Lingkungan

Dari Dapur ke Tanah: Gerakan Biopori Tumbuhkan Kesadaran Lingkungan di Makassar

×

Dari Dapur ke Tanah: Gerakan Biopori Tumbuhkan Kesadaran Lingkungan di Makassar

Sebarkan artikel ini

Makassar, Potretnusantara.co.id – Kegiatan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga melalui biopori dan eco-enzyme mulai menunjukkan dampak positif di lingkungan warga RT 05 RW 02, Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar, Minggu (26/4/2026).

Program yang melibatkan Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar dan tim penyuluh persampahan ini mendorong perubahan perilaku warga dalam mengelola sampah organik.

Kegiatan tersebut tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga penyaluran bantuan sarana biopori dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar yang langsung dipasang dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Biopori digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos, sekaligus meningkatkan daya resap tanah.

Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, mengatakan bahwa perubahan cara pandang masyarakat menjadi kunci utama dalam penanganan sampah.

“Sampah selama ini terlalu lama diperlakukan sebagai akhir dari sebuah proses. Padahal, ia hanyalah bentuk lain dari sesuatu yang belum selesai,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan sederhana seperti biopori dapat menjadi solusi konkret di tengah persoalan sampah perkotaan yang semakin kompleks.

“Ia bukan sekadar lubang vertikal di tanah. Ia adalah perlawanan kecil terhadap budaya buang,” kata Mashud.

Selain biopori, warga juga diperkenalkan pada pembuatan eco-enzyme dari limbah dapur seperti kulit buah dan sayuran. Cairan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami hingga penyubur tanaman.

Ketua RT setempat menegaskan harapannya agar kebiasaan baru ini terus berlanjut di lingkungan warga.

“Harapan kami sederhana, warga bisa terbiasa memilah dan mengolah sampahnya sendiri dari rumah,” ujarnya.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini menjadi titik akhir pengelolaan sampah di kota. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bersinergi dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Mashud menambahkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Kota tidak berubah oleh sesuatu yang besar secara tiba-tiba, tetapi oleh akumulasi tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *