WhatsApp Image 2026-05-26 at 14.00.42 (1)
PlayPause
previous arrow
next arrow
OlahragaOpini

Run for All atau Run for Waste? Menakar Jejak Ekologis Makassar Half Marathon 2026

×

Run for All atau Run for Waste? Menakar Jejak Ekologis Makassar Half Marathon 2026

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Pagi di Pantai Losari selalu memiliki cara sendiri untuk membangunkan harapan.
Angin asin dari laut bergerak perlahan menyapu tepian kota, sementara matahari muncul malu-malu dari ufuk timur. Dalam beberapa hari ke depan, kawasan ini tidak hanya dipenuhi aroma kopi dan pisang epe yang dibakar, tetapi juga denyut ribuan langkah manusia yang datang membawa semangat: berlari.

Makassar Half Marathon (MHM) 2026 kembali digelar. Lebih besar, lebih ramai, lebih bergengsi. Ribuan pelari dari berbagai daerah bahkan luar negeri akan memenuhi jalan-jalan utama Kota Daeng. Hotel-hotel tersenyum. UMKM bergeliat. Kota tampak hidup.

Tetapi selalu ada pertanyaan yang sering tertinggal setelah garis finis dibongkar dan panggung hiburan dipadamkan:
Apa yang sesungguhnya ditinggalkan sebuah pesta olahraga bagi lingkungan?
Sebab sejarah kota-kota modern sering memperlihatkan ironi yang sama. Kita merayakan kesehatan tubuh manusia, tetapi diam-diam menghadirkan luka baru bagi tubuh bumi.

Di balik medali dan sorak sorai itu, ada ribuan gelas plastik yang terlempar ke aspal. Ada botol air mineral yang mengambang di drainase. Ada kemasan energi instan yang tertiup angin menuju laut. Dan ada jejak karbon yang sering dianggap terlalu kecil untuk dipikirkan, padahal terus menumpuk dari tahun ke tahun.

Makassar hari ini sedang berdiri di sebuah persimpangan moral: apakah olahraga akan menjadi perayaan peradaban, atau justru menambah daftar panjang beban ekologis kota pesisir ini?

Ketika Kota Berlari, Alam Ikut Menanggung Beban

Kita hidup di zaman ketika hampir semua aktivitas manusia menghasilkan sampah. Bahkan kegiatan yang tampak sehat sekalipun.

Road race modern bukan sekadar lomba lari. Ia adalah industri. Ada konsumsi massal, logistik besar, distribusi produk, promosi, dan mobilisasi manusia dalam jumlah luar biasa. Semakin besar event, semakin besar pula jejak ekologinya.

Dalam hitungan sederhana, puluhan ribu wadah hidrasi diperkirakan akan digunakan hanya dalam beberapa jam pelaksanaan MHM 2026. Jika tidak dikelola secara serius, sebagian besar akan berakhir di tempat pembuangan akhir, tercecer di pesisir, atau memasuki laut sebagai mikroplastik yang perlahan kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Di sinilah etika lingkungan menjadi penting.

Etika lingkungan bukan sekadar ajakan membuang sampah pada tempatnya. Ia adalah kesadaran moral bahwa manusia tidak hidup sendirian di bumi. Bahwa setiap kenyamanan yang kita nikmati memiliki konsekuensi ekologis.

Selama ini, manusia modern terlalu sering memosisikan alam hanya sebagai pelayan kebutuhan. Laut dianggap tempat membuang. Sungai dianggap saluran akhir. Tanah dianggap ruang tak terbatas untuk menumpuk residu konsumsi.
Padahal bumi memiliki kapasitas yang terbatas untuk memulihkan dirinya.

Makassar sebagai kota pesisir sesungguhnya sangat rentan. Sampah plastik yang tercecer di kawasan CPI atau Losari tidak membutuhkan waktu lama untuk masuk ke laut. Ketika hujan turun, drainase membawa semuanya menuju pesisir. Dari sana, plastik berubah menjadi ancaman senyap bagi ikan, terumbu karang, dan ekosistem laut yang menopang kehidupan masyarakat nelayan.

Ironisnya, sebagian pelari mungkin datang untuk mencari udara sehat dan pengalaman wisata alam, sementara pada saat yang sama event yang mereka ikuti justru meninggalkan tekanan baru bagi lingkungan.

Green Sport Tourism Bukan Sekadar Gaya Hidup

Di berbagai negara, konsep green sport tourism telah berkembang menjadi standar etis baru dalam industri olahraga. Sebuah event tidak lagi dinilai hanya dari jumlah peserta atau kemegahan panggungnya, tetapi juga dari seberapa kecil kerusakan ekologis yang ditimbulkan.

