Oleh: Egar Muhammad
(Ketua LMND Palopo)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Dua kali kami turun ke jalan, dua kali pula kekuasaan menunjukkan wajah aslinya. Kami tidak datang membawa ancaman dan Kami tidak datang meminta belas kasihan. Kami hanya ingin menyerahkan “Naskah Akademik” hasil Berpikir, hasil Kajian, hasil Tanggung jawab Intelektual Mahasiswa terhadap kondisi rakyat.
Namun apa yang kami dapat?
Bukan dialog, bukan keterbukaan, melainkan tindakan represif. Kami dihadapkan dengan kebringasan Aparat Satuan Polisi Pamong Praja yang dengan kasar membubarkan aksi, bahkan melakukan tindakan yang merendahkan “martabat mahasiswa”. Tubuh-tubuh Mahasiswa diinjak, suara-suara dibungkam, dan ruang demokrasi dipersempit.
Ini bukan sekadar soal etika pejabat.
Ini adalah watak kekuasaan.
Kekuasaan yang takut pada kritik.
Kekuasaan yang alergi terhadap pengetahuan.
Kekuasaan yang lebih memilih sepatu aparat daripada meja dialog. Kami menegaskan: Bahwa apa yang terjadi hari ini adalah bentuk nyata bagaimana negara, melalui aparatusnya, berdiri berhadapan dengan rakyatnya sendiri.
Mahasiswa bukan musuh.
Naskah Akademik bukan ancaman.
Namun bagi kekuasaan yang rapuh, bahkan kebenaran bisa dianggap berbahaya.
Sikap kami jelas:
“Kami menolak segala bentuk represi terhadap gerakan mahasiswa. Kami menuntut pertanggungjawaban atas tindakan kekerasan Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP)”.
Kami menuntut dibukanya ruang dialog yang setara, terbuka, dan tanpa intimidasi. Jika ruang-ruang formal ditutup, maka jalanan akan menjadi ruang belajar kami. Jika suara dibungkam, maka perlawanan akan menemukan jalannya sendiri. Sebab, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang diam.
Dan kami memilih untuk tidak diam karena pada prinsipnya kekuasaan presiden saja ada batasnya dan kekuasaan serta kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat dan di atas segala-galanya adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
Editor: S PNs













