Polewali Mandar, Potretnusanatara.co.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) tim “Arung Campalagian” menggelar kegiatan sosialisasi mitigasi bencana di Aula Kantor Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Jumat Malam (3/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WITA ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat mengenai langkah-langkah taktis dan cepat saat menghadapi situasi darurat bencana.
Sosialisasi ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat Desa Katumbangan, mulai dari tokoh pemuda, mahasiswa lokal, hingga orang tua. Dalam pemaparannya, tim KKN-PPM UGM menyampaikan sejumlah materi krusial, di antaranya:
Pedoman siaga dan tanggap bencana.
Prosedur pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dalam situasi darurat. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan mampu memahami dengan jelas tindakan yang harus diambil saat terjadi bencana alam maupun non-alam, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga kecelakaan kerja atau lalu lintas.
Materi yang disampaikan berhasil memicu diskusi interaktif yang dinamis antara warga dan mahasiswa. Salah seorang audiens yang hadir, Alia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini berhasil mengubah pandangannya terhadap konsep tanggap bencana.
“Mengikuti kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang diselenggarakan oleh KKN-PPM UGM Polewali Mandar 2026 (Arung Campalagian) memberikan saya pemahaman bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tim evakuasi itu sendiri, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita setiap individu,” ujar Alia
Alia menambahkan bahwa materi praktis yang diberikan sangat relevan dan membuka mata masyarakat akan pentingnya persiapan mandiri sejak dini.
“Dari materi yang disampaikan, saya menyadari bahwa langkah-langkah sederhana seperti menyiapkan tas siaga sampai mengenali jalur evakuasi agar lebih aman saat gempa, hingga memahami pertolongan pertama dapat memberikan dampak besar dalam mengurangi risiko bencana,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi pendekatan edukasi yang tidak sekadar berfokus pada teori, melainkan pada pembentukan mentalitas siaga.
“Bagi saya kegiatan ini sangat bermanfaat karena tidak hanya menjadi teori, tetapi juga membangun kesadaran kita bahwa bencana bisa datang kapan saja tanpa dapat diprediksi. Selama mengikuti sosialisasi, saya merasa lebih memahami pentingnya tetap tenang, berpikir cepat, dan mengambil tindakan yang tepat saat berada dalam situasi darurat. Harapan saya, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada sosialisasi saja. Dengan begitu, pengetahuan yang diperoleh tidak mudah dilupakan dan masyarakat akan lebih siap, sigap, serta mampu melindungi diri sendiri maupun membantu orang lain ketika bencana benar-benar terjadi,” pungkas Alia.
Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan berjalan dengan aman dan lancar. Antusiasme warga yang tinggi memperlihatkan bahwa materi yang dibawakan sangat relevan dengan kebutuhan riil di lapangan.
Mengingat kondisi geografis dan perubahan ekologis saat ini yang kian memprihatinkan, program edukasi seperti ini dinilai mendesak untuk terus dikembangkan. Ke depan, diharapkan sinergi serupa tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa dan pemuda, tetapi juga mendapatkan dukungan masif dari instansi dan lembaga pemerintah terkait yang membidangi penanggulangan bencana. (**)