Ini bukan tren kosmetik.
Ia lahir dari kesadaran bahwa krisis iklim sudah terlalu nyata untuk diabaikan.
Gelombang panas ekstrem, banjir perkotaan, cuaca yang makin tidak menentu—semuanya berkaitan dengan pola konsumsi manusia yang rakus dan tidak terkendali. Maka setiap sektor kehidupan, termasuk olahraga, dituntut ikut bertanggung jawab.

Makassar Half Marathon memiliki peluang besar menjadi pelopor di Indonesia Timur.
Bukan mustahil suatu hari orang datang ke Makassar bukan hanya karena lintasannya indah, tetapi karena event ini dikenal disiplin terhadap lingkungan.

Bayangkan jika setiap titik hidrasi memiliki sistem pemilahan sampah yang tertib. Bayangkan jika relawan lingkungan bergerak cepat menyisir jalur lomba. Bayangkan jika pelari membawa botol minum sendiri dan merasa bangga karena berhasil berlari tanpa menghasilkan banyak sampah.

Budaya baru selalu lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Dan kota yang besar bukanlah kota yang bebas sampah, melainkan kota yang masyarakatnya memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab atas sampahnya sendiri.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Persoalan terbesar kita sebenarnya bukan pada sampah, melainkan cara pandang terhadap sampah.
Selama ini sampah selalu diposisikan sebagai benda mati yang harus segera dibuang sejauh mungkin dari pandangan manusia. Akibatnya, masyarakat merasa persoalan selesai begitu sampah meninggalkan tangan mereka.
Padahal sampah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Ia berubah menjadi gunungan di TPA Tamangapa. Ia menjadi lindi yang mencemari tanah. Ia menjadi plastik kecil yang masuk ke perut ikan. Ia berubah menjadi asap beracun ketika dibakar sembarangan.

Karena itu, pendekatan ekonomi sirkular menjadi sangat relevan dalam event seperti MHM 2026. Sampah tidak boleh lagi dipahami sebagai akhir, melainkan sebagai material yang harus diputar kembali ke dalam rantai pemanfaatan.

Botol plastik dapat didaur ulang. Sisa buah dapat dijadikan kompos. Kardus logistik dapat digunakan ulang. Bahkan kaos peserta pun idealnya mulai dipikirkan menggunakan bahan yang lebih berkelanjutan.

Di sinilah peran komunitas lokal menjadi penting.
Bank sampah, relawan lingkungan, pegiat eco enzyme, komunitas daur ulang, hingga warga sekitar sesungguhnya dapat menjadi bagian dari ekosistem besar sebuah event hijau. Mereka bukan sekadar petugas kebersihan tambahan, melainkan aktor penting dalam menjaga martabat ekologis kota.

Berlari Sebagai Tindakan Etis

Ada satu hal yang sering terlupakan: olahraga pada dasarnya adalah bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Manusia berlari karena ingin sehat. Ingin panjang umur. Ingin tubuh tetap kuat. Namun apa arti tubuh sehat jika lingkungan tempat kita hidup justru perlahan sakit?

Kita tidak bisa berbicara tentang kesehatan manusia sambil mengabaikan kesehatan bumi.
Sebab udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan makanan yang kita konsumsi semuanya berasal dari ekosistem yang sama.

Maka berlari sejatinya bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga tindakan etis. Sebuah pengingat bahwa manusia harus belajar bergerak tanpa merusak.
Mungkin inilah makna terdalam dari slogan Run for All. Bahwa “untuk semua” tidak hanya berarti inklusif bagi seluruh pelari, tetapi juga ramah bagi laut, bagi udara, bagi pohon-pohon kota, bahkan bagi generasi yang belum lahir.

Karena setiap event besar sesungguhnya sedang meninggalkan warisan.
Pertanyaannya sederhana:
apakah warisan itu berupa inspirasi, atau justru tumpukan sampah?
Garis Finis yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, garis finis sebuah maraton bukanlah tempat pelari mengangkat medali.

Garis finis sesungguhnya adalah ketika sebuah kota mampu merayakan kemajuan tanpa menghancurkan lingkungannya sendiri.

Makassar memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa modernitas tidak harus identik dengan kerakusan konsumsi. Bahwa pesta rakyat dapat berlangsung meriah sekaligus bertanggung jawab. Bahwa sport tourism bisa tumbuh tanpa menambah luka ekologis.

Kita tentu ingin ribuan pelari pulang membawa cerita indah tentang keramahan Kota Daeng. Tetapi akan jauh lebih bermakna jika mereka juga pulang membawa kesadaran baru: bahwa menjaga bumi adalah bagian dari gaya hidup sehat itu sendiri.

Karena pada akhirnya, manusia mungkin bisa memenangkan lomba lari.
Tetapi tanpa etika lingkungan, kita perlahan sedang kalah dalam perlombaan yang jauh lebih besar menyelamatkan masa depan bumi kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *