Makassar, Potretnusantara.co.id – Inisiatif Gerakan Environmental Hygiene di Lapas Kelas I Makassar menghadirkan perspektif baru dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Di tengah citra lapas yang kerap diasosiasikan dengan keterbatasan dan lingkungan kurang sehat, gerakan ini justru menegaskan bahwa lapas dapat menjadi ruang transformasi yang produktif dan berkelanjutan.
Program yang diinisiasi Yayasan Butta Porea Indonesia tersebut tidak hanya menyasar aspek kebersihan lingkungan, tetapi juga menyentuh dimensi pembinaan manusia secara utuh. Pendekatan ini memperkuat pandangan bahwa lembaga pemasyarakatan seharusnya berfungsi sebagai tempat pemulihan, bukan sekadar penghukuman.
Pakar eco enzyme dari Yayasan Butta Porea Indonesia, Mashud Azikin, menegaskan bahwa perubahan paradigma ini menjadi kunci utama keberhasilan pembinaan di dalam lapas.
“Lembaga pemasyarakatan bukan hanya ruang menjalani hukuman, tetapi juga ladang pembinaan tempat manusia dipulihkan, ditumbuhkan, dan dipersiapkan untuk kembali ke masyarakat dengan kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Mashud, Rabu (8/4/2026).
Gerakan Environmental Hygiene sendiri merupakan pengembangan dari program Integrated Urban Farming yang sebelumnya telah berjalan. Jika program terdahulu berfokus pada kemandirian pangan, maka gerakan ini memperluas cakupan ke aspek kesehatan lingkungan berbasis solusi alami.
Salah satu pendekatan utama yang digunakan adalah pemanfaatan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran. Inovasi ini dinilai tidak hanya efektif sebagai bahan sanitasi, tetapi juga menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap limbah.
“Environmental Hygiene yang diusung bukan sekadar slogan, melainkan aksi konkret yang menyentuh akar persoalan kebersihan dan kesehatan lingkungan,” kata Mashud.
Implementasi gerakan ini dilakukan melalui penyemprotan eco enzyme secara rutin di berbagai titik strategis, termasuk drainase, area lembap, hingga kamar hunian warga binaan. Langkah ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kebersihan, tetapi juga menciptakan lingkungan hidup yang lebih layak.
Namun demikian, kekuatan utama program ini terletak pada aspek pemberdayaan. Warga binaan tidak hanya menjadi objek, melainkan subjek aktif dalam proses produksi eco enzyme yang dilakukan di Kebun Asimilasi dan Edukasi.
“Eco enzyme yang digunakan tidak dibeli atau didatangkan dari luar, melainkan diproduksi secara mandiri. Warga binaan dilibatkan untuk belajar mengolah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.
Pendekatan ini mencerminkan transformasi nilai, dari sekadar pengelolaan kebersihan menjadi pembangunan kesadaran ekologis yang berkelanjutan. Dalam konteks yang lebih luas, gerakan ini juga menjadi kritik terhadap cara pandang lama yang menempatkan limbah sebagai sesuatu yang tidak bernilai.
“Limbah bukanlah akhir, melainkan awal dari manfaat baru. Kebersihan bukan sekadar kewajiban, tetapi budaya yang harus dibangun bersama,” tutur Mashud.
Keberhasilan penerapan eco enzyme di berbagai sektor di Makassar, termasuk lingkungan perkotaan dan industri perhotelan, semakin memperkuat optimisme bahwa program ini dapat memberikan dampak nyata di dalam lapas.
Pada akhirnya, Gerakan Environmental Hygiene di Lapas Kelas I Makassar tidak hanya berbicara tentang kebersihan fisik, tetapi juga tentang perubahan cara pandang. Lapas tidak lagi dilihat sebagai ruang yang kumuh dan tertutup, melainkan sebagai pusat pembelajaran dan pembentukan karakter.
“Gerakan ini adalah simbol harapan, bahwa perubahan selalu mungkin, bahkan di tempat yang paling tidak terduga,” kata Mashud.
Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa dari balik tembok tinggi lapas, dapat lahir praktik-praktik baik yang tidak hanya berdampak bagi warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi bagi lingkungan dan masyarakat luas.










