Konawe Selatan, Potretnusantara.co.id – Dugaan pemalsuan riset yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di Denmark menuai sorotan tajam dari akademisi Institut Agama Islam (IAI) Rawa Opa, Ismail Suardi Wekke. Ia menilai kasus tersebut bukan sekadar pelanggaran etik, melainkan alarm krisis integritas akademik di Indonesia.
Kasus itu mencuat setelah muncul dugaan manipulasi data penelitian, pemalsuan identitas peserta konferensi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk merekayasa artikel ilmiah demi memperoleh bantuan perjalanan (travel grant). Praktik tersebut dinilai mencoreng citra akademik Indonesia di tingkat internasional.
Ismail Suardi Wekke menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai ilmu pengetahuan.
“Ketika riset dijadikan tiket jalan-jalan gratis ke luar negeri, maka ilmu pengetahuan telah kehilangan kehormatannya,” kata Ismail, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, fenomena tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari budaya akademik instan yang lebih berorientasi pada sertifikat internasional, angka publikasi, dan gengsi seminar luar negeri dibanding kualitas riset serta kejujuran ilmiah.
“Kampus jangan berubah menjadi pabrik CV akademik. Hari ini orang berlomba mengoleksi seminar dan publikasi, tetapi lupa bahwa fondasi utama ilmu adalah kejujuran,” ujarnya.
Ia menilai obsesi administratif terhadap publikasi internasional tanpa penguatan etika akademik telah membuka ruang bagi praktik manipulasi ilmiah.
“Kondisi yang sedang kita hadapi bukan sekadar pelaku nakal, tetapi krisis moral akademik yang perlahan dianggap normal,” katanya.
Terkait dugaan penggunaan AI untuk membuat artikel dan data penelitian palsu, Ismail menegaskan bahwa teknologi bukan sumber utama persoalan. Menurut dia, masalah terletak pada penyalahgunaan teknologi tanpa tanggung jawab moral.
“Artificial Intelligence tidak berbahaya. Posisi yang berbahaya adalah manusia malas berpikir tetapi ingin terlihat ilmiah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti maraknya budaya akademik yang lebih menekankan pencitraan intelektual dibanding membangun tradisi riset yang otentik.
“Ada orang ingin terlihat sebagai ilmuwan internasional, padahal yang dibangun hanya panggung pencitraan akademik,” ungkapnya.
Selain itu, Pimpinan IAI Rawa Opa menilai pengawasan terhadap konferensi predator, publikasi abal-abal, serta distribusi travel grant masih lemah dan rentan disalahgunakan.
“Selama ukuran keberhasilan dosen hanya dihitung dari stempel seminar luar negeri dan jumlah publikasi instan, maka industri akademik palsu akan terus hidup dan berkembang,” terangnya.
Melalui institusi perguruan tinggi seperti IAI Rawa Opa mendesak pemerintah, perguruan tinggi, asosiasi ilmiah, dan lembaga akreditasi untuk melakukan audit integritas akademik secara menyeluruh. Evaluasi juga dinilai perlu dilakukan terhadap mekanisme hibah perjalanan akademik serta penggunaan AI dalam penulisan ilmiah.
“Saatnya kita menginternalisasi nilai integritas akademik. Sekaligus keperluan untuk tidak menjadikan rangking sebagai tolok ukur utama dan tunggal,” urai Ismail Suardi Wekke yang menerima posisi Distinguished Professor di North Bangkok University (Thailand) sejak 2025.
Menurut Ismail, kasus tersebut harus menjadi momentum pembenahan serius bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia, bukan sekadar klarifikasi administratif untuk meredam sorotan publik.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah keberanian untuk jujur dalam dunia ilmu pengetahuan,” katanya.
Ia mengingatkan, jika praktik semacam itu terus dibiarkan, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap perguruan tinggi dan dunia akademik nasional.
“Ketika kebohongan diberi panggung akademik, maka generasi muda akan belajar bahwa kepalsuan lebih cepat dihargai daripada proses ilmiah yang jujur,” ujarnya.
Dalam.kapasitas sebagai Wakil Rektor IAI Rawa Opa menegaskan, pemulihan martabat akademik Indonesia hanya dapat dilakukan melalui keberanian membersihkan budaya manipulasi di lingkungan pendidikan tinggi.
“Perlunya mengutamakan riset sederhana dan jujur, menghindari penelitian terlihat canggih tetapi dibangun di atas kebohongan,” tegas Ismail.



















