News

Makassar Masuk 10 Besar Kota Toleran, Prof. Suhufi: Bukti Kerja Kolektif dan Kesadaran Sosial Menguat

×

Makassar Masuk 10 Besar Kota Toleran, Prof. Suhufi: Bukti Kerja Kolektif dan Kesadaran Sosial Menguat

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Capaian Kota Makassar yang masuk 10 besar kota berpenduduk di atas satu juta jiwa dengan tingkat toleransi terbaik di Indonesia berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 mendapat beragam apresiasi dari tokoh akademisi dan keagamaan.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar yang juga pengurus MUI Sulawesi Selatan sekaligus Sekretaris Jenderal DPP IMMIM, Prof. Suhufi Abdullah, menilai capaian tersebut sebagai bukti nyata bahwa nilai toleransi di Makassar tidak hanya menjadi slogan, tetapi telah menjadi praktik sosial yang tumbuh.

Ia menyebut peningkatan peringkat Makassar yang signifikan dari tahun sebelumnya menunjukkan adanya konsistensi kebijakan dan kesadaran kolektif masyarakat.

Dalam salah satu pernyataannya, Prof. Suhufi juga menegaskan apresiasinya kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, terkait sikap toleran masyarakat Kota Makassar:

“Saya sangat mengapresiasi Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, atas komitmennya dalam menjaga dan memperkuat sikap toleran warga Makassar. Hal ini menunjukkan bahwa kota ini telah berada pada tataran kota besar dan kota modern yang matang dalam kehidupan sosial kemasyarakatan,” Senin (4/5/2026).

Menurut Prof. Suhufi, keberhasilan ini tidak terlepas dari peran pemerintah kota dalam membangun ekosistem kebijakan yang inklusif serta dukungan aktif lembaga keagamaan dan forum kerukunan umat beragama.

“Ketika kebijakan publik berpihak pada penguatan ruang dialog dan penghormatan terhadap keberagaman, maka masyarakat akan ikut menginternalisasi nilai toleransi itu dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga capaian ini agar tidak berhenti pada pengakuan indeks semata, melainkan terus diperkuat melalui pendidikan nilai dan keteladanan sosial.

“Yang paling penting bukan hanya naik peringkat, tetapi bagaimana nilai toleransi itu benar-benar hidup dalam perilaku sosial masyarakat dari hari ke hari,” katanya.

Menutup pandangannya, Prof. Suhufi Abdullah menegaskan pesan reflektif terkait masa depan kerukunan di Kota Makassar.

“Makassar akan tetap menjadi kota toleran jika semua pihak menjaga niat baik, merawat dialog, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *