News

Terima KKDB, Wali Kota  Appi Ajak Kolaborasi Atasi Sampah dari Rumah, Jadi Sumber Ekonomi

×

Terima KKDB, Wali Kota  Appi Ajak Kolaborasi Atasi Sampah dari Rumah, Jadi Sumber Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, mengajak organisasi daerah untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dan memilah sampah sejak dari rumah.

Hal tersebut disampaikan Munafri saat menerima silaturahmi Kerukunan Keluarga Daerah Barru (KKDB) di Balai Kota Makassar, Jumat (21/8/2026).





“Lewat kesempatan ini, kami mengajak KKDB. Mari kita mulai aksi bersih-bersih lingkungan dan pilah sampah dari rumah untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari sampah,” ajak Munafri.

Menurutnya, persoalan sampah di Kota Makassar tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan kegiatan bersih-bersih maupun penanganan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara maksimal.

Ia mengatakan, pengelolaan sampah harus dibangun sebagai sebuah sistem yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah Kota tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, komunitas, dunia pendidikan, hingga kelompok-kelompok yang berada di tingkat kelurahan.

Karena itu, kata dia, kolaborasi dalam penanganan sampah tidak boleh hanya berhenti pada tingkat pengurus organisasi, tetapi harus diteruskan kepada masyarakat secara luas.

“Maka dari itu, saya kira kolaborasi ini tidak hanya di level pengurus, tapi juga masyarakat luas. Kita punya perwakilan untuk ada di Kota Makassar,”  katanya.

Munafri menjelaskan, pemerintah saat ini terus membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya.

Salah satu hal yang terus didorong adalah pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.

Ia menilai, kebiasaan memilah sampah memang tidak mudah dibangun karena masyarakat selama bertahun-tahun terbiasa mencampurkan seluruh jenis sampah dalam satu wadah.

Perubahan tersebut, lanjut Munafri, membutuhkan proses edukasi dan pemahaman secara terus-menerus.

“Banyak sekali yang skeptis karena kita merubah perilaku, merubah habit yang seperti itu. Ada yang mau stay dengan sistem yang lama, sementara kita harus mendorong bagaimana proses pemilahan ini bisa berjalan,”  jelasnya.

Appi mengakui bahwa penerapan sistem baru dalam pengelolaan sampah instruksi pusat, meskipun  tidak serta-merta sempurna.

Namun, pemerintah Kota harus berani melakukan perubahan karena kondisi pengelolaan sampah saat ini menuntut adanya sistem yang lebih baik.

“Ini memang tidak sempurna, tapi ke depan kita akan membangun sebuah sistem yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Munafri menegaskan, penanganan sampah tidak lagi dapat sepenuhnya dibebankan kepada TPA. Volume sampah yang terus meningkat membuat pemerintah harus memperkuat penanganan sejak dari sumbernya.

Karena itu, pemilahan sampah dari rumah menjadi bagian penting dalam mengurangi beban yang masuk ke TPA.

“Karena kondisi tidak memungkinkan lagi ada penumpukan sampah secara bersamaan ke TPA. Sehingga memang yang harus diselesaikan itu adalah di hilir,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga mulai mengembangkan berbagai pendekatan agar sampah tidak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat.

Menurut Munafri, ke depan masyarakat harus mulai melihat sampah sebagai sesuatu yang memiliki nilai apabila dikelola dengan benar.

“Nah, sekarang kita masuk ke dalam era untuk mengubah sampah menjadi uang,”  tegasnya.

Salah satu instrumen yang terus diperkuat pemerintah adalah keberadaan bank sampah.

Tidak hanya sampah anorganik yang memiliki nilai jual, pemerintah juga mulai mendorong pengelolaan sampah organik agar dapat memberikan manfaat ekonomi.

Lanjut dia, sampah organik, kata Munafri, dapat diproses menjadi kompos yang selanjutnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian maupun penghijauan.

“Tidak hanya sampah anorganik yang bisa dijual-belikan, ke depannya juga sampah organik setelah melalui hasil proses yang akhirnya menjadi kompos,” ungkapnya.

Dia bahkan membuka peluang agar pemerintah dapat menyerap hasil pengolahan sampah organik tersebut untuk kebutuhan tanaman yang dikelola pemerintah.

“Ini nanti akan menjadi bagian dari kewajiban pemerintah mungkin membeli dari sampah ini sebagai pupuk untuk tanaman-tanaman yang ditanam oleh pemerintah,” imbuh Appi.

“Dan dipakai masyarakat untuk bagaimana mengantisipasi yang namanya pertanian modern di tingkat bawah,” lanjutanya.

Selain pengelolaan sampah, Munafri juga memaparkan sejumlah inovasi berbasis masyarakat yang tengah dikembangkan di tingkat kelurahan.

Salah satunya adalah rencana menjadikan Kelurahan Balla Parang sebagai kelurahan tematik berbasis herbal.

Program tersebut diinisiasi bersama dr Anna, yang selama ini memiliki perhatian terhadap pengembangan tanaman herbal.

Munafri mengatakan, pengembangan Balla Parang sebagai kelurahan herbal diharapkan dapat menjadi contoh bagaimana potensi lingkungan sekitar rumah dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesehatan sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Beberapa kelurahan akan menjadi kelurahan tematik. Salah satunya Kelurahan Balla Parang. Dan itu diinisiasi oleh orang baru, Ibu Dokter Anna yang dulu di ahli herbal,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut, Munafri juga menyinggung perubahan kondisi lingkungan di kawasan Antang, khususnya kawasan yang selama ini dikenal berkaitan erat dengan persoalan persampahan.

Ia menyebut kondisi lingkungan di kawasan tersebut kini menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya.

“Di Antang itu dulu kalau kita lewat itu bau sekali, sekarang Alhamdulillah sudah bagus sekali,” tegasnya.

Mantan CEO PSM itu menegaskan, perubahan tersebut harus terus dijaga dan diperkuat melalui keterlibatan masyarakat.

Dia berharap kehadiran berbagai kelompok masyarakat, termasuk KKDB, dapat menjadi bagian dari gerakan bersama membangun Kota Makassar melalui kontribusi sesuai bidang masing-masing.

“Dengan kehadiran Bapak Besar ini, keberadaan Kota Makassar banyak hal yang bisa diselesaikan bersama-sama,”  pungkas Munafri. (*)















Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *