Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kajian Islam, Potretnusantara.co.id – Dalam momentum ramadhan, kesalehan seorang hamba tidak hanya diukur dari panjangnya sujud, tetapi juga dari kepantasan kata-katanya di tengah pergaulan. Al-Qur’an menyebut standar ini sebagai Qaulan Ma’rufa (QS. Al-Baqarah: 263, An-Nisa: 5 & 8, Al-Ahzab: 32). Dalam perspektif Religiolinguistik, Qaulan Ma’rufa adalah seni berkomunikasi yang selaras dengan nilai-nilai kebaikan universal dan norma-norma kepatutan masyarakat. Ia adalah bahasa yang menyejukkan, tidak janggal, dan menjaga martabat kemanusiaan.
Anatomi Lingual: Antara Teks Suci dan Kearifan Budaya
Secara linguistik, Ma’ruf berasal dari akar kata ‘arafa yang berarti “dikenal”. Sesuatu disebut Ma’ruf jika ia dikenal baik oleh akal sehat (common sense) dan tradisi yang luhur. Religiolinguistik memandang Qaulan Ma’rufa sebagai Bahasa yang Kontekstual. Ia menuntut kita untuk berbicara tidak hanya dengan konten yang benar, tetapi juga dengan cara yang lazim, santun, dan sesuai dengan situasi psikologis lawan bicara. Inilah standar komunikasi yang menghindari kekakuan dan kekasaran.
Memanusiakan Manusia: Solusi bagi Kerentanan Sosial
Al-Qur’an sering menyandingkan Qaulan Ma’rufa dengan situasi yang sensitif, seperti saat berinteraksi dengan anak yatim, orang miskin, atau dalam urusan keluarga. Di sini, religiolinguistik berperan sebagai Filter Empati. Qaulan Ma’rufa mengajarkan bahwa jika kita tidak mampu memberi secara materi, janganlah kita menambah beban mental mereka dengan kata-kata yang kasar. Perkataan yang baik dan pemberian maaf jauh lebih mulia daripada sedekah yang diiringi dengan ucapan yang menyakitkan (QS. Al-Baqarah: 263).
Membangun Masyarakat Berperadaban (Civil Society)
Masyarakat yang bertaqwa adalah masyarakat yang memiliki tingkat Literasi Kesantunan yang tinggi. Dalam era digital yang penuh dengan komentar tajam dan sarkasme, Qaulan Ma’rufa hadir sebagai penawar. Ia mengajak kita untuk kembali pada diksi-diksi yang membangun, bukan meruntuhkan; yang mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. Alumni madrasah Ramadan harus menjadi pionir dalam menghidupkan kembali “Bahasa Ma’ruf” di ruang publik guna merajut kembali tenun kebangsaan yang mungkin sempat terkoyak.
Penutup
Qaulan Ma’rufa adalah bukti bahwa Islam sangat menghargai rasa dan tradisi baik manusia. Ia mengingatkan kita bahwa beragama itu harus “luwes”, bukan berarti kompromi pada prinsip, tapi bijak dalam berekspresi. Mari kita jadikan lisan kita sebagai sumber kesejukan, agar kehadiran kita di tengah masyarakat selalu dinanti karena keindahan kata-kata yang kita sampaikan.
ربّ اغفرلي












