Cerita

DUA RATUS RIBU DAN SEBUAH JALAN PULANG

×

DUA RATUS RIBU DAN SEBUAH JALAN PULANG

Sebarkan artikel ini

Novel tentang perjuangan Syarif mengejar gelar yang bagi sebagian orang hanyalah biasa

Oleh: Syarif Larampang Parawali

Kisah Inspiratif, Potretnusantara.co.id – “Kadang-kadang Allah tidak mengirim pertolongan dalam bentuk yang kita bayangkan. Ia mengirimkannya melalui seorang sahabat, sebuah percakapan sederhana, bahkan melalui orang yang sama-sama sedang kesulitan”.

GELAR YANG TERLIHAT BIASA

“Jadi, sudah selesai?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Syarif hanya tersenyum.

“Alhamdulillah.”

“Berarti sudah Magister sekarang?”

Syarif mengangguk pelan.

“Iya.”

“Wah, selamat. Keren.”

Percakapan itu selesai.

Sesederhana itu.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik kata “Alhamdulillah”, ada perjalanan hampir dua tahun yang penuh dengan kecemasan, tawa, doa, hutang pikiran, revisi, dan sesekali keinginan untuk menyerah.

Orang hanya melihat hasil akhirnya.

S.Pd., M.Pd.

Dua gelar.

Beberapa huruf.

Satu foto.

Satu lembar ijazah.

Selesai.

Padahal bagi Syarif, perjalanan itu dimulai jauh sebelum ia kembali menjadi mahasiswa pada 2024.

Ia lahir di Desa Tumpiling, tumbuh sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, pernah mondok, menjadi mahasiswa, aktivis, pemimpin organisasi, bekerja di dunia media, mengajar, bekerja di pemerintahan, menjadi suami, menjadi ayah, lalu kembali menjadi mahasiswa.

Ia pernah memimpin organisasi mahasiswa.

Pernah memimpin lembaga.

Pernah mengurus orang lain.

Tetapi ketika kembali menjadi mahasiswa S2, ia menemukan satu kenyataan:

Memimpin orang lain kadang lebih mudah daripada memimpin diri sendiri untuk tetap membuka laptop ketika tesis belum selesai.

“Besok kita kerjakan,” katanya kepada dirinya sendiri.

Besok datang.

Laptop dibuka.

Tesis dilihat.

Kemudian ia berkata lagi:

“Besok betulan.”

Begitulah.

Tesis punya kemampuan aneh.

Ia bisa membuat seseorang merasa sangat pintar pada pagi hari dan merasa tidak tahu apa-apa pada malam hari.

ORANG-ORANG YANG NAMANYA TIDAK SELALU TERTULIS

Dalam perjalanan itu, Syarif tidak sendiri.

Ada seorang perempuan yang selalu menjadi tempat pulang. Ia memanggilnya dengan panggilan sederhana: Mamanya Alifah.

Ada seorang anak perempuan yang menjadi sumber semangatnya.

Ada pula seorang perempuan dari keluarga yang selalu memberikan bantuan ketika dibutuhkan. Dalam novel ini, kita sebut saja Bilkis.

Ada seorang sahabat yang pandai berdiplomasi. Kita sebut saja Taufan.

Dan ada seorang teman seperjuangan yang memiliki hati lapang. Kita sebut saja Walli Akademis.

Nama-nama asli mereka sengaja disamarkan.

Bukan karena jasa mereka kecil.

Justru karena jasa mereka terlalu besar untuk sekadar menjadi nama dalam sebuah tulisan.

Sebab ada orang-orang yang tidak perlu disebut namanya untuk membuat kita mengingat kebaikannya.

HARI JUMAT DAN DUA RATUS RIBU

Hari itu Jumat.

Batas pembayaran semester sudah di depan mata.

Syarif duduk dengan pikiran yang tidak karuan.

Tangannya memegang telepon.

Nama seseorang yang paling ia percaya muncul di layar.

Bapak.

Jarinya sempat bergerak hendak menekan tombol panggilan.

Berhenti.

Ditekan lagi.

Berhenti lagi.

“Kalau saya cerita, pasti Bapak bantu,” gumamnya.

Ia tahu itu.

Tetapi entah kenapa, saat itu ia merasa sangat berat meminta.

Ada perasaan seorang anak yang tidak ingin lagi membebani orang tua.

Ada rasa malu.

Ada ego.

Ada gengsi.

Dan ada satu suara kecil di dalam hati:

“Masa sudah sebesar ini masih minta uang sama Bapak?”

Syarif meletakkan telepon.

“Sudahlah.”

Belum lama kemudian, sebuah pesan masuk.

Dari Walli Akademis.

“Saudara, saya kirim sedikit. Mudah-mudahan bisa membantu”.

Dua ratus ribu rupiah.

Syarif terdiam.

Dua ratus ribu.

Bagi sebagian orang mungkin bukan angka besar.

Tetapi pagi itu, dua ratus ribu terasa seperti sebuah pelukan.

Ia memandang layar telepon cukup lama.

“Terima kasih, Saudara.”

Walli Akademis menjawab singkat.

“Pakai saja. Semoga membantu.”

Syarif tersenyum.

Tetapi beberapa menit kemudian ia kembali termenung.

“Dua ratus ribu ini tidak cukup untuk membayar UKT.”

Ia menarik napas.

Kemudian muncul pikiran yang mungkin bagi orang lain aneh.

“Kalau uang ini saya sedekahkan saja?”

Ia tertawa kecil.

“Daripada saya simpan, tapi tetap tidak cukup.”

Begitulah manusia.

Kadang ketika sedang susah, logikanya berjalan ke mana-mana.

Akhirnya ia menghubungi seorang teman di Mamuju.

“Saudara…”

“Iye?”

“Punya uang?”

Di ujung telepon terdengar suara yang jujur.

“Saudara, saya juga lagi kekurangan.”

Syarif diam sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Berarti kita sama-sama miskin.”

Temannya ikut tertawa.

“Iye, kurang lebih begitu.”

Syarif berkata,

“Kalau begitu kirim rekeningmu.”

“Untuk apa?”

“Sudah, kirim saja.”

Nomor rekening dikirim.

Syarif kemudian mentransfer uang dua ratus ribu dari Fadil.

Bukan karena ia tidak membutuhkan.

Tetapi saat itu ia merasa ada orang lain yang mungkin lebih membutuhkan.

Setelah transfer berhasil, ia meletakkan telepon.

Hatinya terasa aneh.

Kosong.

Tetapi sekaligus ringan.

SUBUH MUNAJAT

Subuh tiba.

Syarif bangun.

Mengambil sikat gigi.

Menggosok gigi seperti biasa.

Kemudian berwudu.

Setelah salat, ia duduk membaca beberapa surah yang dahulu diajarkan ustaz ketika masih mondok.

Perlahan hatinya tenang.

Ia tidak lagi memikirkan UKT.

Tidak lagi memikirkan uang dua ratus ribu.

Tidak lagi memikirkan bagaimana membayar.

Ia hanya berkata dalam hati:

“Ya Allah, kalau melanjutkan S2 ini baik untukku, mudahkan. Kalau ini jalan yang Engkau ridai, bukakan jalan yang tidak pernah terpikir olehku”.

Selesai mengaji, ia tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia merasa tidak takut.

Bukan karena masalahnya selesai.

Tetapi karena ia merasa sudah menyerahkannya kepada Allah.

Bersambung…..

KANTOR YANG HAMPIR HILANG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *