Pendidikan

Dibungkus Fiksi, Novel Kala Mahesa Justru Bongkar Realitas Sosial

×

Dibungkus Fiksi, Novel Kala Mahesa Justru Bongkar Realitas Sosial

Sebarkan artikel ini

Majene, Potretnusanatara.co.id – Novel Kala Mahesa: Catatan Maba Pemberani karya Irfan resmi diluncurkan untuk pertama kalinya di Perpustakaan Yayasan Salili Mandar, Kelurahan Rangas Barat, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), Selasa (8/9/2026).

Launching tersebut dirangkaikan dengan bincang buku yang mengulas berbagai kisah serta isu sosial yang dituangkan dalam novel. Kegiatan ini digelar Perpustakaan Salili Mandar bersama Aksi Kamisan Majene, Fampera, SPPM, Sakral Majene, HMJ Himapol, dan Kolektif Kota Tua Majene.

Novel bergenre fiksi tersebut mengangkat sejumlah persoalan sosial, mulai dari ketimpangan sosial, konflik agraria, kemiskinan struktural hingga perampasan ruang hidup.

Tokoh utama dalam novel, Kala Mahesa, digambarkan sebagai seorang pemuda yang memandang kehidupan mahasiswa tidak sekadar belajar di ruang kelas atau mengejar toga. Baginya, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk membaca realitas sosial dan mengambil sikap terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Penulis Kala Mahesa: Catatan Maba Pemberani, Irfan, mengatakan cerita dalam novel tersebut tidak lahir dari ruang imajinasi semata. Sebagian kisahnya berangkat dari realitas sosial yang ia temui di lingkungan mahasiswa maupun masyarakat.

Menurutnya, mahasiswa perlu melihat berbagai ketimpangan sosial secara kritis, bukan justru bersikap pragmatis.

“Di setiap kisah yang ditulis merupakan isu-isu yang masih berkembang hingga hari ini, di antaranya soal konflik agraria, kemiskinan struktural bahkan perampasan ruang hidup. Mahasiswa harus melihat itu secara kritis, bukan malah pragmatis,” ujarnya.

Irfan mengatakan, novel tersebut ditulis berdasarkan pengalaman yang ia alami serta berbagai ruang diskusi yang ia ikuti ketika masih menjadi mahasiswa.

Sejumlah bagian dalam novel, kata dia, juga merupakan catatan kritis yang lahir dari pengalaman saat melakukan advokasi dan pendampingan terhadap masyarakat kecil.

“Walau ini fiksi, namun ada beberapa yang saya tulis dalam buku ini merupakan kisah nyata. Ada satu bab khusus yang menyinggung persoalan yang benar-benar nyata terjadi di daerah kita,” katanya.

Usai membedah isi novel, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi santai mengenai alasan penulis memilih novel sebagai medium untuk menyampaikan keresahan sosial.

Diskusi kemudian berkembang ketika sejumlah peserta menilai kisah dalam *Kala Mahesa* yang dibungkus sebagai fiksi justru merefleksikan realitas yang masih terjadi hingga saat ini.

Salah seorang peserta, Very, menyoroti salah satu bagian dalam novel yang menceritakan keberadaan lesehan kampus yang dibentuk Kala Mahesa bersama sejumlah Maba Pemberani lainnya melalui Lingkar Juang Kampus (LJK).

Menurut Very, keberadaan LJK menggambarkan ruang diskusi mahasiswa yang saat ini mulai sulit ditemukan di lingkungan kampus.

Ia menilai, membangun komunitas yang berangkat dari tradisi membaca, berdiskusi hingga melakukan aksi merupakan sesuatu yang tidak mudah dilakukan di tengah semakin minimnya minat mahasiswa terhadap aktivitas tersebut.

“Sebenarnya ini juga merupakan keresahan saya selama menjadi mahasiswa. Kita tentu menyadari bagaimana mahasiswa hari ini. Jangankan membentuk komunitas lesehan kampus, baca buku, diskusi dan demonstrasi saja beberapa mahasiswa enggan,” ujarnya.

Sementara itu, Wais, penjaga Perpustakaan Yayasan Salili Mandar, mengapresiasi pelaksanaan bincang buku tersebut.

Ia mengakui keberadaan perpustakaan yang berada cukup jauh dari pusat kota membuat akses masyarakat untuk datang tidak selalu mudah. Namun, menurutnya, kegiatan seperti bincang buku justru menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kembali ruang baca sebagai tempat belajar dan bertukar gagasan.

“Program seperti ini sebenarnya merupakan dukungan kami untuk tetap menghidupkan ruang baca yang asyik bagi kalangan generasi muda,” ujarnya.

Ia menambahkan, Perpustakaan Yayasan Salili Mandar terbuka bagi komunitas maupun kelompok yang ingin menggelar kegiatan dan membangun kolaborasi di ruang perpustakaan tersebut.(Ifn/Ajs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *