Oleh: Andi Zulkifli
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Dunia digital hari ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia mendekatkan yang jauh, namun di sisi lain, ia sering kali meretakkan yang dekat. Kita menyaksikan bagaimana kolom komentar di media sosial kerap berubah menjadi medan tempur kata-kata. Polarisasi, cyber-bullying, hingga hilangnya rasa hormat antar sesama pengguna menjadi pemandangan sehari-hari yang merisaukan.
Di tengah hiruk-pikuk algoritma yang cenderung memecah belah, masyarakat Sulawesi Selatan sebenarnya memiliki “kompas moral” yang sangat relevan untuk dibawa ke ruang digital: Sipakatau.
Mengenal Kembali Sipakatau
Secara harfiah, Sipakatau berarti memanusiakan manusia. Ini bukan sekadar konsep etika kuno, melainkan fondasi dasar dalam berinteraksi. Dalam filosofi Bugis-Makassar, Sipakatau menuntut kita untuk memandang setiap orang sebagai subjek yang memiliki martabat, hak, dan perasaan yang sama dengan diri kita sendiri.
Ketika Sipakatau dipadukan dengan Sipakalebbi (saling menghargai) dan Sipakainge (saling mengingatkan), terciptalah segitiga keseimbangan sosial yang kokoh.
Tantangan “Dehumanisasi” Digital
Salah satu pemicu utama polarisasi adalah hilangnya dimensi fisik. Saat berdebat di
kolom komentar, kita sering lupa bahwa di balik akun tersebut adalah manusia nyata.
Tanpa tatap muka, rasa enggan (masiri’) sering kali sirna.
Di sinilah relevansi Sipakatau menjadi krusial. Etika menghargai sesama ini sebenarnya telah lama mendarah daging dalam budaya kita, bahkan dalam hal sedetail tata cara mengundang tamu. Nilai-nilai ini pernah saya ulas secara mendalam dalam konteks
global melalui artikel https://bugismakassareats.com/bugis-makassar-dining-etiquette/
Meredam Polarisasi dengan Kearifan Lokal
Menerapkan Sipakatau di era digital berarti:
1. Validasi Sebelum Reaksi: Posisikan orang lain sebagai manusia yang memiliki
perspektif sendiri.
2. Sipakainge yang Santun: Mengingatkan atau menegur dengan adab,
menghindari call-out culture yang mempermalukan orang di depan umum.
3. Etika sebagai Konten: Bertanggung jawab menyebarkan narasi yang
menyejukkan, bukan yang memicu perpecahan demi viralitas.
Penutup
Teknologi boleh terus berganti, namun kemanusiaan tidak boleh tertinggal di belakang.
Menjadi warga digital yang cerdas bukan hanya soal mahir menggunakan aplikasi, tapi soal bagaimana kita tetap mampu menjadi “manusia” di ruang virtual. Mari kita jadikan jari-jari kita sebagai penyambung silaturahmi, bukan pemutus persaudaraan.
Tentang Penulis: Andi Zulkifli adalah seorang ASN, pengamat budaya lokal, dan blogger
yang aktif mengelola andizulkifli.com.













