Oleh: Mashud Azikin
(Pemerhati Tata Kota & Lingkungan)
Opini Publik, Potretnusantara.co.id – Ada banyak cara membayangkan masa depan sebuah kota. Sebagian orang membayangkannya melalui gedung-gedung tinggi, jalan layang yang megah, atau pusat perbelanjaan yang berkilau. Tetapi ada pula cara yang jauh lebih sederhana membayangkannya melalui kebun kecil di halaman rumah.
Bayangkan jika di Makassar tumbuh 10.000 small garden.
Sepuluh ribu kebun kecil yang tersebar di lorong-lorong kota, di halaman rumah warga, di pekarangan sekolah, di halaman masjid, di atap rumah, atau di sudut-sudut tanah yang selama ini dibiarkan kosong. Kebun yang ditanami cabai, tomat, kangkung, bayam, serai, kelor, dan tanaman obat keluarga.
Ia mungkin hanya beberapa meter luasnya. Namun jika jumlahnya mencapai sepuluh ribu, dampaknya tidak lagi kecil.
Ia bisa mengubah cara sebuah kota bertahan hidup.
Gagasan tentang ribuan kebun kecil ini sesungguhnya sejalan dengan arah baru pembangunan Kota Makassar di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin, yang mulai mendorong konsep Urban Farming Terintegrasi sekaligus menargetkan Makassar Bebas Sampah 2029.
Dua agenda ini pada dasarnya berbicara tentang satu hal yang sama: bagaimana kota tidak hanya menjadi tempat konsumsi, tetapi juga ruang produksi kehidupan.
Kota Konsumen
Selama beberapa dekade terakhir, kota-kota besar di Indonesia berkembang sebagai pusat konsumsi. Hampir semua kebutuhan pangan kota berasal dari luar: sayur dari dataran tinggi, beras dari daerah pertanian, buah dari kabupaten lain.
Kota makan dari desa.
Hubungan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Namun ketika seluruh kebutuhan pangan kota bergantung pada rantai distribusi yang panjang, kota menjadi rapuh. Sedikit gangguan pada distribusi bisa membuat harga melonjak. Kita pernah melihatnya berkali-kali cabai tiba-tiba menjadi komoditas yang lebih mahal dari daging.
Kota yang sepenuhnya bergantung pada pasokan luar pada dasarnya adalah kota yang kehilangan sebagian kedaulatannya.
Di sinilah urban farming menjadi penting.
Bukan untuk menggantikan produksi pertanian skala besar, tetapi untuk membangun ketahanan pangan berbasis warga.
Dan dalam konteks Makassar, gagasan ini menemukan bentuk sosialnya melalui sebuah gerakan bernama Tanami Tanata’.
Gerakan yang Dimulai dari Tanah
Gerakan Tanami Tanata’ lahir dari kesadaran sederhana: kota tidak boleh sepenuhnya tercerabut dari tanahnya sendiri.
Di tengah kehidupan urban yang semakin padat, gerakan ini mengajak warga kembali menanam. Menanam di halaman rumah, di pot-pot kecil, di polybag, di rak vertikal, bahkan di lorong-lorong sempit.
Gerakan ini digerakkan oleh berbagai komunitas urban farming di Makassar, dengan salah satu motor sosial yang menonjol adalah Fadli Padi seniman yang selama ini dikenal luas melalui dunia musik, tetapi dalam beberapa tahun terakhir justru aktif menggerakkan isu lingkungan dan pertanian kota.
Di tangan Fadli Padi, urban farming tidak lagi hanya menjadi aktivitas bercocok tanam. Ia berubah menjadi gerakan budaya kota.
Melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, dan kampanye publik, Tanami Tanata’ mengajak masyarakat Makassar melihat kebun bukan sekadar tempat menanam sayur, tetapi ruang untuk membangun kemandirian.
Dari sinilah lahir empat gagasan utama gerakan ini:
Mandiri Pangan. Mandiri Pupuk. Mandiri Pakan. Zero Waste.
