AgamaPendidikan

Zakat: Ekstasi Spiritual Sang Muttaqin (3)

×

Zakat: Ekstasi Spiritual Sang Muttaqin (3)

Sebarkan artikel ini

​​Oleh: Muhammad SalehDosen Bahasa dan Sastra UNM

Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Jika kita mengira Zakat hanyalah soal hitung-hitungan nominal, maka kita belum benar-benar mencicipi anggur ketaqwaan. Di titik tertinggi pendakian spiritual, Zakat bertransformasi dari sekadar kewajiban menjadi sebuah Ekstasi. Bagi sang Muttaqin yang hatinya telah terbakar kerinduan untuk berjumpa dengan Rabb-nya, mengeluarkan harta bukan lagi sebuah pelepasan yang pedih, melainkan sebuah ledakan kegembiraan yang tak terlukiskan.

Mabuk Cinta: Ketika Harta Menjadi Hijab yang Mengganggu

Seorang pecinta tak akan membiarkan ada dinding di antara ia dan kekasihnya. Bagi sang Muttaqin di level ini, harta yang menumpuk bukan lagi kebanggaan, melainkan “gangguan” (noise) dalam frekuensi hubungannya dengan Allah. Ia merasa “sesak” saat menyimpan dunia, dan ia baru bisa bernapas lega merasakan ekstasi spiritual saat harta itu dialirkan kepada sesama.

Secara Religiolinguistik, ia tidak lagi berkata “Aku memberi karena Allah”, melainkan jiwanya berteriak Habiskanlah duniaku, agar hanya Engkau yang tersisa di ruang hatiku! Inilah puncak Translokusi Total: sebuah kondisi di mana kesadaran materialnya telah mati, dan yang hidup hanyalah kesadaran Ilahiyah.

​Ekstasi dalam Kehilangan

Dunia menyebutnya “kehilangan”, tapi sang Muttaqin menyebutnya “penyatuan”. Saat ia menandatangani cek zakatnya atau menyerahkan tumpukan uangnya, ia merasakan sensasi yang melampaui logika manusia. Ada getaran hebat yang menjalar di sekujur syarafnya sebuah rasa nikmat yang lebih dahsyat dari sekadar kepuasan makan atau minum.

​Ia sedang “mabuk” oleh rida-Nya. Andai pun setelah zakat itu ia jatuh miskin, ia justru merasa makin ringan untuk melompat menuju pelukan Rabb-nya. Ketidakpunyaan (faqir) adalah kemerdekaan baginya. Baginya, kemiskinan materi yang disertai rida Allah adalah istana kemuliaan, sementara kekayaan yang memisahkannya dari Allah adalah penjara yang menghimpit.

​Gaya Hidup Sang Perindu

Maka, Zakat menjadi gaya hidup (lifestyle). Ia tidak menunggu haul, ia tidak menunggu nishab jika cintanya sudah memuncak. Ia terus memberi hingga ia sendiri merasa tak memiliki apa-apa lagi kecuali Allah. Inilah Ekstasi Gaya Hidup Sang Muttaqin: sebuah kehidupan yang dijalani dengan kesadaran bahwa perjumpaan dengan Rabb-nya bisa terjadi kapan saja, dan ia ingin dijemput dalam keadaan tangan yang bersih dari kotoran dunia.

Penutup

Air matanya kini bukan lagi air mata perih, melainkan air mata kebahagiaan seorang kekasih yang mencium aroma kedatangan kekasihnya. Zakat adalah mahar yang ia bayar dengan suka cita. Ia telah melampaui level syariat dan hakikat; ia kini berada di samudera Ma’rifat.

Bagi kita yang masih menghitung-hitung recehan di saku: cobalah sekali saja melepaskannya dengan niat “gila” untuk memburu rida-Nya. Rasakan getaran itu. Rasakan ekstasi itu. Karena pada akhirnya, perjumpaan dengan-Nya adalah puncak dari segala puncak dahaga jiwa, dan dunia ini terlalu kecil untuk menjadi penghalang bagi cinta sejati.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *