati suasana Samalona, kita bisa bertukar pandangan tentang sejarah,” ujar Aso.
Salah satu peserta, I Gusti Ngurah Yudiantara, mengapresiasi konsep tersebut. Menurutnya, diskusi di tempat terbuka membuat pembahasan sejarah terasa lebih santai dan menarik.
“Menarik juga, healing sambil diskusi. Jadi kita tidak hanya menikmati tempatnya, tapi pulang juga membawa pengetahuan baru,” ungkap I Gusti.
Diskusi berlangsung interaktif dengan pemaparan materi dan sesi tanya jawab. Sejumlah anggota komunitas, mahasiswa, hingga wisatawan yang berada di Pulau Samalona ikut terlibat.
Komunitas Historia Bone berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di berbagai ruang publik di Sulawesi Selatan.




























