Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar kini resmi memulai aktivitas akademik di kampus barunya yang berlokasi di Desa Ugi Baru, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar. Setelah sebelumnya aktivitas akademiknya diĀ Desa Campurjo, Kecamatan Wonomulyo, perpindahan kampus ini menandai babak baru dalam pengembangan perguruan tinggi tersebut.
Beberapa hari setelah peresmian gedung kampus, Senin (13/7/2026) lalu, suasana akademik mulai terasa hidup. Meski pembangunan kawasan kampus belum rampung sepenuhnya, ruang-ruang kuliah yang telah tersedia sudah mampu mengakomodasi seluruh mahasiswa yang terdaftar.
Semangat perkuliahan tampak mewarnai hari-hari pertama di kampus baru. Tawa dan canda mahasiswa memenuhi lingkungan kampus. Di sudut lain, sekelompok mahasiswa memilih menyambut suasana baru dengan cara berbeda. Mereka menggelar Lapak Baca yang dirangkaikan dengan diskusi buku, menghadirkan ruang literasi yang menjadi warna tersendiri di tengah dimulainya aktivitas akademik.
Salah seorang mahasiswa saat dimintai keterangan oleh awak media, Nasrul mengatakan lapak baca ini bukan pertama kali kami lakukan di kampus ITBM Polman namun telah kami adakan beberapa bahkan di area bangunan kampus lama di Kuningan. Lebih lanjut, kata dia lapak baca merupakan upaya untuk tetap merawat budaya membaca yang berangsur-angsur menghilang karena imbas dari kemajuan teknologi yang semakin pesat.
“Sebelumnya kami sering melakukan lapak baca, menyediakan buku untuk dibaca secara gratis. Ini juga menjadi keresahan kami melihat minat baca semakin menurun,” katanya, Senin (20/7/2026).
Menurut dia, sebagai mahasiswa semester awal maupun semester akhir ruang-ruang seperti ini mesti tetap dirawat agar kita (mahasiswa) tidak ketergantungan sepenuhnya pada sistem teknologi yang telah didesain sedemikian rupa oleh kapitalis.
“Transisi peradaban tentu ada apalagi di era teknologi semakin maju, akses informasi semakin dipermudah. Namun dialektika tidak hanya lahir diruang kelas tapi diluar kelaspun dialektika akan lahir juga. Dengan baca buku disertai diskusi bersama itu juga sebagai dialektika yang tidak bisa lagi dibantah,” pungkasnya.
Diketahui, beberapa mahasiswa tersebut tidak hanya mengadakan lapak baca di kampus melainkan sampai pada tempat-tempat umum bahkan di desa-desa. Buku-buku yang dipajangkan yang tak seberapa jumlahnya ini bukan menjadi alasan bagi Nasrul dan kawan-kawannya untuk tetap merawat kebiasaan membaca serta literasi. (ifn)














