Oleh: Muhammad Saleh, Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Hari ini, 9 Zulhijjah, matahari sedang bergerak menuju puncaknya, dan puasa yang kita niatkan sejak subuh tadi kini mulai terasa basah di dalam jiwa. Di saat yang sama, jutaan manusia di Padang Arafah sedang berdiri, menengadahkan tangan, menembus batas lelah. Namun, ada satu rahasia waktu yang sedang bergerak mendekati kita semua: Waktu Sore Hari Arafah.
Jika kemarin kita sibuk mempersiapkan diri, maka sore ini selepas ashar hingga menjelang maghrib adalah waktu di mana kita harus melakukan Translokusi Total. Kita harus memindahkan seluruh perhatian kita dari riuh rendahnya dunia menuju satu titik keheningan radikal di atas sajadah. Mengapa sore ini begitu menentukan?
1. Langit yang Merunduk dan Kebanggaan Ilahi
Secara teologis, sore hari Arafah adalah momen di mana Allah SWT turun ke langit dunia dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, lalu membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat. Bayangkan, Saudaraku, di waktu sore nanti, Allah tidak hanya melihat mereka yang wukuf di padang pasir, tetapi Dia juga menatap kita yang sedang bersimpuh di sudut kamar tanah air dengan tubuh yang lemas karena puasa. Ini adalah waktu di mana jarak antara hamba dan Pencipta terasa runtuh.
2. Kencangkan Doa: Detik-Detik Pembebasan dari Neraka
Rasulullah SAW mengabarkan bahwa tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain hari Arafah. Pembebasan itu diputuskan di waktu sore ini. Oleh karena itu, sore nanti bukan saatnya lagi kita mengeluhkan lapar, bukan pula saatnya kita sibuk dengan gawai.
Sore nanti adalah waktu untuk mengencangkan doa (berjuang habis-habisan). Angkat tanganmu tinggi-tinggi, mintalah pembebasan itu. Mintalah dengan rintihan seorang buronan yang sedang memohon ampunan dari rajanya. Katakan, “Yaa Allah, jika sore ini Engkau menghapus nama-nama hamba-Mu dari daftar penghuni neraka, masukkanlah namaku, nama orang tuaku, nama anak istri/suamiku, dan nama saudara-saudaraku di dalamnya.”
3. Keheningan Radikal di Ambang Maghrib
Saat matahari sore mulai menguning dan perlahan bergerak turun, itulah detik-detik paling magis di hari Arafah. Suasana akan berubah menjadi hening yang mencekam sekaligus syahdu. Kata-kata mungkin akan habis, digantikan oleh air mata yang mengalir tanpa suara.
Inilah puncak Translokusi batin kita: ketika ego kita telah hancur total oleh istighfar sejak siang tadi, yang tersisa di ambang maghrib hanyalah kepasrahan mutlak. Kita diam, namun ruh kita sedang bersujud di keabadian.
Penutup: Jangan Biarkan Maghrib Berlalu Sia-Sia
Saudaraku, beberapa jam lagi matahari 9 Zulhijjah akan terbenam. Begitu azan maghrib berkumandang, maka pintu gerbang Arafah tahun ini resmi tertutup. Angkat kakimu sejenak dari urusan dunia sore nanti. Duduklah, menepilah, dan menangislah di hadapan-Nya.
Mari kita jemput pembebasan itu di waktu sore yang sakral ini. Jangan sampai matahari terbenam, sementara nama kita belum sempat tertulis di antara nama-nama hamba yang diridhai-Nya.
Rabbighfirli..














