Advertorial

Buruh, Sampah, dan Masa Depan yang Diperebutkan di Era Modern

×

Buruh, Sampah, dan Masa Depan yang Diperebutkan di Era Modern

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Pagi di Kota Makassar dimulai jauh sebelum hiruk-pikuk aktivitas warga terlihat. Di saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, suara derit gerobak sampah, dentingan pintu kontainer, dan langkah cepat para pekerja kebersihan justru menjadi tanda awal kehidupan kota.

Mereka adalah wajah buruh yang kerap luput dari sorotan. Setiap hari, mereka mengangkut sisa konsumsi modern: plastik sekali pakai, kardus belanja daring, hingga limbah rumah tangga yang tak lagi dipikirkan pemiliknya.

“Mereka membersihkan jejak konsumsi sebuah kota modern,” tulis Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Jumat (1/5/2026).

Namun di tengah perkembangan teknologi dan digitalisasi, pekerjaan mendasar ini masih sepenuhnya bertumpu pada tenaga manusia. “Ironisnya, justru di tengah dunia yang semakin digital, pekerjaan paling mendasar itu masih dikerjakan oleh tangan manusia keringat manusia dan ketahanan tubuh manusia,” ujarnya.

Momentum Hari Buruh 2026 memperlihatkan perubahan besar dalam lanskap dunia kerja Indonesia. Isu buruh tak lagi sekadar soal upah minimum atau aksi demonstrasi, melainkan tentang ketidakpastian masa depan. Pemerintah menyebutnya sebagai bagian dari transisi ekonomi, sementara buruh merasakannya sebagai ancaman nyata.

Regulasi ketenagakerjaan, termasuk Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, masih memicu perdebatan panjang. Di satu sisi, pemerintah meyakini aturan tersebut membuka peluang investasi. Namun di sisi lain, banyak pekerja merasa posisi mereka semakin rentan. “Hari ini diterima, besok bisa diganti. Hubungan kerja menjadi sedingin aplikasi digital: cepat, praktis, dan minim ikatan emosional,” kata Mashud.

Fenomena ini semakin terasa di sektor padat karya seperti tekstil dan garmen, yang masih dilanda gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Lebih dari 120 ribu pekerja terdampak dalam dua tahun terakhir. Di balik angka tersebut, tersimpan realitas pahit kehidupan: cicilan rumah macet, pendidikan anak terancam, hingga dapur yang mulai kehilangan asap.

Di sisi lain, generasi muda kini memasuki dunia kerja yang sangat berbeda. Banyak dari mereka memilih jalur ekonomi digital sebagai kreator konten, freelancer, hingga pengemudi aplikasi. Namun kebebasan ini sering kali tidak diiringi perlindungan sosial yang memadai. “Mereka aktif setiap hari, tetapi statusnya dianggap ‘mitra’, bukan pekerja,” tulis Mashud.

Dalam konteks ini, definisi buruh pun semakin meluas. Buruh tidak lagi terbatas pada pekerja pabrik, tetapi mencakup siapa saja yang menjual tenaga dan waktunya demi bertahan hidup termasuk kurir, admin toko daring, hingga petugas kebersihan.

Sektor persampahan menjadi cermin paling nyata dari persoalan ini. Di tengah meningkatnya konsumsi digital, volume sampah ikut melonjak tajam. Setiap transaksi online menyisakan limbah baru, menciptakan lapisan buruh yang bekerja di “hilir peradaban modern”.

Sayangnya, profesi ini masih dipandang sebelah mata. “Banyak orang melihat petugas kebersihan hanya sebagai pelengkap kota, bukan penjaga ekologi urban,” ujar Mashud. Padahal, tanpa mereka, aktivitas kota bisa lumpuh dalam hitungan hari.

Ia menekankan bahwa Hari Buruh seharusnya tidak hanya berfokus pada tuntutan ekonomi, tetapi juga penghormatan terhadap semua jenis pekerjaan, termasuk yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Di tengah ancaman krisis ekologis, sektor pengelolaan sampah justru menjadi peluang masa depan.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekonomi hijau, mulai dari daur ulang hingga ekonomi sirkular. Namun, sistem pendidikan dinilai belum sepenuhnya mendukung arah tersebut.

“Sekolah mengajarkan cara lulus ujian, tetapi jarang mengajarkan cara mengelola sampah rumah tangga,” tulisnya.

Pada akhirnya, peringatan Hari Buruh 2026 menggarisbawahi satu hal mendasar: perubahan dunia kerja tidak boleh menghilangkan martabat manusia. Di tengah dorongan investasi, efisiensi, dan kemajuan teknologi, kesejahteraan buruh tetap harus menjadi prioritas.

“Di ujung semua perdebatan tentang upah, outsourcing, PHK, dan digitalisasi, sesungguhnya ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah pekerjaan masih mampu memberi manusia rasa aman untuk hidup?” tulis Mashud.

“Jika jawabannya belum, maka perjuangan buruh belum selesai,” pungkas Mashud.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *