Polewali Mandar, Potretnusantara.co.id – Saat sebagian besar pelajar berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor atau angkutan darat, belasan pelajar SMAN 2 Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, justru memulai perjalanan mereka dengan menyeberangi sungai menggunakan perahu. Jalur air itu telah lama menjadi akses paling dekat yang mereka tempuh setiap hari demi bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah, Kamis (30/7/2026).
Perahu yang mereka gunakan merupakan satu-satunya alat transportasi dengan jarak tempuh paling dekat menuju sekolah. Selain dimanfaatkan para pelajar, masyarakat dari dua kecamatan, yakni Mapilli dan Campalagian, khususnya Desa Rumpa dan Desa Katumbangan, juga menjadikan jalur air tersebut sebagai akses menuju desa lain untuk menjalankan berbagai aktivitas, mulai dari ke kebun, sawah, hingga ke Pasar Tradisional Wonomulyo.
Perahu telah lama menjadi pilihan belasan pelajar SMAN 2 Campalagian sebagai alat transportasi paling dekat menuju sekolah. Meski masih tersedia akses darat melalui Jembatan Mapilli, jalur tersebut dinilai memerlukan waktu tempuh lebih lama dibandingkan menggunakan perahu.
Salah seorang siswa SMAN 2 Campalagian, Firmansah, mengatakan setiap hari ia bersama teman-temannya menggunakan perahu sebagai akses menuju sekolah karena menjadi jalur dengan jarak tempuh paling dekat. Menurutnya, menggunakan perahu jauh lebih cepat dibandingkan melewati akses darat.

“Setiap hari ka sama teman-temanku naik perahu ke sekolah,” tuturnya.
Firmansah mengatakan biaya penyeberangan perahu ditanggung langsung oleh pihak sekolah. Menurutnya, kebijakan tersebut meringankan beban para siswa karena uang jajan mereka tidak lagi digunakan untuk membayar ongkos penyeberangan.
“Na tanggung sekolah biaya menyebrangnya, Rp5.000 per hari,” ujarnya.
Pemilik perahu yang akrab disapa Papa Tuti mengatakan perahu miliknya menjadi satu-satunya akses terdekat yang menghubungkan Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, dengan Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli.
“Nandiangmo laengna’ mala naola masyarakat maupun passikolah mua tania mallambang lopi,” ujarnya.

(Terjemahan: Sudah tidak ada jalan lain yang bisa dilalui masyarakat maupun para pelajar kalau bukan menyeberang menggunakan perahu.)
Ia mengatakan sebenarnya masih ada akses lain, yakni melalui Jalan Poros Jembatan Mapilli. Namun, menurutnya, masyarakat lebih memilih menggunakan jalur air karena jaraknya lebih dekat dibandingkan harus memutar melewati jembatan.
“Adaji tapi lewat Jembatan Mapilli, namun jaraknya jauh. Diang bai tapi karambo ihh,” katanya kepada wartawan Potretnusantara.co.id saat dimintai keterangan.
Diketahui, lokasi penyeberangan tersebut berada di Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang menghubungkan Desa Rumpa dengan Desa Katumbangan. Selain memanfaatkan resapan air Sungai Maloso sebagai sumber air bersih, sebagian warga di kawasan itu juga menggantungkan mata pencaharian sebagai penyedia jasa penyeberangan menggunakan perahu.














