Opini

Iqra’ di Tengah Cacophony

×

Iqra’ di Tengah Cacophony

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – “Yang berbahaya dari menurunnya minat baca, yaitu meningkatnya minat berkomentar.” Kalimat ini terasa semakin relevan ketika kita menyaksikan gejala cacophony riuh rendah suara yang saling bertabrakan tanpa harmoni yang kian menguasai ruang publik kita. Dalam kebisingan itu, semua orang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau mendengar. Semua ingin bicara, tetapi enggan membaca.

Cacophony bukan sekadar kebisingan fisik. Ia adalah kebisingan pikiran. Ia terjadi ketika opini-opini dilempar tanpa fondasi pengetahuan, ketika emosi mengalahkan argumentasi, ketika potongan informasi dianggap sebagai kebenaran utuh. Media sosial menjadi panggung paling nyata dari gejala ini. Satu isu mencuat, ribuan komentar menyerbu. Nada tinggi, diksi keras, tudingan liar semuanya berdesakan tanpa jeda untuk memahami.

Di sinilah letak bahayanya. Ketika tradisi membaca melemah, kemampuan menyaring informasi ikut menurun. Orang bereaksi sebelum refleksi. Menilai sebelum meneliti. Menghakimi sebelum memahami. Ruang publik berubah menjadi arena gema setiap orang memantulkan suaranya sendiri, tanpa pernah benar-benar berdialog.

Padahal, dalam sejarah peradaban Islam, fondasi pertama yang diletakkan bukanlah perintah berbicara, melainkan perintah membaca. Pada malam 17 Ramadhan, di Gua Hira yang sunyi, wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad SAW: Iqra’ Bacalah. Bukan Qul (katakanlah), bukan pula Ajib (jawablah), tetapi Iqra’. Sebuah perintah yang mendahului segala bentuk pernyataan.

Iqra’ adalah revolusi sunyi. Ia mengajarkan bahwa pemahaman harus mendahului pernyataan. Bahwa ilmu harus menjadi dasar dari sikap. Bahwa wahyu pun dimulai dengan literasi, bukan retorika.

Ironisnya, di bulan Ramadhan bulan diturunkannya Al-Qur’an kita sering terjebak dalam kebisingan yang justru menjauh dari spirit Iqra’. Perdebatan agama di media sosial kerap lebih panas daripada khusyuknya tilawah. Potongan ayat dibagikan untuk menyerang, bukan untuk mencerahkan. Tafsir diambil sepotong untuk menguatkan ego, bukan untuk memperluas hikmah.

Inilah cacophony spiritual: ketika teks suci dibaca tanpa tadabbur, dikutip tanpa konteks, diperdebatkan tanpa adab. Padahal Al-Qur’an turun bukan untuk memperbanyak kebisingan, melainkan untuk menghadirkan petunjuk. Ia adalah cahaya di tengah gelapnya kebodohan, bukan bahan bakar untuk memperbesar api pertengkaran.

Gejala cacophony sosial dan lemahnya budaya baca saling berkelindan. Tanpa literasi yang kuat, masyarakat mudah terseret arus provokasi. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Sensasi lebih laris daripada substansi. Demokrasi pun berisiko berubah menjadi kontestasi teriakan, bukan adu gagasan.

Kita lupa bahwa membaca adalah bentuk ibadah intelektual. Dalam tradisi Islam, mencari ilmu adalah kewajiban. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi jalan menuju kebijaksanaan. Iqra’ bukan hanya perintah membaca teks, melainkan membaca kehidupan, membaca realitas, membaca tanda-tanda zaman.

Bayangkan jika setiap komentar diawali dengan proses membaca yang sungguh-sungguh. Jika setiap kritik lahir dari telaah, bukan sekadar emosi. Jika setiap perbedaan disikapi dengan dialog, bukan dengan caci maki. Ruang publik kita akan berubah dari cacophony menjadi simfoni beragam suara, tetapi saling melengkapi.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum mengembalikan tradisi Iqra’. Menahan lisan bukan hanya dari kata-kata kasar, tetapi juga dari opini yang belum matang. Mengurangi komentar yang reaktif, memperbanyak bacaan yang reflektif. Mengganti kegaduhan dengan kedalaman.

Sebab pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kekurangan suara, melainkan karena kekurangan makna. Dan makna hanya lahir dari kesediaan untuk membaca sebelum berbicara.

Di tengah riuhnya dunia digital, barangkali kita perlu kembali ke Gua Hira ke ruang sunyi dalam diri kita tempat Iqra’ pertama kali bergema. Karena dari sanalah cahaya pengetahuan memulai perjalanannya, menuntun manusia keluar dari kebisingan menuju kejernihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *