Soppeng, Potretnusantara.co.id – Sebanyak 17 naskah lontara kuno yang diwariskan selama tujuh generasi masih tersimpan dan terawat di Kabupaten Soppeng. Koleksi berharga yang menjadi jejak peradaban Bugis itu mendapat perhatian langsung dari Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, SE, saat mengunjungi kediaman Panre Hemma di Cangadi, Kecamatan Liliriaja, Senin (29/6/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Soppeng dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Turut mendampingi Bupati, Budayawan Sulawesi Selatan, Abdi Mahesa, SS., M.Hum., yang selama ini aktif meneliti dan mendokumentasikan naskah-naskah kuno Bugis.
Di rumah Panre Hemma, Bupati melihat langsung koleksi lontara asli yang ditulis di atas daun lontar maupun media kertas. Seluruh naskah tersebut merupakan warisan keluarga yang telah dipelihara secara turun-temurun selama tujuh generasi.
Abdi Mahesa menjelaskan, keberadaan koleksi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Soppeng telah memiliki tradisi literasi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang maju sejak masa lampau.
“Keberadaan naskah kuno ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Soppeng telah memiliki tradisi literasi, pengetahuan, dan kebudayaan yang maju sejak masa lampau,” ujar Abdi Mahesa.
Ia mengungkapkan, koleksi milik Panre Hemma saat ini berjumlah 17 naskah yang memuat berbagai kisah sejarah, sastra, hingga pengetahuan masyarakat Bugis pada zamannya.
Menurutnya, naskah lontara bukan sekadar benda bersejarah, melainkan sumber ilmu pengetahuan yang sangat bernilai bagi penelitian dan pengembangan kebudayaan.
“Karena itu, pelestariannya memerlukan perhatian serius, baik dari aspek penyimpanan, keamanan, maupun perawatan agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Abdi Mahesa juga mengapresiasi kehadiran Bupati Soppeng yang dinilainya sebagai bentuk nyata perhatian pemerintah daerah terhadap pelestarian warisan budaya Bugis.

Sementara itu, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng menyampaikan apresiasi kepada keluarga Panre Hemma yang selama bertahun-tahun tetap menjaga dan merawat naskah lontara tersebut.
“Koleksi ini merupakan aset budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi sekaligus menjadi identitas masyarakat Soppeng,” kata Suwardi.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Soppeng berkomitmen mendukung berbagai upaya pelestarian budaya, termasuk menjaga keberadaan naskah-naskah kuno yang masih tersimpan di tengah masyarakat.
“Warisan budaya seperti lontara harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar nilai-nilai sejarah, kearifan lokal, dan jati diri masyarakat Bugis tetap terpelihara di tengah perkembangan zaman,” tegasnya.
Kunjungan tersebut sekaligus memperkuat upaya pelestarian kekayaan budaya Bugis di Soppeng, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan warisan naskah lontara yang masih terjaga hingga kini.