Mandiri Pangan dari Halaman Rumah
Bayangkan jika 10.000 rumah di Makassar memiliki kebun kecil.
Setiap hari ribuan keluarga memanen cabai, kangkung, bayam, atau tomat dari halaman rumah mereka. Mungkin tidak banyak, tetapi cukup untuk kebutuhan dapur sehari-hari.
Dampaknya bukan hanya pada penghematan ekonomi rumah tangga. Dampaknya juga pada kesadaran.
Anak-anak yang tumbuh di kota sering kali tidak pernah melihat proses tumbuhnya makanan. Mereka hanya mengenal makanan sebagai barang yang datang dari pasar atau supermarket.
Kebun kecil di rumah mengubah pengalaman itu.
Mereka melihat benih tumbuh. Mereka menyiram tanaman. Mereka belajar bahwa makanan lahir dari proses, dari kesabaran, dan dari kerja merawat kehidupan.
Inilah pendidikan ekologis yang paling sederhana—dan paling kuat.
Mandiri Pupuk dari Sampah Kota
Makassar setiap hari menghasilkan ribuan ton sampah. Sebagian besar adalah sampah organik: sisa sayur, kulit buah, dan limbah dapur.
Jika semua itu berakhir di tempat pembuangan akhir, maka kota ini sebenarnya sedang membuang kesuburannya sendiri.
Gerakan Tanami Tanata’ menawarkan pendekatan berbeda: mengubah sampah menjadi pupuk.
Melalui kompos rumah tangga, eco enzyme, dan pupuk organik cair, sampah dapur dapat kembali ke tanah sebagai nutrisi bagi tanaman.
Jika 10.000 rumah melakukan hal ini, maka Makassar akan memiliki 10.000 pusat pengolahan sampah organik skala keluarga.
Ini bukan hanya solusi lingkungan. Ini juga bagian nyata dari jalan menuju Makassar Bebas Sampah 2029.
Mandiri Pakan dan Ekologi Kota
Urban farming yang terintegrasi tidak berhenti pada tanaman.
Sisa sayur dari dapur dan kebun bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot, yang kemudian menjadi pakan ikan atau unggas.
Sebuah siklus kecil terbentuk:
sampah menjadi maggot, maggot menjadi pakan, pakan menjadi sumber pangan baru.
Ekologi kecil seperti ini mungkin tampak sederhana. Namun jika terjadi di ribuan rumah, ia akan membentuk sistem ekologis kota yang jauh lebih sehat.
Ketika Gerakan Bertemu Kebijakan
Urban farming tidak akan berkembang hanya dengan kebijakan pemerintah. Ia juga tidak akan berkembang hanya dengan gerakan komunitas.
Ia membutuhkan keduanya.
Program Urban Farming Terintegrasi yang didorong Pemerintah Kota Makassar membuka ruang bagi gerakan warga seperti Tanami Tanata’ untuk berkembang lebih luas.
Di sisi lain, gerakan sosial memberi energi dan partisipasi yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh program birokrasi.
Ketika kebijakan dan gerakan bertemu, perubahan kota dapat bergerak lebih cepat.
Kota yang Menanam Masa Depannya
Mungkin ada yang menganggap 10.000 small garden sebagai mimpi yang terlalu sederhana untuk sebuah kota besar.
Tetapi sejarah selalu menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari gagasan yang tampak kecil.
Sepuluh ribu kebun kecil mungkin tidak akan mengubah Makassar dalam semalam. Tetapi ia bisa mengubah cara warga memandang kota mereka.
Kota bukan hanya tempat bekerja.
Bukan hanya tempat berbelanja.
Bukan hanya tempat membuang sampah.
Kota adalah ruang hidup yang bisa ditanam, dirawat, dan dipanen bersama.
Dan jika suatu hari nanti 10.000 kebun benar-benar tumbuh di Makassar, maka kota ini tidak hanya sedang menanam sayur di halaman rumah.
Ia sedang menanam kedaulatan hidup warganya sendiri.












