Polewali Mandar, PotretNusantara.co.id – Kebakaran marak terjadi di Kabupaten Polewali Mandar saat musim kemarau. Dalam lima hari, sejak 6 hingga 10 Agustus 2026, UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Polman mencatat delapan insiden kebakaran, enam di antaranya merupakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Dari enam kejadian Karhutla tersebut, total area yang terbakar mencapai lebih dari 7 hektare. Kebakaran terjadi di sejumlah wilayah dengan karakter medan yang berbeda, mulai dari lahan warga, perbukitan hingga perkebunan sawit.
Kondisi tersebut membuat personel Damkar harus bekerja maraton. Selain menghadapi cuaca panas dan angin kencang, petugas juga harus berjibaku di medan terjal yang tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, S.IP., M.M., mengatakan tingginya frekuensi kebakaran dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius pihaknya.
“Tingginya intensitas kebakaran lahan dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius kami. Mayoritas pemicunya adalah kelalaian (human error), seperti pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan cara dibakar, serta kurangnya pengawasan pada sisa bara api yang kemudian ditiup angin kencang,” kata Imran.
Menurutnya, kondisi medan di sejumlah lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Bahkan, personel harus melakukan pemadaman secara manual ketika armada tidak dapat masuk ke titik kebakaran.
“Di beberapa titik ekstrem, personel kami bahkan harus melakukan pemadaman manual dengan menggunakan ranting pohon karena armada tidak bisa menembus medan terjal maupun perkebunan,” ujarnya.
Delapan Kebakaran dalam Lima Hari
Rentetan kebakaran tersebut dimulai pada Kamis (6/8/2026). Kebakaran lahan terjadi di Desa Paku, Kecamatan Binuang, sekitar pukul 12.42 WITA.
Lahan seluas sekitar 50 are milik warga bernama Sinar terbakar. Regu A Pos Induk Polewali tiba sekitar 15 menit setelah menerima laporan dan berhasil memadamkan api dalam waktu 17 menit. Tidak ada korban jiwa maupun kerugian materiil dalam kejadian tersebut.
Pada hari yang sama, kebakaran terjadi di tumpukan ampas kayu di Jalan Basseang, Duampanua, Kecamatan Anreapi. Api diduga berasal dari pembakaran sisa ampas kayu yang kemudian menyisakan bara di bagian dalam tumpukan.
Petugas tiba sekitar 10 menit setelah laporan diterima. Pemadaman dilakukan dengan membongkar material dan melakukan penyiraman hingga api benar-benar padam.
Dua hari kemudian, Sabtu (8/8/2026), kebakaran kembali terjadi di Dusun Sappoang, Kecamatan Matakali. Api membakar sisa tebangan pohon kelapa dan rumput kering.
Regu C Pos Induk Damkar merespons laporan tersebut dalam waktu sekitar tiga menit. Pemadaman dan pendinginan berlangsung sekitar 30 menit.
Kebakaran dengan skala lebih besar terjadi pada Minggu (9/8/2026) di perbukitan Dusun Tondo, Desa Pallis, Kecamatan Balanipa.
Api membakar area perbukitan seluas sekitar tiga hektare. Petugas Damkar Pos Tinambung tiba 12 menit setelah menerima laporan.
Petugas membutuhkan waktu sekitar satu jam 12 menit untuk menaklukkan api. Medan lereng yang terjal, terik matahari dan tiupan angin kencang menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman.
Pada hari yang sama, kebakaran juga terjadi di lahan kosong dekat Mako Damkar Polman, Kecamatan Matakali. Pembakaran sampah memicu kobaran api sekitar pukul 18.30 WITA.
Karena akses jalan sempit dan armada tidak dapat mendekati titik api, personel bersama warga melakukan pemadaman secara manual.
Kebakaran berikutnya terjadi di perkebunan sawit Dusun Landi, Desa Baru, Kecamatan Luyo. Api yang diduga berasal dari pembakaran lahan yang tidak terkendali membakar sekitar tiga hektare area perkebunan.
Kerugian materiil dalam kejadian tersebut ditaksir mencapai Rp20 juta. Tiga armada gabungan dari Pos Induk Polewali, Pos Wonomulyo dan Pos Campalagian dikerahkan bersama TNI-Polri.
Namun, keterbatasan akses jalan membuat armada tidak dapat masuk hingga titik tengah lokasi kebakaran.
Pada Senin (10/8/2026), kebakaran kembali terjadi di perbukitan Dusun Kananga, Desa Papandangan, Kecamatan Anreapi.
Kebakaran diduga dipicu gesekan kabel listrik dengan ranting pohon kering. Regu B Pos Induk tiba sekitar 15 menit setelah laporan diterima.
Pemadaman dilakukan bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas dan masyarakat yang membawa tangki penyemprot pertanian manual. Api berhasil dipadamkan dan dilakukan pendinginan sekitar 20 menit.
Masih pada hari yang sama, kebakaran melanda bagian depan sebuah rumah kosong di Jalan Ciputih, Desa Sidorejo, Kecamatan Wonomulyo.
Api diduga berasal dari korsleting kabel induk listrik yang kemudian menyambar ranting pohon dan tumpukan bahan mudah terbakar di sekitar rumah.
Warga terlebih dahulu melakukan pemadaman secara swadaya sebelum armada Damkar tiba. Tiga unit armada dari Pos Induk Polewali dan Pos Wonomulyo kemudian melakukan lokalisasi dan pendinginan.
Api berhasil dipadamkan sekitar 15 menit tanpa korban jiwa maupun luka-luka.
Damkar Ingatkan Warga
Imran mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, aparat desa dan masyarakat dalam membantu proses pemadaman di sejumlah lokasi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada jajaran TNI, Polri, Bhabinkamtibmas, Babinsa, aparat desa, serta warga masyarakat yang bergerak bahu-membahu di lapangan. Sinergi ini terbukti efektif menekan perluasan dampak Karhutla di Polewali Mandar,” tambahnya.
Meningkatnya kejadian kebakaran di tengah musim kemarau juga mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar.
Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud telah menerbitkan Surat Imbauan Peringatan Dini Kebakaran Permukiman dan Karhutla Nomor B-125/300.2.3/BPBD/VII/2026.
Imbauan tersebut mengacu pada pemutakhiran data BMKG terkait fenomena El Niño dan prediksi curah hujan di bawah normal selama periode Juli hingga September 2026.
Pemerintah daerah meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah maupun ranting di area terbuka tanpa pengawasan, serta memastikan seluruh bara api benar-benar padam sebelum ditinggalkan.
Masyarakat juga diminta memeriksa instalasi listrik secara berkala, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan kompor, obat nyamuk bakar dan lampu pelita dalam kondisi mati ketika rumah ditinggalkan.
Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan pemadaman kebakaran, evakuasi satwa maupun penanganan kondisi kedaruratan non-kebakaran, dapat menghubungi Mako Damkar Polman di (0428) 22113. (Ifn)















