AgamaPendidikan

SIPACCAPPU: Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan​

×

SIPACCAPPU: Berjuang Hingga Titik Darah Penghabisan​

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Saleh Dosen Bahasa dan Sastra UNM

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Setelah pemerintah melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu, maka hari Jumat ini menjadi medan laga terakhir bagi saudara-saudara kita yang mengikutinya. -Tentu bagi Saudara-saudara kita yang berlebaran hari ini, sedang merayakan kemenangan di medan laga lain yang tak kalah heroiknya-. Di penghujung nafas Ramadan ini, ada satu falsafah Bugis yang patut kita hadirkan secara positif di tengah-tengah rasa lelah: Sipaccappu.
​Dalam tradisi Bugis, Sipaccappu bukan sekadar kata, melainkan sebuah sumpah untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Jika Ramadan adalah sebuah medan pertempuran melawan ego, maka hari ini adalah “palagan terakhir” kita. Jangan biarkan sisa waktu ini menguap dalam hiruk-pikuk persiapan dapur atau kemacetan jalanan. Justru di saat lapar dan haus berada di puncaknya, itulah saat kita harus Sipaccappu di hadapan Sang Pencipta.

Adv

​Waktu Mustajab yang Berhimpit
​Sore ini adalah sebuah “anomali keberkahan”. Bayangkan, begitu banyak kemuliaan yang berkumpul di satu titik waktu: kita berada di hari Jumat yang mulia, di pengujung bulan Ramadan, dalam keadaan berpuasa, apatah lagi jika kita berada di waktu ashar hingga maghrib waktu yang dijanjikan sebagai saat mustajabnya doa. Ditambah lagi dengan rintik hujan yang membasahi bumi sejak semalam hingg subuh tadi, seolah langit pun ikut mendoakan kita. Inilah saatnya kita “mengepung” pintu langit dengan pinta.

​Audit Doa: Di Mana Posisi Kita?
​Namun, dalam Doa Sipaccappu kita sore nanti, mari kita bedah lagi orientasi batin kita. Allah SWT telah membagi kategori hamba-Nya yang berdoa dalam Surah Al-Baqarah: 200-201, ada yang hanya terpaku pada gemerlap dunia, dan ada yang dengan cerdas meminta kebaikan di dunia sekaligus di akhirat (Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah waqina azabannar).
Lalu, bagaimana sikap dan semangat kita terkait terkabulnya doa kita? ​Kita seringkali merasa paling bahagia jika Allah mengabulkan doa persis seperti yang kita minta. Padahal, jika kita selami lebih dalam melalui kacamata iman, itulah level pengabulan yang paling rendah. Mengapa? Karena itu didasarkan pada pengetahuan kita yang terbatas.

Allah memiliki tiga cara indah dalam menjawab Sipaccappu doa kita:
Pertama, ​Ijabah Identik: Allah berikan sesuai permintaan kita. Ini adalah level dasar.
Kedua, jabah Protektif: Allah tidak memberikan yang kita minta, tapi Allah menggantinya dengan menyelamatkan kita dari musibah besar. Mungkin kita meminta harta, tapi Allah justru “membayarnya” dengan menjauhkan kita dari penyakit yang bisa menghabiskan seluruh harta itu.
Ketiga, ​Ijabah Eskatologis (Simpanan Akhirat): Inilah pengabulan tingkat tertinggi, namun ironisnya, inilah yang paling sering kita hindari. Kita sering kecewa saat doa tak kunjung mewujud di dunia, padahal Allah sedang menyimpan “hadiah” itu di tempat yang abadi, di mana tidak ada lagi kehilangan dan kesedihan.

Penutup
​Kawan, sore nanti, saat tubuh mulai lunglai dan kerongkongan mengering, itulah saatnya kita melakukan “serangan pamungkas”. Jangan minta yang rendah jika Allah menawarkan yang tertinggi. Mintalah rida-Nya, mintalah ampunan-Nya, dan mintalah agar kita “disimpan” sebagai hamba yang meraih kemenangan sejati. Mari kita Sipaccappu. Jangan biarkan matahari terbenam sore ini tanpa membawa rekaman sujud dan doa terbaik kita. Karena kita tidak pernah tahu, apakah Ramadan tahun depan masih akan menyisakan ruang bagi nama kita.

Selamat bagi saudara-saudara kita yang telah berlebaran hari ini
Dan selamat sipaccappu bagi saudara-saudara kita yang akan berhari raya id di esok hari Sabtu
Tawabballahu minna wa minkum. Pada laoni mai Topada sipammase-mase

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *