Pemerintahan

Dua Camat Makassar Tegaskan Sampah di Kanal Bukan Dampak Program Pemilahan Sampah

×

Dua Camat Makassar Tegaskan Sampah di Kanal Bukan Dampak Program Pemilahan Sampah

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Pemerintah Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Mariso meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait tumpukan sampah di sejumlah kanal di Makassar. Keduanya menegaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh program pemilahan sampah yang diterapkan Pemerintah Kota Makassar, melainkan persoalan lama akibat kebiasaan sebagian warga membuang sampah sembarangan ke saluran air.

Tumpukan sampah terlihat di kanal yang berada di perbatasan Kelurahan Sambung Jawa, Kecamatan Mamajang, dengan Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Selasa (4/8/2026). Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kecamatan Tamalate bersama unsur terkait melakukan pembersihan sampah di sepanjang kanal.

Camat Tamalate Muhammad Aril Syahbani mengatakan kondisi kanal di wilayah Kelurahan Maccini Sombala telah kembali bersih setelah dilakukan pembersihan.

“Kami menyampaikan bahwa kondisi kanal sepanjang wilayah Maccini Sombala dalam keadaan bersih. Ini di sepanjang kanal yang berbatasan dengan wilayah Maccini Sombala,” ujar Aril.

Ia menegaskan persoalan sampah di kanal telah terjadi jauh sebelum program pemilahan sampah diberlakukan. Menurutnya, penyebab utama tumpukan sampah adalah masih adanya masyarakat yang membuang sampah langsung ke kanal.

“Jadi, tidak benar kalau informasi bahwa sampah di kanal akibat dari program pemilahan sampah,” tuturnya.

“Kata tokoh masyarakat di sekitar kanal, persoalannya adalah kesadaran masyarakat yang perlu terus ditingkatkan untuk menjaga lingkungan. Apalagi sudah berulang kali kita sosialisasi dan lakukan edukasi,” tambahnya.

Aril mengatakan pemerintah kecamatan telah berulang kali melakukan sosialisasi, edukasi, dan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air. Namun, perilaku tersebut masih ditemukan di sejumlah titik.

Ia mengimbau masyarakat tidak menjadikan kanal sebagai tempat pembuangan sampah karena dapat mencemari lingkungan, menghambat aliran air, dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan.

“Keberhasilan pengelolaan sampah dan pencegahan pencemaran saluran air ditentukan oleh kesadaran masyarakat serta kedisiplinan dalam memilah sampah dari rumah. Tentu adanya niat dan kepedulian dari warga,” imbuhnya.

Aril menegaskan program pemilahan sampah justru bertujuan mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan mendorong masyarakat memilah sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah.

“Kami berharap masyarakat mendukung kebijakan tersebut dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan,” harapnya.

Pernyataan senada disampaikan Camat Mariso Andi Syahrir Mappatoba. Ia menegaskan tumpukan sampah di sejumlah kanal merupakan persoalan lama yang telah terjadi sebelum kebijakan pemilahan sampah diterapkan.

“Menurut keterangan warga RT, persoalan tersebut merupakan masalah lama yang telah terjadi jauh sebelum kebijakan pemilahan sampah diberlakukan,” jelasnya.

Andi Syahrir menyampaikan hal itu usai memimpin pembersihan kanal di kawasan perbatasan Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Mamajang, tepatnya di wilayah Kelurahan Tamarunang, Bonto Rannu, dan Mattoangin. Pembersihan dilakukan sebagai respons atas video viral yang memperlihatkan tumpukan sampah di kanal Jalan Nuri hingga kawasan perbatasan Kecamatan Mariso dan Kecamatan Tamalate.

“Kami langsung melakukan pembersihan bersama jajaran setelah menerima laporan dan melihat kondisi di lapangan. Sampah yang menumpuk di kanal segera diangkut agar tidak mengganggu aliran air,” ujar Andi Syahrir.

Ia mengatakan kawasan perbatasan Kelurahan Sambung Jawa, Maccini Sombala, dan Tamarunang selama ini memang menjadi titik yang kerap dipenuhi sampah akibat ulah oknum masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

“Ini bukan karena program pemilahan sampah. Sebelum program itu diterapkan, masyarakat sudah membuang sampah di kanal. Jadi persoalan ini sudah terjadi sejak lama,” tegasnya.

Menurut Andi Syahrir, rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi tantangan utama dalam menjaga kebersihan lingkungan, meski pemerintah bersama aparat kewilayahan telah berulang kali melakukan sosialisasi dan edukasi.

“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kanal sebagai tempat pembuangan sampah. Edukasi sudah berkali-kali dilakukan, tetapi kesadaran masyarakat masih harus terus ditingkatkan,” pungkasnya

Ia berharap masyarakat tidak menyimpulkan secara keliru bahwa tumpukan sampah di kanal merupakan dampak dari program pemilahan sampah Pemerintah Kota Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *