Advertorial

Kalindaqdaq Terancam Punah, Budayawan Ajak Generasi Muda Lestarikan Identitas Mandar

×

Kalindaqdaq Terancam Punah, Budayawan Ajak Generasi Muda Lestarikan Identitas Mandar

Sebarkan artikel ini

Majene, Potretnusantara.co.id – Eksistensi Kalindaqdaq, syair atau puisi khas Mandar yang sarat makna filosofis dan nilai kearifan lokal, menjadi sorotan dalam Dialog Kebudayaan yang digelar di STAIN Majene.

Dalam forum tersebut, budayawan Mandar, Zainuddin, menegaskan bahwa Kalindaqdaq merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Mandar yang kini mulai tergerus oleh perkembangan zaman.

“Kalindaqdaq ini bukan sekadar puisi, tetapi cerminan nilai, etika, dan cara berpikir orang Mandar. Sangat disayangkan karena sekarang justru banyak orang Mandar yang tidak lagi mengenalnya,” ujar Zainuddin.

Ia menjelaskan, Kalindaqdaq secara umum terbagi menjadi empat jenis, yang masing-masing memiliki fungsi dan konteks penggunaan berbeda dalam kehidupan masyarakat. Pembagian tersebut mencerminkan kekayaan ekspresi budaya Mandar, mulai dari penyampaian nasihat, sindiran, ungkapan perasaan, hingga penggunaan dalam konteks adat dan pergaulan sosial.

Namun demikian, keberadaan Kalindaqdaq saat ini semakin jarang dikenal, terutama di kalangan generasi muda. Minimnya pemahaman terhadap bahasa Mandar menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tradisi ini kian ditinggalkan.

Dalam diskusi tersebut, peserta diajak untuk kembali mengenal dan menghidupkan Kalindaqdaq sebagai bagian dari warisan budaya yang tidak ternilai. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi, tradisi lisan seperti ini dinilai sangat rentan hilang jika tidak segera didokumentasikan dan diajarkan kembali.

Kekhawatiran akan hilangnya Kalindaqdaq pun menjadi refleksi bersama. Banyak generasi muda yang dinilai mulai menjauh dari akar budayanya dan tidak lagi memahami bentuk maupun makna dari syair khas daerahnya.

Melalui forum tersebut, para narasumber mendorong langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan Kalindaqdaq. Upaya yang diusulkan antara lain memasukkan materi ini ke dalam kurikulum pendidikan, mengemasnya dalam konten digital, serta mengembangkannya sebagai bagian dari industri kreatif berbasis budaya lokal.

Dialog kebudayaan ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda Mandar, agar lebih mengenal, mencintai, dan melestarikan identitas budayanya, termasuk Kalindaqdaq sebagai warisan luhur tanah Mandar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *