LingkunganOpini

Iman dan Krisis Ekologis: Membaca Ulang Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah

×

Iman dan Krisis Ekologis: Membaca Ulang Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mashud Azikin
(Pemerhati Persampahan dan Pegiat Eco Enzim)

Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Krisis ekologis hari ini bukan semata persoalan lingkungan, melainkan juga cerminan dari krisis cara pandang manusia terhadap dirinya dan alam. Banjir yang berulang, sampah yang menggunung, udara yang kian sesak, hingga laut yang tercemar semuanya tidak lahir dari ruang kosong. Ia adalah akumulasi dari pilihan-pilihan hidup manusia yang kerap memisahkan antara iman dan tanggung jawab ekologis.

Di titik inilah, iman perlu dibaca ulang, tidak hanya sebagai keyakinan yang bersemayam dalam ruang privat, tetapi sebagai kesadaran yang menuntun tindakan di ruang publik, termasuk dalam memperlakukan bumi. Sebab dalam Islam, hubungan manusia dengan Tuhan tidak pernah terpisah dari hubungannya dengan sesama makhluk dan alam semesta.

Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh pemegang amanah di muka bumi. Allah berfirman:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. Al-Baqarah: 30).

Sebuah mandat yang mengandung dua sisi sekaligus: kehormatan dan tanggung jawab. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit manusia yang lebih sering bertindak sebagai penguasa daripada penjaga, sebagai pemakai daripada perawat.

Akibatnya, keseimbangan (mizan) yang menjadi fondasi penciptaan alam perlahan terganggu. Allah menegaskan:
“Dan Dia telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan), agar kamu tidak merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8).

Apa yang hari ini kita sebut sebagai krisis ekologis sejatinya adalah refleksi dari krisis moral dan spiritual.
Al-Qur’an bahkan telah memberi peringatan yang sangat jelas:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini seperti cermin yang memantulkan realitas hari ini—bahwa kerusakan lingkungan bukan takdir, melainkan akibat dari ulah manusia sendiri.

Potret ini menemukan relevansinya secara nyata di Kota Makassar. Kota pesisir yang tumbuh pesat ini menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Volume sampah yang terus meningkat tidak selalu diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat. Tempat pembuangan sementara kerap meluap, drainase tersumbat, dan pada musim hujan, sampah menjadi salah satu faktor yang memperparah genangan di berbagai titik kota.

Masalahnya bukan semata pada kapasitas angkut atau infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran kolektif. Kita masih menemukan sampah dibuang sembarangan, pemilahan yang belum menjadi kebiasaan, serta pola konsumsi yang cenderung menghasilkan limbah berlebih. Di sinilah krisis ekologis bertemu dengan krisis kesadaran dan keduanya saling menguatkan.

Padahal, Islam telah memberi panduan yang sangat jelas tentang etika hidup yang bersih dan seimbang. Allah berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Budaya konsumsi berlebihan inilah yang menjadi salah satu akar persoalan sampah modern. Di tengah tantangan tersebut, Pemerintah Kota Makassar sejatinya tidak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan: penguatan armada pengangkutan, pembenahan sistem pengelolaan di TPA, hingga pengembangan program 3R (reduce, reuse, recycle). Bank sampah mulai diperluas, edukasi lingkungan digencarkan, dan kolaborasi dengan komunitas terus dibangun.

Namun, harus diakui bahwa upaya struktural tidak akan pernah cukup tanpa kesadaran kultural. Infrastruktur dapat dibangun, regulasi dapat ditegakkan, tetapi perubahan sejati hanya lahir dari kesadaran individu. Di sinilah iman memainkan peran penting.
Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga bumi bukan pilihan, melainkan kewajiban moral yang melekat pada setiap manusia.

Di sinilah pentingnya membaca ulang iman sebagai kesadaran yang membumi. Mengurangi sampah, memilah limbah, dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai bukan sekadar tindakan teknis, tetapi bagian dari amal shalih. Setiap upaya kecil untuk menjaga lingkungan adalah bentuk nyata dari tanggung jawab sebagai khalifah.

Dengan demikian, pengelolaan lingkungan tidak lagi berdiri sebagai aktivitas terpisah dari kehidupan beragama. Ia justru menjadi salah satu manifestasi paling konkret dari iman itu sendiri. Ketika seseorang menjaga kebersihan, merawat alam, dan mengurangi dampak kerusakan, pada saat yang sama ia sedang menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam tindakan nyata.

Pada akhirnya, krisis ekologis termasuk persoalan sampah di Makassar tidak cukup dijawab dengan teknologi semata. Ia menuntut perubahan cara pandang: dari melihat alam sebagai objek menjadi amanah, dari memanfaatkan tanpa batas menjadi merawat dengan kesadaran. Di sinilah iman menemukan relevansinya yang paling nyata: bukan hanya dalam doa yang dipanjatkan, tetapi dalam jejak yang ditinggalkan di bumi.

Membaca ulang peran sebagai khalifah berarti mengembalikan manusia pada kesadaran dasarnya: bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi kehidupan yang lebih luas. Sampah yang dibuang sembarangan, limbah yang dibiarkan mencemari, hingga sikap abai terhadap kebersihan semuanya adalah bentuk kecil dari pengingkaran terhadap amanah besar itu.

Barangkali kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan yang ada. Namun, selalu ada ruang untuk memulai dari rumah, dari lorong-lorong kecil di Makassar, dari kebiasaan harian yang sederhana. Sebab dalam setiap langkah kecil yang menjaga bumi, tersimpan makna besar tentang bagaimana iman bekerja dalam kehidupan nyata.

Pada titik ini, menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan moral dan spiritual. Ia adalah cara kita membuktikan bahwa amanah sebagai khalifah tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir sebagai laku hidup.

Dan mungkin, di tengah kota yang terus berbenah dari persoalan sampahnya, pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan bukanlah seberapa besar upaya pemerintah semata, melainkan: sejauh mana iman kita telah menjelma menjadi tanggung jawab terhadap lingkungan tempat kita hidup Makassar yang kita cintai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *